Cara Nova Promosikan Produk IKM Aceh

Oleh ,
Cara Nova Promosikan Produk IKM Aceh
Pelaksana Tugas Gubernur Aceh Nova Iriansyah saat rapat peningkatan kemandirian fiskal Aceh | Humas Pemerintah Aceh

"Semua itu sebagai wujud kepedulian kita bersama untuk kemajuan IKM Aceh sehingga dapat membantu menekan angka pengangguran dan kemiskinan di Aceh."

KBA.ONE, Banda Aceh - Promosi merupakan bentuk dari komunikasi pemasaran untuk memancing konsumen membeli produk. Selain berkomitmen mendukung pengembangan Industri Kecil Menengah atau IKM Aceh, Pelaksana Tugas Gubernur Aceh Nova Iriansyah ikut melakukan "tugas tambahan" yakni promosi.

Nova mengimbau seluruh Kepala Satuan Kerja Perangkat Kerja Aceh atau SKPA menggunakan produk-produk dari IKM Aceh dalam setiap kegiatan. Tak tanggung-tanggung, sebagai bentuk keseriusannya, imbauan disampaikan Nova dalam bentuk surat bernomor 530/1313 yang dikeluarkan pada 25 Januari 2019.

Di dalam imbauan itu, Nova menyebutkan, "Produk-produk tersebut seperti aneka tas, makanan, fesyen, sabun, aroma terapi, dan aneka produk kebutuhan rumah tangga lainnya yang sudah dipasarkan melalui pasar lokal, regional, dan global perlu dukungan saudara serta stakeholder terkait".

Nova berharap penggunaan produk-produk IKM Aceh dimaksimalkan sesuai kebutuhan kegiatan yang dilaksanakan. "Semua itu sebagai wujud kepedulian kita bersama untuk kemajuan IKM Aceh sehingga dapat membantu menekan angka pengangguran dan kemiskinan di Aceh."

Kepala Dinas Kominfo dan Sandi Aceh Marwan Nusuf menyambut baik imbauan tersebut dan langsung menyosialisasikannya kepada para pegawai untuk diterapkan. Selain ditujukan kepada Kepala SKPA, surat imbauan juga ditembuskan kepada Ketua DPR Aceh, bupati dan wali kota di seluruh Aceh, para kakanwil kementerian dan nonkementerian, serta Direktur UKM Center Unsyiah.

Tak hanya SKPA, imbauan tersebut juga disahuti Dyah Erti Idawati, isteri Nova Iriansyah. Saat menghadiri hari ulang tahun Taman Mini Indonesia Indah atau TMII ke 44 pada 19 April lalu, Dyah tampil memukau di hadapan undangan yang memadati Aula Griya Sasana. Penyebabnya, Dyah mengenakan busana serba kuning khas Kabupaten Bireuen yang akrab disebut cempala kuneng.

Alasan Dyah memakai baju cempala kuneng karena pada pagelaran ulang tahun TMII kali ini, Pemerintah Aceh diwakili oleh kontingen kebudayaan dari Bireuen. "Tiap provinsi diwakili oleh satu kabupaten. Kali ini, Bireuen mendapatkan kesempatan untuk menampilkan berbagai atraksi kebudayaan dan kuliner khas Bireuen," ujar Dyah.

Dyah mengatakan ia akan terus memberikan dukungan dan tak bosan mempromosikan berbagai kebudayaan dan kuliner khas Bireuen guna memperkaya khazanah budaya Aceh. Dengan cara ini, kata dia, bisa lebih banyak lagi orang luar yang tertarik datang berwisata ke Aceh. "Selain itu, produk-produk dari Bireuen saat ini sudah bervariasi. Kita juga bisa melakukan ajang promosi lain seperti mempromosikan Industri Kecil dan Menengah agar perekonomian terangkat," ujarnya.

Dyah mengaku ada tawaran kerjasama dari gerai-gerai di Sarinah terkait fesyen dan kerajinan. Para promotor, kata dia, akan membayar tunai fashion dan kerajinan yang masuk ke gerai mereka. "Hal ini perlu disosialisasikan ke daerah-daerah agar menghasilkan produk-produk eksklusif."

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Jamaluddin, dengan banyaknya event seperti itu, Aceh bisa tampil mempromosikan diri dari berbagai sisi. "Dengan begitu, masyarakat Nusantara bisa datang ke Aceh sehingga industri kreatif semakin lebih hidup," ujarnya.

Acara seperti ulang tahun TMII itu memang satu dari banyak event nasional yang bisa digunakan untuk promosi IKM Aceh. Selama ini, Pemerintah Aceh sudah melakukan promosi tidak hanya secara nasional tapi juga internasional.

Dyah Erti dengan busana cempala kuneng bersama kontingen Bireuen | Disbudpar Aceh

Sementara secara lokal ada banyak event di tingkat provinsi maupun kabupaten dan kota. Aceh Expo, misalnya. Ajang di tingkat provinsi ini disiapkan sebagai tempat promosi IKM dan Usaha Mikro Kecil Menengah atau UMKM. Beragam produk unggulan berbasis industri kreatif dari IKM dan UMKM yang ada di Aceh dipajang di sini.

Aceh Expo sendiri salah satu rangkaian kegiatan dalam Pekan Kebudayaan Aceh ke-7 yang diadakan pada 2018 lalu. Nova Iriansyah menilai Aceh Expo sangat penting dilaksanakan untuk mengimplementasikan pengembangan IKM, UMKM serta industri kreatif seluruh Aceh yang selama ini telah diprogramkan dan dilaksanakan. "Kegiatan ini juga menjadi indikator awal untuk pengembangan IKM dan UMKM guna mewujudkan Aceh Hebat dengan pada program Aceh Kreatif dan Aceh Kaya," ujarnya.

Selain itu, kata Nova, Aceh Expo berfungsi sebagai media informasi untuk mendidik masyarakat. "Agar inovasi dan karya kreatif yang ditampilkan mengandung dimensi pengetahuan dan keterampilan yang bermanfaat, dalam pengembangan industri kecil menengah menjadi industri andalan yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat."

Tak hanya itu, Aceh Expo diharapkan dapat membangun persepsi positif dalam upaya menumbuhkankembangkan ide-ide untuk mendorong pengembangan industri kreatif Aceh. Event yang digelar selama 10 hari sejak 4 hingga 13 Agustus 2018 itu ternyata banyak dikunjungi masyarakat. Hal ini menjadi sebuah sinyal bahwa masyarakat Aceh sangat antusias untuk mengetahui produk kreatif terbaru yang dihasilkan oleh produsen lokal maupun non lokal.

Kunjungan yang tinggi tersebut, kata Nova, akan berpengaruh terhadap besaran transaksi yang diharapkan menjadi pemicu gerakan cinta produk lokal dan produk nasional. Tak heran jika dia berharap Aceh Expo berkontribusi positif dan efektif menumbuhkan semangat dan tekad bersama melahirkan inovasi baru, karya besar dan usaha kreatif yang mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi Aceh.

Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah Aceh Helvizar Ibrahim saat membuka Islamic Fashion Festival | Humas Pemerintah Aceh

Selain Aceh Expo, salah satu event lokal untuk promosi adalah Islamic Fashion Festival atau IFF. Festival ini digelar di Taman Bustanussalatin, Banda Aceh, Jumat malam, 19 April 2019.

Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah Aceh Helvizar Ibrahim saat membuka acara menuturkan festival digelar untuk memberi kesempatan kepada desainer lokal melihat tren busana ke depan. Festival itu, kata Helvizar, dapat menjadi wadah memopulerkan tata cara berpakaian muslim yang mengedepankan estetika dan moral.

"Di arena ini, para perancang busana Aceh berkesempatan memamerkan karya kreativitasnya dalam merancang pakaian muslim sesuai karakter lokal. Masyarakat bisa melihat karya itu secara terbuka, bisa pula menilainya, mengkritisinya, bahkan membelinya," ujar Helvizar.

Pemerintah Aceh, tambah Helvizar sangat mendukung kreativitas tersebut dan siap mempromosikannya di tingkat nasional. Busana islami kian diminati oleh berbagai kalangan. Oleh sebab itu, dia meminta desainer Aceh terus mengembangkan karya-karya baru sesuai karakter Aceh yang berdasarkan syariat Islam.

Menurut Kepala Bidang Pemasaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Rahmadani, IFF diselenggarakan oleh Pemerintah Aceh untuk memperkenalkan desainer Aceh dan memperluas jaringan pasar para desainer. "Dengan mempertemukan penjual dan pembeli secara langsung," ujar Ramadhani.

Selain itu, kata Rahmadani, festival tersebut juga ingin memperlihatkan kepada berbagai pihak bahwa dalam hal merancang busana islami, Aceh mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional. "Islamic Fashion Festival 2019 adalah bagian dari wisata halal yang termasuk dalam 100 Calender of Event Aceh." [ADV]

Komentar

Loading...