Busana Bangkok Membalut Dara Aceh

Oleh ,
Busana Bangkok Membalut Dara Aceh
Novida Humaira dan deretan busana produk Bangkok yang dijual di butiknya, di kawasan Beurawe, Banda Aceh. Foto: Indah Lestari.

Bisnis pakaian impor asal Bangkok, Thailand, mulai menjalar di Banda Aceh. Diminati karena harga miring dan bahan berkualitas.

KBA.ONE - Bangkok adalah salah satu destinasi wisata terkemuka di dunia. Ibu Kota Thailand ini bersaing dengan Kuala Lumpur, Singapura dan Hongkong di sisi ekonomi. Tak mengherankan jika Bangkok juga menjadi destinasi popular bagi warga Indonesia.

Namun kini, Bangkok tak hanya mengundang para wisatawan. Produk pakaian dari kota ini juga membanjiri pasar-pasar pakaian di Indonesia. Salah satunya di Banda Aceh. Hingga saat ini, sejumlah pedagang barang dagangan, langsung dari Bangkok.

“Tentu jelas berbeda pakaian dari Indonesia dan Bangkok. Kalau dilihat dari segi model, produk Indonesia itu kebanyakan untuk masyarakat berhijab. Sedangkan barang-barang Bangkok lebih bebas dan beragam,” kata Novayanti, Ahad, 11 Juni 2017.

Novayanti, 28 tahun, adalah seorang pemilik butik yang buka di Jalan Sri Ratu Saifatuddin, Banda Aceh. Nova yang selalu tampil modis dan trendi memamerkan pakaian jadi di toko kecil yang didesain minimalis. Menjual barang-barang asal Bangkok mulai dilakukannya pada 2014.

Tak hanya pakaian, Nova--demikian dia dipanggil--melengkapi koleksi di butiknya dengan tas, jam tangan dan aksesori wanita lainnya. Harga baju yang dijual juga bervariasi, mulai dari Rp 80 ribu hingga Rp 300 ribu. Dalam setahun, Nova memiliki omzet sebesar Rp 900 juta.

Langkah yang sama juga dilakukan oleh Novida Humaira, pemilik NH Shop. Dara bertubuh langsing ini mulai berbisnis dari SMA. Dan kini, saat memasuki tahap akhir pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala, Uci, nama alias Novida, memiliki butik sendiri.

“Saya berbelanja langsung ke Bangkok. Modal awalnya hanya (Rp) 15 juta,” kata Uci. Tak hanya di butik, Uci juga menjajakan dagangan lewat jejaring sosial dan aplikasi bertulis pesan, seperti whatsapp dan blackberry messenger. Barang dagangan ini dijual seharga Rp 100 ribu hingga Rp 350 ribu. “Di sini (Banda Aceh), peminatnya ternyata banyak.”

Dessy Lakhirita juga memilih berbisnis di jalur yang sama. Menurut Dessy, barang impor dari Bangkok dibanderol lebih murah ketimbang barang dengan kualitas sama produk dalam negeri. Dengan demikian, dia dapat menjual barang itu dengan harga lebih baik.

Produk fesyen dari Bangkok juga lebih brended, dan selalu update. Produsen pakaian di sana selalu mengeluarkan model baru di awal tahun. “Bahannya lebih lembut dan nyaman digunakan wanita berhijab. Ini yang membuat pakaian Bangkok lebih laris,” kata Dessy.

Komentar

Loading...