Celaka-12 Covid-19

Celaka-12 Covid-19
Ilustrasi Ketiadaan Empati. | instagram

Bagaimana kalau corona ini ternyata bisa dilawan dengan nasi kucing dan susu kuda liar?

PENYAKIT, apa pun jenis, bagaimana pun efeknya, adalah bisnis di mata orang yang paham.

Kalau kurapan, ataupun panu, Anda mesti membeli obat yang mampu melenyapkan penyakit gatal ini. Eksim juga demikian.

Naik tingkat sedikit, ada batuk, yang juga perlu obat. Jenis obat batuk banyak. Anda batuk kering atau basah? Tinggal pilih.

Yang perlu dicamkan ketika memilih, Anda punya sesuatu untuk membayar obat-obat itu. Istilah halusnya menebus obat.

Jika Anda memiliki riwayat penyakit tahunan tak kunjung sembuh seperti kolesterol, jantung, dan segala macam, maka pergilah Anda ke Penang, Malaysia. Di sana alatnya diklaim lebih canggih. Penyakit Anda pasti cepat kabur. Konsekuensinya, Anda perlu membayar mahal. Itu tak soal.

Seseorang pernah mengatakan, orang Indonesia akan mengeluarkan berapa pun duit untuk berobat. Tentu, ini berlaku bagi orang-orang yang banyak duit. Bagi yang tidak punya, tak perlu ternganga akan kata sakit itu mahal.

Makanya kesehatan dijaga, ini kata para pakar kesehatan, ahli gizi, dan orang-orang yang ilmunya lebih.

Tapi corona datang menerabas semua. Tak peduli kaya, miskin, yang menjaga kesehatan atau bahkan abai.

Corona hanya takluk pada orang-orang yang imunnya kuat. Tapi ini baru katanya.

Bagaimana kalau ia betul-betul senjata biologis? Bagaimana kalau corona ini ternyata bisa dilawan dengan nasi kucing dan susu kuda liar?

Bagaimana-bagaimana ini akan berbiak bila kita menelusup lebih dalam. Lalu, ujungnya akan tiba pada kodrat penyakit itu sendiri: bisnis.

Obat corona belum ada. Kalau yang diklaim banyak. Tapi klaim itu kan cuma omong kosong belaka semacam kita menonton retorika yang keluar dari mulut Donal Trump.

Karena belum ada obatnya, kita butuh pengakuan dalam bentuk selembar kartu. Agar kita dinyatakan bebas corona. Agar kita bebas bepergian ke mana suka.

Tapi, untuk selembar kartu bebas corona, kita harus mengeluarkan duit lagi. Di RS Zainul Abidin Banda Aceh, warga yang ingin tes swab dibanderol Rp1,5 juta dan rapid test Rp650 ribu.

Di Medan, Sumatera Utara, beda-beda tipis. Bahkan, ada seorang pasien gejala batuk dan demam, di salah satu rumah sakit di Medan, terpaksa kabur karena tak punya duit untuk rapid test.

Ini sejatinya bisnis. Tapi mereka bilang bukan. Siapa mereka? Itu orang-orang yang dulu bilang corona susah masuk ke Indonesia karena urus visanya rumit.

Jadi, kalau sekarang Anda mengikuti tes di tempat tertentu,  lalu setelah itu merogoh kantong, itu berarti Anda sedang bertransaksi. Jika berkenan, tolong simpan struknya. Biar dunia tahu, di Indonesia, pandemi corona sudah "menulari" sektor bisnis. Orang miskin semakin dilindas. Di mana Negara? Celaka dua belas, Covid sembilan belas! ***

Komentar

Loading...