Corona, BIN, dan Lockdown

Corona, BIN, dan Lockdown
Ilustrasi Covid 19 | Freepik.com

Di Iran, rakyat diserang kepanikan karena jumlah korban terus bertambah bahkan ada yang belum diidentifikasi mengidap Corona.

Cara menghadapi corona versi pemerintah indonesia adalah santai saja. Tak perlu berlebihan, supaya tak panik.

Kemarin, sebuah kapal pesiar dari Australia berlabuh di Semarang, setelah ditolak di Surabaya oleh Wali Kota Risma. Dari lansiran berita Detik, kapal tersebut tujuannya jepang dan cina. Karena tak diterima di sana, mereka pun masuk Indonesia dan ada celah untuk bersandar. Kenapa ada celah? Karena sekali lagi tak perlu panik berlebih. Wisata lebih penting ketimbang Corona.

Jangan bilang ada Corona karena nanti akan dikata hoax. Polisi telah menyiapkan pentungan, siap menyeret siapa saja yang nakal.

Di Aceh, kita ikut kelewat santai menghadapi Corona. Selain suspect belum ada yang positif, katanya, doa-doa telah banyak kita panjat. Kita yakin, virus tersebut tidak akan merajalela di Bumi Serambi Mekkah ini. Doa-doa kita akan mengebalkan tubuh.

Tapi yang makin menarik adalah analisa dari seorang Deputi Badan Intelijen Negara (BIN) yang menyatakan bahwa penyebaran virus Corona akan mencapai puncak pada Ramadan nanti. Artinya, pada Mei akan terjadi outbreak menurut perhitungan matematis orang BIN, yakni 60 hari sejak penemuan suspect pertama.

Kita boleh percaya boleh tidak pada apa yang dikatakan BIN ini. Kalau pun nanti ucapan itu tak terbukti, Alhamdulillah. Jangan sesekali menyebutnya hoax karena tak mungkin aparat negara sekelas pejabat BIN bicara hoax. Yang rentan hoax itu rakyat, yang selalu gelisah memikirkan tindakan negara.

Selain itu, Indonesia juga belum perlu melakukan lockdown seperti beberapa negara lain yang telah sigap melakukannya. Lockdown itu buat apa, cuma buat susah saja. Biarkan saja hal ini mengalir apa adanya. Ketika lockdown yang ada malah investor kabur. Sebagai negara yang sangat membutuhkan investasi kita tentu tak mau hal itu terjadi. Selain itu, benar kata para politikus pro pemerintah, lockdown yang diinginkan ini berbau politis. Maka, lebih baik menurut mereka virus ini dilawan dengan tetap berpikir dalam kerangka politik.

Di Iran, rakyat diserang kepanikan karena jumlah korban terus bertambah bahkan ada yang belum diidentifikasi mengidap Corona. Rakyat cemas karena tidak tahu pasti jumlah korban dan wilayah terdampak. Sementara negara belum memberlakukan lockdown.

Mungkin Iran bisa begitu, kita tidak akan, yakinlah. Sekali lagi, kita harus tetap santai menyikapi Corona. Jangan ada kepanikan berlebih. Bukan begitu Pak Jokowi?

Komentar

Loading...