Cerita Dermaga Ala Eropa yang Terendap Digempur Pagebluk Covid-19

Cerita Dermaga Ala Eropa yang Terendap Digempur Pagebluk Covid-19
Dermaga Teluk Suyen Nosar tampak sepi dampak dari pandemi Covid-19. | Foto: KBA.ONE, Karmiadi

Ini memang sebuah tempat yang mengunggah rasa rindu untuk kembali.

KBA.ONE, Takengon – Terletak di tepi Danau Lut Tawar, Takengon, Aceh Tengah, Dermaga Teluk Suyen menumbuhkan nuansa seperti berwisata di Benua Eropa. Orang-orang yang mengunjungi lokasi wisata itu langsung merasakan sensasi kesejukan alam yang segar dan alami.

Tak cuma itu, Dermaga Teluk Suyen juga sempat dijadikan arena spot foto baru yang indah dan mengagumkan. Belum lengkap rasanya jika pengunjung tidak mengabadikan momen saat berada di sana, walaupun hanya sebatas berswafoto. Apalagi mereka yang datang bersama pacar, pasti lokasi ini dijadikan ajang pengungkapan rasa cinta kawula muda yang tengah dimabuk asmara.

Ini memang sebuah tempat yang mengunggah rasa rindu untuk kembali. Selain kuatnya pengaruh keindahan danau seluas 5.472 hektare, panjang 17 km dan lebar 3,2 km,  dermaga yang diresmikan pada Desember 2018 dan menelan biaya hingga hampir Rp500 juta ini juga dipagari barisan bukit-bukit hijau yang menjulang tinggi.

Sebelum PPKM, tampak seorang wanita tidak ingin melewatkan momen berfoto saat mengunjungi Dermaga Teluk Suyen. | Foto: Disparpora.acehtengah.go.id

Di area dermaga, ada tersedia beberapa kursi dan meja untuk bersantai. Maka tak heran jika kemudian konsep ini mengingatkan pengunjung ke satu tempat yang mirip dengan dermaga ala Eropa. Tempat yang asyik dan bikin kangen!

Lalu, dari mulut pintu masuk Dermaga Teluk Suyen, para wisatawan langsung disuguhi pemandangan  hijau perkebunan kopi milik warga  di sana. Bahkan jika beruntung, pengunjung bisa langsung membeli ikan endemik (depik) dari perahu nelayan di seputaran lokasi dermaga. Harganya cukup kompromis berkisar antara Rp60 ribu hingga Rp80 ribu per bambu, beda harga jika sudah diolah oleh warga hanya merogoh kocek antara Rp 80-90 ribu, dijamin pengunjung akan ketagihan.

Selain masakan ikan depik, di sini juga tersedia “asam jing”, makanan khas Gayo dengan citarasa sedikit asam bercampur pedas. Paling cocok buat santapan di siang hari bersama keluarga, teman, sahabat, kerabat, dan orang spesial.

Selain itu, di lokasi dermaga juga bertumpuk kios-kios kecil yang menyediakan racikan kopi Gayo dan makanan ringan untuk mengganjal rasa lapar.

Sayang, kini dermaga itu tak seramai dulu lagi. Pagebluk Covid-19 melumpuhkan lokasi wisata yang paling heboh dan menenangkan itu. Belakangan, tak satupun warga terlihat berkunjung ke tempat itu. Apalagi setelah pemerintah kabupaten (pemkab) Aceh Tengah mengeluarkan surat edaran PPKM level 3.

Surat Edaran yang dikeluarkan Bupati Shabela Abubakar tentang PPKM Berbasis Mikro Level 3 untuk wilayah Kabupaten  Aceh Tengah. | Foto: Ist

Padahal sebelum pandemi, setiap hari ratusan pengunjung dari kalangan muda hingga orang tua datang ke dermaga sekadar melepas lelah dan penat. Jumlah ini bisa menggelembung hingga tiga kali lipat di hari libur atau weekend. Pengunjung dermaga di Desa Bamil Nosar, Kecamatan Bintang, ini bisa menjadi lebih riuh dan ramai.

Kondisi ini sempat dilematis lantaran zonasi Covid-19 di kabupaten berhawa sejuk itu terus berubah-ubah. Aceh Tengah yang sebelumnya sempat berada dalam posisi nyaman zona hijau, mendadak bergerak ke zona merah.

Alasan inilah mengapa kemudian pemerintah setempat mengambil kebijakan untuk menutup sementara waktu, hingga waktu yang belum ditentukan, objek-objek wisata potensial, di antaranya Dermaga Teluk Suyen.

Meski hingga hari ini dermaga itu masih berdiri kokoh, tak terlihat satupun pengunjung datang ke sana dalam  beberapa bulan kebelakang

Di depan pintu masuk tertulis pamflet “Dermaga ini Tutup”. Warga setempat melarang masuk pengunjung yang ingin melepas penat ke objek wisata itu. Mereka patuh mengikuti instruksi pemerintah.

Suasana Dermaga Teluk Suyen ramai pengunjung sebelum masa pandemi Covid-19. | Foto: Ist

Dermaga Teluk Suyen memang sempat sohor di antero dunia maya. Jejaring media sosial faceebook, instagram, telegram, twitter, whatsapp dan lainnya sering meng-up objek wisata  yang jaraknya hanya 100 meter lebih dari jalan raya dan berada di ketinggian permukaan 1.100 meter ini.

Jalan menuju lokasi dermaga juga tak sulit. Jalannya sangat mulus dan nyaman untuk dilintasi  roda dua dan roda empat. Tarif tiket masuk dan ongkos parkir nya tidak begitu mahal, uang masuk hanya diminta Rp 5 ribu untuk dua orang, untuk anak anak pengelola tidak memungut biaya apapun.

Penunjuk arah ke lokasi dermaga juga cukup jelas. Pengunjung tak bakalan tersesat karena ada papan nama bertuliskan Dermaga Teluk Suyen Bamil Nosar yang dibuat oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).

Jika dari pusat Kota Takengon, jarak tempuh dermaga itu sekitar 12 kilometer. Atau butuh waktu sekitar 25 menit menggunakan roda dua dan roda empat. Seandainya masih kesulitan, penggunjung bisa mengaktifkan aplikasi google map. Anda akan dituntun menuju lokasi dermaga.

Salah satu lokasi wisata dan tempat untuk bersantai di tepi Danau Lut Tawar, cocok untuk menghilangkan penat serta menghabiskan waktu bersama orang terdekat dengan ditemani beberapa varian minuman dan makanan yang telah disediakan. Lokasi ini terletak di Kampung Mendale, Kecamatan Kebayakan, tepatnya sebelum sampai ke lokasi Dermaga Teluk Suyen Nosar. | Foto: dok. KBA.ONE 

Ketika KBA.ONE ke lokasi, pengurus dermaga itu tampak tengah berbenah. Mereka mengecat ulang, memperbaiki kayu-kayu yang lapuk dimakan usia dan berjamur saat diterpa hujan. “Nanti, ketika pandemi ini berakhir, pengunjung akan dibuat nyaman,” kata Konadi, salah seorang pengurus Pokdarwis.

Konadi bilang pihaknya tetap mematuhi aturan Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah untuk menutup sementara dermaga itu. “Kita terus berupaya memberikan yang terbaik untuk para pengunjung setelah pandemi ini berakhir. Mohon bersabar,” pinta Konadi.

Terpisah, Reje Kampung (Kepala Desa) Bamil Nosar Afriza Wandi mengatakan, pihaknya belum menerima informasi tetang boleh dibukanya objek wisata di daerah itu, jika Pemkab sudah memberi lampu hijau, secara otomatis mereka akan membuka. “Jika sudah diizinkan, kami akan buka untuk umum, meski secara prosedurnya harus dengan Protokol Kesehatan (Prokes) yang sangat ketat,” pungkas Afriza Wandi.

Selama Dermaga itu dirundung dilema, pengurus saat ini kehilangan omzet, bahkan dari sebahagian pengurus saat ini mencari kegiatan sampingan seperti bekerbun dan kadang mencari kegiatan sampingan lainnya yang dapat memberi pemasukan.

Ketika ingin mengunjungi Dermaga Teluk Suyen, pengunjung lebih dulu dimanjakan dengan keindahan alat Danau Lut Tawar yaitu terdapat barisan bukit-bukit tepat berada di pinggir danau. | Foto: dok. KBA.ONE

“Biasanya seharian mereka bekerja di sini, namun, sementara waktu ini mereka harus kehilangan pekerjaan itu, mau gimana lagi, semua kita harus bersabar,” pungkas Reje berharap pandemi ini segara usai.

Gairah objek wisata itu diupayakan bangkit kembali setelah pagebluk Covid-19 hengkang dari tanah air. Apalagi kini negara dan semua pihak tengah berjuang melawan pandemi ini.  Hanya dengan kesadaran bersama dan disiplin prokes lah yang mampu membuat semua ini berakhir.

Secara menyeluruh, dunia pariwisata di Aceh Tengah dalam keadaan anjlok, tak hanya Dermaga Bamil Nosar, semua objek wisata ditutup sementara waktu, baik milik Pemkab maupun milik pribadi.

Kepala dinas Pariwisata Aceh Tengah Jumadil Enka mengatakan, kondisi saat ini sangat berpengaruh terhadap dunia pariwisata, satu sisi jika tetap dibuka akan berdampak terhadap penularan Covid-19, jika ditutup serapan ekonomi dan serapan tenaga kerja terganggu.

“Serba sulit memang, namun harus ada tindakan. Akibat pandemi saat ini jangankan untuk PAD Daerah, untuk pengelola saja rasanya tidak bisa terbayarkan, mau bagaimana lagi, makanya harus tetap patuhi anjuran Pemerintah supaya semua ini berakhir,” pungkas Jumadil.

Jika ingin mengunjungi Dermaga Teluk Suyen dari arah Hotel Renggali yang saat ini berubah nama menjadi Grand Renggali Hotel, pengunjung bisa melihat keindahan Danau Lut Tawar ditambah dengan beberapa keramba ikan milik masyarakat. Ini rasanya menjadi pelengkap keindahan alamnya ketika diabadikan dalam sebuah momen. | Foto: dok.KBA.ONE

Saat ini pihaknya telah mengeluarkan ketentuan untuk memasuki kawasan objek wisata di Aceh Tengah, salah satunya, pengunjung wajib membuktikan sertifikat Vaksin 1/II atau bukti telah di Swab Antigen dengan hasil Negatif. Menjalankan Prokes dan pengunjung pada setiap objek wisata akan dibatasi hingga 50 persen dari kapasitas objek. 

“Ini sudah disetujui bersama, berbarengan dengan Surat Edaran yang dikeluarkan Bupati Aceh Tengah beberapa waktu lalu, artinya, ini komitmen kita tetap membuka dunia wisata dengan ketentuan-ketentuan yang harus dipatuhi, ini demi kebaikan bersama,” pungkas Jumadil.

Tetap patuhi 5M jika ingin semua ini berakhir, Memakai masker, Menjaga jarak, rajin Mencuci tangan pakai sabun dengan air mengalir, Mengurangi mobilitas dan jauhi kerumunan. Hanya ini cara ampuh memutus penyebaran Covid-19.*** (Adv)

Anara

Komentar

Loading...