Dan Obama Pun Melangkah ke Pendopo

Dan Obama Pun Melangkah ke Pendopo
Raidin Pinim saat berkampanye di Pilkada 2017. Foto: ist.

Masyarakat mengenalnya sebagai sosok yang ramah dan rendah hati. Anak muda yang santun dan cerdas.

KBA.ONE, Aceh Tenggara - Ribuan pendukung Raidin Pinim dan Bukhari memadati jalanan Kutacane, Ibu Kota Aceh Tenggara. Di tepi jalan, warga menyemut. Ini adalah pemandangan saat Raidin-Bukhari mendaftarkan diri sebagai calon Bupati dan Wakil Bupati Aceh Tenggara, akhir September 2016. “Kami tidak memaksa masyarakat untuk datang dan mendukung. Ini adalah pilihan mereka,” kata Raidin saat itu.

Di Aceh Tenggara, Raidin memang populer. Bahkan sempat beredar isu agar pria yang disapa Obama ini tidak usah maju di Pemilihan Kepala Daerah Aceh Tenggara. Dia ditawarkan sejumlah uang yang cukup besar dan jabatan mentereng di Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara. Apalagi Raidin merupakan bekas Kepala Bidang Darat di Dinas perhubungan Komunikasi dan Telekomunikasi Aceh. Namun dia menolak.

Menurut Raidin, ada banyak harapan yang digantungkan ke pundaknya. Hal ini disampaikan masyarakat saat dia pulang. Para politikus juga memandang Raidin sebagai pendulang suara yang cukup besar. Maka, Partai Hanura, PPP, PKB, dan PNA pun menyatakan mendukung Raidin bersama Bukhari, Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Hanura Aceh Tenggara.

Dari kubu yang bersebelahan, Wakil Bupati Aceh Tenggara saat itu, Ali Basrah, memutuskan untuk maju. Dia berpasangan dengan menantu Hasanuddin Beruh, Bupati Aceh Tenggara, Denny Febrian Roza. Mereka didukung partai politik besar, seperti Partai Golkar, PKS, Partai Gerindra, Partai Nasdem, PDIP, PAN, PBB, PA dan Partai Demokrat.

Pendukung Raidin Pinim di Pilkada 2017. Foto: Ist.

Tapi Raidin memang fenomenal. Anak pasangan Sami’an Pinim–Aisyah ini mendapatkan dukungan besar dari masyarakat. Hampir setiap hari, sejak mendeklarasikan diri, posko pasangan ini dipenuhi pendukung. Mereka tidak dibayar. Mereka secara sukarela datang dan membawa makanan dan minuman untuk disantap bersama. Tak ada "ongkos" politik. Hanya kebersamaan pandangan politik.

Kerendahan hati Raidin benar-benar menyentuh hati masyarakat. Dia seperti mengenal seluruh orang. Dia tak ragu menyapa siapa saja. Raidin tetap mampu menjaga hubungan dengan pendukung yang terlibat dalam pilkada sebelumnya, saat melawan Hasanuddin-Ali Basrah, dan kalah. Dalam sebuah kesempatan, Zaini Abdullah, bekas Gubernur Aceh, menyatakan rasa hormat dan salut kepada Raidin. Zaini menyebut Raidin sebagai “anak muda yang santun dan cerdas.”

Raidin lahir di Desa Terutung Payung, 2 Desember 1970. Sejak kelas empat sekolah dasar, dia ditempa oleh kehidupan keras dengan berjualan telur keliling kampung. Pekerjaan ini dilakukan sepulang dari sekolah. Tak jarang, ini dilakukan sampai malam hari, terutama ketika ada permainan atau hiburan di Kutacane.

Ayahnya, Sami’an, bukan tak mampu mencukupi kebutuhan Raidin dan saudara-saudaranya. “Kami selalu diajarkan untuk hidup mandiri dan tidak bergantung pada orang lain,” kata Raidin. Raidin sendiri berhasil melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri. Demikian juga Bukhari Pinim, Bunyamin Pinim dan Ifraddin serta saudara-saudara perempuannya yang kini menggeluti sejumlah profesi penting.

Beberapa jam lagi, "Obama" akan dilantik menjadi orang nomor satu di kampung halamannya. Dia berharap, kepemimpinannya mampu membawa Aceh Tenggara menjadi lebih baik. Salah satu bidang yang ingin dikembangkannya adalah olahraga, terutama sepak bola; olahraga terpopuler di daerah itu. “Untuk jangka panjang, akan dibangun pusat olahraga di atas area seluas 20 hektare,” kata Raidin.

Komentar

Loading...