Bupati dan DPRK Aceh Tengah Serius Lahirkan Qanun Himne Kute Takengon

Bupati dan DPRK Aceh Tengah Serius Lahirkan Qanun Himne Kute Takengon
Sidang paripurna peringatan hari jadi Kute Takengon di DPRK setempat. | Foto: KBA.ONE, Karmiadi

KBA.ONE, Takengon – Peringatan hari jadi Kute (Kota) Takengon ke-444, sidang paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Tengah kental dengan nuansa Gayo, mulai dari mengenakan baju bermotif Kerawang sekaligus rangkaian acara menggunakan bahasa Gayo.

Para undangan yang hadir dalam acara tersebut tetap mematuhi protokol kesehatan dengan menggunakan masker, menjaga jarak, dan dilakukan pengecekan suhu dengan thermogan oleh petugas kesehatan sebelum masuk kedalam ruangan.

Ketua DPRK Aceh Tengah, Arwin Mega, Rabu 17 Februari 2021, mengatakan kegiatan yang dibungkus dengan nuansa Gayo itu adalah salah satu cara menyelamatkan kearifan lokal yang dimiliki kabupaten berhawa sejuk itu.

Termasuk, pihaknya akan membuat qanun sehari berbahasa Gayo setiap hari Kamis di lingkungan pemerintahan maupun sekolah, berbarengan dengan penggunaan baju kerawang Gayo di hari yang sama.

“Siapapun yang ada di Aceh Tengah adalah orang Gayo, kami akan qanun kan sehari berbahasa Gayo yaitu setiap hari Kamis serta mengenakan kerawang Gayo sebagai wujud nyata pelestarian kearifan lokal,” kata Arwin.

Selain itu, pihak legislatif akan meneruskan qanun himne Kute Takengon yang baru. Qanun itu telah dikumandangkan dalam hari jadi Kute Takengon, bahkan sebelumnya turut dilantunkan dalam kegiatan yang sama.

“Tawar sedenge tetap digunakan pada hari-hari besar, himne ini juga akan di qanunkan,” terang Arwin Mega menyebut slogan itu merupakan wujud semangat dari Kabupaten Aceh Tengah menyongsong perubahan.

Dalam himne itu disebutkan, Aceh Tengah memiliki kekayaan alam yang megah, dikelilingi pegunungan yang hijau dan hamparan danau nan elok, alam yang sejuk tanah yang subur punya kopi dan palawija tumbuh subur.

Adat dan budaya cerminan agama dan syariat Islam, bangga dengan kemandirian demi massa depan Kota Takengon.

“Ini adalah kekayaan masyarakat Aceh Tengah, semua potensi ada dalam himne ini. Mudah-mudahan semua yang tertuang dalam himne ini dapat terwujud dan kesejahteraan berpihak kepada masyarakat,” ungkap Arwin Mega, berharap hari jadi Kute Takengon momentum untuk kerja nyata membangun negeri penghasil Kopi itu.

Bupati Aceh Tengah, Shabela Abubakar juga mengaku serius membuat rancangan qanun himne Kute Takengon itu. “Ini keseriusan kita, himne Kute Takengon, selain itu, bahasa Gayo, baju Kerawang Gayo dan Tawar Sedenge, untuk himne kita akan koreksi lagi,” imbuhnya.

Shabela menilai, tahun ini hari jadi Kute Takengon ada yang hilang lantaran Covid-19, peringatan digelar hanya sederhana, penyampaian pertangungjawaban bupati kepada rakyat secara adat, sidang paripurna dan malam resepsi.

“Ada yang hilang tahun ini, nanti malam ada sedikit resepsi, ini pun dihadiri terbatas, tapi, di DPRK saya lihat ada perubahan yang luar biasa, keseragaman seluruh anggota dewan, ini perubahannya tahun ini,” tutur Shabela.

Untuk diketahui, peringatan hari jadi kute Takengon ke-444 (1577-2021) mengangkat tema "kita tingkatkan pelayanan prima serta pelestarian adat istiadat dan lingkungan hidup menuju masyarakat Aceh Tengah adil dan sejahtera". | KARMIADI, Kontributor Aceh Tengah

Komentar

Loading...