Cuaca Ekstrim, Harga Bahan Dapur Meroket

Cuaca Ekstrim, Harga Bahan Dapur Meroket
Salah satu kedai sayuran di Pasar Pusong Kota Lhokseumawe. | Foto: KBA.ONE, Try Vanny

KBA.ONE, Lhokseumawe - Beberapa jenis harga bahan masakan khususnya di pasar tradisional Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara, mulai melonjak naik. Kenaikan ini, diduga akibat maraknya virus corona dan cuaca ekstrim yang melanda beberapa wilayah.

Salah seorang pedagang di Pasar Pusong, Kota Lhokseumawe, Maulana, 26 tahun, mengatakan lonjakan harga terjadi semenjak sepekan yang lalu. Bawang putih merupakan bumbu dapur yang paling tinggi kenaikan harganya, dari awal Rp28 ribu saat ini menjadi Rp48 ribu per kg.

"Setau kami kalau bawang putih memang di impor, jadi saat ini stoknya sedikit sekali, makanya harga naik drastis," ucap proa yang akrab disapa Lana ini, Minggu 9 Februari 2020.

Selain itu beberapa bahan yang ikut naik yaitu bawang merah dari semula Rp40 ribu menjadi Rp48 ribu per kg, kentang Rp10 ribu naik Rp14 ribu per kg, cabai merah Rp32 ribu merangkak naik menjadi Rp40 ribu tiap kg.

"Itu yang kami ambil dari luar daerah, biasanya bawang dari Brebes, dan kentang sama cabe dari Brastagi. Pasokannya semua sedikit, jadi harga naik terus. Kata mereka pengaruh kemarau, jadi buahnya kecil-kecil," jelasnya.

Sementara itu harga pasokan lokal seperti jeruk nipis yang diambil dari Langkahan, Aceh Utara, juga mengalami kenaikan harga. Sepekan yang lalu perkilonya jeruk nipis masih Rp16 ribu, saat ini naik menjadi Rp20 ribu.

"Itu juga karena curah hujan sedikit, jadi buahnya kecil dan airnya sedikit. Sebagian petani malah sampai gagal panen," katanya.

Selain itu, salah seorang pembeli Kaisar, 31 tahun, warga Gampong Alue Liem, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe, menyatakan kewalahan dengan lonjakan harga tersebut. Biasanya, dia bersama istrinya belanja hanya menghabiskan Rp100 ribu untuk membeli ikan dan sayuran. Namun saat ini bisa mencapai Rp150 ribu, untuk memenuhi kebutuhan tiga hari.

"Walau harga naik, kami terpaksa tetap harus beli bahan-bahannya. Memang sudah terbiasa begini, mengeluh juga sama saja, komoditas lokal belum bisa penuhi kebutuhan masyarakat sendiri. Jadi terpaksa ambil barang dari luar," ujarnya. *** 

Komentar

Loading...