Cerita di Balik Senyapnya Ruang Ekstraksi Covid–19

Cerita di Balik Senyapnya Ruang Ekstraksi Covid–19
Ilustrasi. | Foto: Liputan6.com

Oleh: Sari Hanum & Salmiaty | Teknisi Litkayasa Mahir di Balai Litbangkes Aceh

Akhir Desember  2019, dunia di kejutkan dengan wabah dari Wuhan, China, yaitu virus corona penyebaran yang begitu cepat menyebabkan banyak negara di dunia terjangkit virus tersebut dan tidak sedikit negara yang memberlakukan lockdown agar penyebaran dan rantai penularannya putus, tidak terkecuali di Indonesia. Seiring berjalannya waktu, kasus pun semakin meningkat dan menyebar, salah satunya Provinsi Aceh

Dan, Maret 2021 ini tepat setahun setelah di tunjuk oleh Menteri Kesehatan RI dalam suratnya tanggal 19 Maret 2020, melalui Badan Litbangkes Jakarta. Maka Balai Litbangkes Aceh mulai melaksanakan tupoksi terkait pemeriksaan spesimen virus corona dengan menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR).

Balai Litbangkes Aceh saat itu adalah satu satunya laboratorium di Aceh yang mendapatkan kepercayaan/wewenang dari pusat untuk melaksanakan tugas tersebut. Adapun laboratorium yang diresmikan langsung oleh gubernur pada tanggal 16 April 2020, dan sehari setelahnya laboratorium mulai mengerjakan spesimen yang datang dari gugus covid yang berasal dari seluruh daerah dari Provinsi Aceh.

Selanjutnya, spesimen akan didata dan diberi kode/label sesuai kode  laboratorium, sehingga mudah ditelusuri jika terjadi troubleshooting. Berbicara  soal specimen, maka tidak terlepas dari tahapan pemeriksaan yang melingkupinya, yaitu pre analitik, analitik, dan post analitik. Sejatinya, spesimen yang dikirim tentunya harus sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) pengiriman dan pengemasan spesimen agar tidak terjadi hal –hal yang dapat merusak vtm/spesimen yang akan diperiksa.

Namun fakta  yang terjadi di lapangan, tidak sedikit yang kami dapati antara identitas di tabung spesimen  dan form yang dikirimkan berbeda, dan itu perlu kami telusuri ke gugus dan asal daerah yang mengirimkan spesimen tersebut. Dan sebelum ada konfirmasi dari pihak gugus, maka kami sepakat untuk tidak mengerjakan karena bisa berdampak kepada hasil di manajemen data yang akan dilaporkan ke gugus nanti nya.

Kembali kepada permasalahan kemasan sampel tadi,  tidak hanya butuh ketelitian untuk dapat menyamakan antara form data dengan identitas yang tertera pada tabung specimen. Namun juga ada ditemukan kasus formnya saja yang dikirim tapi tidak dengan spesimennya, maka itu juga akan di telusuri hingga tuntas begitu juga sebaliknya.

Kemudian, kami juga menjumpai pengemasan spesimen yang tidak sesuai SOP pengiriman specimen, dimana spesimen yang dikirm harus menggunakan coolbox yang sudah diisi icepack, guna menghindari spesimen/cairan vtm rusak. Sehingga ada beberapa kali juga kami temukan spesimen dimasukkan ke dalam coolbox, dan hanya diisi  dengan es batu yang dapat menyebabkan identitas spesimen jadi kabur akibat bocor atau tergenangnya spesimen dan itu sesuatu hal yang sangat fatal.

Dapat dibayangkan, bagaimana ketepatan atau validity dari spesimen dengan identitas yang kabur dan risiko tercampurnya spesimen vtm dengan es yang sudah mencair. Tentu saja spesimen harus dikirim kembali kepada kami, karena yang tersebut di atas tidak dapat dilakukan pemeriksaa.

Selain permasalahan di atas, juga pernah didapati ada yang mengirim dengan menggunakan styrofoam kosong. Kemudian menyangkut tube/tabung, kebanyakan tabung vtm ukuran kecil diisi dengan dacron besar, sehingga ketika kami melakukan pengambilan spesimen di ruang ekstraksi sangat kesulitan mengingat spesimen yang dibutuhkan ada yang sampai 500 µL.

Belum lagi jika pemeriksaan harus diulang dengan menggunakan spesimen sama, solusinya tentu saja harus dikirim ulang karena juga tidak dapat dilakukan pemeriksaan mengingat volume spesimen yang tidak tercukupi, dan pengemasan tabungnya tidak dililit dengan parafilm (sesuai pada pedoman), tapi menggunakan selotip plastik atau hansaplast, sehingga harus menggunakan pisau atau gunting.

Tentunya, hal ini menyulitkan bagi tim kerja dan dapat memperlama waktu proses pengerjaan sampel. Selain itu, pernah juga kami temukan spesimen dimana antara cairan vtm dan dacronnya terpisah, sehingga tidak dapat dilakukan pemeriksaan, akibat dari kesalahan ini spesimen harus dikirim ulang untuk dilakukan pemeriksaan.

Segala kondisi yang telah diutarakan di atas merupakan hal yang dihadapi oleh tim pemeriksa, yang sebelum melakukan pemeriksaan sudah menghabiskan waktu untuk mengenakan hazmat dan segala atribut /APD, yang wajib digunakan ketika memasuki ruang ekstraksi sebagai perisai ikhtiar keselamatan dari paparan covid, yang ketika kita lalai maka bisa jadi kita berpotensi dapat menularkan ke sesama tim laboratorium, rekan kerja, dan tentunya  keluarga tercinta yang sedang menunggu kita di rumah. Demikian cerita dari garda depan laboratorium Covid 19.

Satu hal, pandemi belum jua berakhir, maka terus terapkan disiplin jalankan protokol kesehatan dengan menjaga jarak, menghindari kerumunan dan menggunakan masker karena sejatinya masker ku melindungimu dan masker mu melindungiku.***

Referensi:

1. Kompas.com dengan judul "Rekap Perkembangan Virus Corona Wuhan dari Waktu ke Waktu", https://www.kompas.com/tren/read/2020/01/28/054600665/rekap-perkembangan-virus-corona-wuhan-dari-waktu-ke-waktu?page=all ,Selasa, 26 Januari 2021,16.00 Wib

2. Dinkes.acehprov.go.id/new/read/2020/04/29/371/18 tenaga lab dilatih cara pengambilan spesimen.covid19.html.Selasa, 26 Januari 2021, 16.10 Wib

3. Pikiranrakyat.com/nasional/pr.011254009/update.virus.corona di Indonesia per 11Jan 2021, Selasa, 26 Januari 2021, 16.30 Wib

4. https://dinkes.acehprov.go.id/news.Selasa, 2 Maret 2021.11.30 WIB

5. Catatan/pengalaman pribadi penulis /tim

Komentar

Loading...