Cerita di Balik Masker Cantik Sentuhan Yuni Hajiani

Cerita di Balik Masker Cantik Sentuhan Yuni Hajiani
Yuni Hajiani dan masker buatannya. | Foto: Ist

Bakat menjahit Yuni tumbuh dari garis darah orang tuanya.

KBA.ONE, Banda Aceh - Pandemi Covid-19 tak cuma menyisakan kisah seram dan menakutkan. Di balik itu, corona juga menginspirasi jutaan orang untuk bisa survive dari keterpurukan ekonomi.

Adalah Yuni Hajiani, perempuan kelahiran Kuta Binje, Aceh Timur,  15 Juni 1991, yang mulai mencicipi sisi manis gegara dampak corona itu. 

Berawal dari tekanan ekonomi dan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang memaksa buruh harus berdiam di rumah, Yuni mulai memutar otak bagaimana ia bisa bertahan di tengah gempuran pandemi corona.

Naluri bisnis sarjana ekonomi jebolan Unmuha Banda Aceh ini  pun bangkit karena ekonomi kian sulit. Dia terinspirasi untuk memproduksi dan menjual masker kain.

Setelah dijalani sejak awal Maret 2020, penghasilan penjualan masker itu lumayan. "Ya, mencapai Rp2 jutaan gitu," kisah lulusan DII Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Profesi Indonesia (LP3I) Banda Aceh ini.

Tak heran. Pemilik usaha Chil Mudabhanta (CMB) Shop ini sudah mulai kenal bisnis sejak kuliah di LP3I tahun 2016. Berbagai bisnis digelutinya, mulai berjualan jilbab, ciput hingga kini bisnis masker.

Bagi Yuni, menjamurnya penjual masker tak jadi soal. 'Bukan pesaing, kami menganggapnya lebih  sebagai rekan bisnis. Biar saja. Semakin banyak penjual masker di tengah kondisi sulit begini, berarti masyarakat semakin terbantu," kata perempuan single itu kepada KBA.ONE, Sabtu, 2 Mei 2020. 

Yuni Hajiani. | Foto: instagram.

Yuni yang lulus dengan predikat cumlaude ini mengaku mampu memproduksi sekitar 100 lembar (pcs) masker perhari dengan harga bervariasi.

Ada harga Rp10 ribu/pcs. "Atau jika ambil 1 lusin kita kasih murah yaitu Rp100 ribu," tutur si bungsu dari lima bersaudara ini.

Bakat menjahit Yuni tumbuh dari garis darah orang tuanya yang ahli menjahit. Apalagi keinginan belajarnya begitu kuat.

Dalam bisnis masker kali ini, Yuni ditemani kakak kandungnya, Irfa Hayani, 31 tahun, dibantu para sepupunya. Hasilnya, masker-masker cantik made in Yuni berekspansi hingga ke Jakarta, Medan, Lampung dan daerah lain.

"Harga luar Aceh tetap sama Rp10 ribu/ pcs. Tapi jika pemesanan sampai 100 pcs dijual dengan harga Rp 8 ribu/pcs," imbuh dosen part time di LP3I Banda Aceh ini.

Untuk pengiriman masker ke luar kota antarprovinsi, Yuni menggunakan jasa ekspedisi seperti JNE dan J&T. Sedangkan ke luar kota dalam provinsi menggunakan angkutan L300. "Kalau ke Jakarta paling mahal ongkirnya sekitar Rp33 ribu," ujar Yuni.

Pembuatan masker yang dipasarkan aecara offline dan online ini menggunakan bahan kain katun yang dibeli di Pasar Aceh, Banda Aceh.

"Kalau lagi banyak orderan kita beli katunnya sampai 20 meter, harga permeternya Rp30 ribu, tapi kalau beli 20 meter ke atas dikasih kurang jadi Rp 28 ribu," ungkap Yuni.

Ada hal menarik, menurut Yuni. Sejak dia bisnis masker dari awal Maret, masker yang banyak diminati dan paling laku adalah warna hitam. Mungkin karena warna hitam terlihat lebih elegan dan tidak mencolok, apalagi buat laki-laki.

"Beberapa instansi pemerintahan juga mengambil masker di tempat kita, para anak-anak komunitas, dan juga para relawan, baik itu di Aceh maupun di luar Aceh," ucap Yuni.

Masker ala Yuni juga terdiri dari beragam model. Mulai model tali simpul, model tali karet, model karet telinga hingga model yang bisa menggunakan filter tisu.

Tak cuma itu, katanya, beberapa hari ini juga ada pemesan yang minta dibuatkan model bendera. "Ini hal baru," katanya.

Tempat produksi semua masker itu, kata Chil, sapaan akrab Yuni, dikerjakan di rumah Jalan Blang Beringin, No. 2, Luengbata, Banda Aceh. Sedangkan pemasarannya lebih fokus lewat media sosial, seperti WhatsApp, Instagram, dan Facebook.

Itulah sisi menarik cerita manis di tengah Pandemi Covid-19 dari wanita kreatif, pintar, pekerja keras, baik dan single; Yuni Hajiani. ***

Komentar

Loading...