Desa Curee Baroh; Melihat Dunia Tanpa Jaringan

Desa Curee Baroh; Melihat Dunia Tanpa Jaringan
Ilustrasi | AFP PHOTO / MOHAMMED ABED

Para orang tua resah melihat aktivitas anak-anak mereka yang menghabiskan waktu berjam-jam di warung kopi menggunakan wifi.

KBA.ONE, Bireuen – Ada yang berbeda di Desa Curee Baroh, Kecamatan Simpang Mamplam, Kabupaten Bireuen. Jika biasanya setiap warung kopi berlomba menyediakan fasilitas wifi paling cepat dan gratis untuk menarik para pelanggan, kepala desa di sini justru melarang warganya memasang wifi di warung kopi.

“Dari rumah dia izin mau pergi ngaji, tapi pas dicari orang tuanya ternyata mereka duduk di warung kopi,” kata Helmiadi Mukhtaruddin, Geuchik Curee Baro, kepada KBA.ONE, Jumat 23 November 2018.

Inilah pangkal lahirnya larangan penggunaan internet di warung-warung kopi di desa berpenduduk 280 kk yang sebagian besar dihuni oleh para santri dan santriawati dari dua dayah dan dua wilayah bertetangga. Tujuannya, jelas Helmiadi, agar anak-anak di wilayah tersebut tidak lalai dan menyalahgunakan internet. 

Surat pemberitahuan larangan wifi. | Foto: Ist.

Selain ihwal di atas, imbauan larangan pemasangan dan penggunaan fasilitas  internet itu juga didasari keresahan warga melihat aktivitas anak-anak mereka yang menghabiskan waktu berjam-jam di warung kopi menggunakan wifi.

Helmi menceritakan bahwa di desanya ada enam warung kopi yang memasang wifi dengan jarak cukup berdekatan. Bisa dibayangkan jika setiap saat anak-anak di desa itu yang mayoritas santri dayah duduk berjam-jam menggunakan internet.

Karena itu, kata Helmiadi, pada 13 November 2018, aparatur desa mengeluarkan surat edaran yang diteruskan kepada camat, KUA, Ka. Pospol, dan Pos Ramil Simpang Mamplam. 

Helmiadi Mukhtaruddin, Geuchik Desa Curee Baroh. | Foto: Ist.

 “Surat itu sudah kami tempel di setiap warung kopi. Di dalam surat juga telah ditulis sanksi kalau tidak juga mencabut [fasilitas] wifi maka akan kami proses lewat jalur hukum karena ini merupakan kesepakatan bersama,” tegasnya.

Dengan imbauan dan larangan ini Helmi berharap anak-anak di desanya tidak terkena dampak negatif dari internet, walau menggunakan internet mempunyai dampak positif.

Dalam pengamatan Helmi dan tokoh-tokoh masyarakat serta tokoh agama di desanya, penggunaan internet di Curee Baroh lebih banyak dampak negatif ketimbang positifnya. Apalagi penggunaan internet dilakukan oleh anak-anak yang seharusnya masih membutuhkan bimbingan orang tua.

“Awalnya kita berfikir untuk membatasi, tapi penggunaan wifi tidak akan sanggup dibatasi. Makanya  kami membuat kesepakatan untuk menyuruh semua warung kopi mencabut wifi agar anak-anak bisa fokus belajar dan mengaji,” tutup Helmi. ***

Komentar

Loading...