Piala Konfederasi 2017

Di Balik Pidato Putin dan Aturan Baru FIFA

Di Balik Pidato Putin dan Aturan Baru FIFA
Logo Piala Konfederasi | fifa.com

Putin kemudian terlihat ikut menyaksikan pertandingan bersama Presiden FIFA Gianni Infantino di tribun khusus.

KBA.ONE - Tuan rumah Rusia memetik kemenangan 2-0 pada partai pembukaan Piala Konfederasi 2017 di Stadion Krestovskyi, Sabtu, 17 Juni 2017.

Dua gol Rusia berasal dari gol bunuh diri pemain Selandia Baru pada menit 31 dan aksi Fyodor Smolov pada menit 69. Selandia Baru gagal menggetarkan gawang meskipun sudah menurunkan empat striker secara bergantian, termasuk Shane Smeltz milik Borneo FC.

Rusia tampil mendominasi pertandingan. Tim Beruang Merah menguasai 57 persen permainan dan melepaskan delapan tembakan tepat sasaran dari 18 usaha. Sedangkan Selandia Baru hanya membukukan dua tendangan ke arah gawang dari sepuluh percobaan. Dengan kemenangan ini, Rusia memuncaki klasemen sementara Grup A.

Pelatih Rusia Stanislas Chercheso menilai pemainnya tampil bagus lantaran terlecut kata-kata penyemangat dari Presiden Vladimir Putin saat berpidato pada upacara pembuka.

"Ketika presiden kami muncul untuk memberi pidato, itu membuat kami tergerak dan memberi kami motivasi yang hebat, selain tentunya juga menambah tanggung jawab kami," ujar Cherchesov.

Putin kemudian terlihat ikut menyaksikan pertandingan bersama Presiden FIFA Gianni Infantino di tribun khusus. Putin juga terlihat menikmati gol Rusia yang dilesakkan Smolov.

Putin berbicara saat pembukaan Piala Konfederasi | BND/AP

Ada delapan tim yang dibagi dalam grup di Piala Konfederasi 2017. Turnamen ini digelar sebagai ajang perjumpaan tim terbaik dari setiap benua.

Sesuai tradisi, Piala Konfederasi atau FIFA Confederations Cup digelar setahun sebelum perhelatan Piala Dunia. Turnamen ini digelar pertama kali pada 1992. Tahun ini, sudah memasuki edisi ke-10. Rusia sebagai tuan rumah Piala Dunia mendapat kesempatan menggelarnya.

Awalnya Piala Konfederasi bernama Piala Raja Fahd pada 1992 dan 1995. Pada 1997 FIFA mengambil alih untuk dijadikan turnamen resmi mereka.

Setelah itu FIFA menggelar turnamen ini setiap dua tahun sekali. Namun sejak 2005 diselenggarakan setiap empat tahun sekali agar tidak menguras fisik pemain.

Namun, tahun ini Brazil tidak ikut serta. Juara bertahan yang menjuarai tiga kali Piala Konfederasi sebelumnya (2005, 2009, 2013), gagal lolos karena kalah adu penalti melawan Paraguay pada babak perempat final Copa America 2015.

Juara Piala Asia AFC 2015, Australia, menjadi tim pertama yang lolos dari pelbagai konfederasi, setelah sebelumnya mewakili OFC pada 1997, 2001, dan 2005.

Piala Konfederasi 2017 juga menjadi momentum FIFA melakukan uji coba peraturan baru. FIFA memberikan kewenangan kepada wasit untuk memberikan waktu tambahan pada setiap akhir laga sebagai kompensasi dari waktu yang terbuang untuk selebrasi gol. "Waktu tambahan itu sebagian besar satu menit pada babak pertama dan tiga menit pada babak kedua. Dalam pertandingan di mana terjadi banyak gol, perayaan gol seringkali menghabiskan banyak waktu. Jadi perlu ada tambahan waktu," ujar Kepala Teknik FIFA, Marco van Basten.

Menurutnya, penonton ingin melihat permainan. Hal ini yang membuat FIFA mendorong wasit agar lebih ketat saat menghitung waktu tambahan.

Selain itu, wasit diperbolehkan mengambil tindakan tegas terhadap kiper yang memegang bola lebih dari enam detik. "Kiper bisa memegang bola maksimal selama enam detik. Namum sering kali, kiper memegang bola lebih dari itu. Salah satu insiden terjadi di Piala Dunia U-20, ada kiper yang memegang bola selama 20 detik," ujar Van Basten.

Teknologi video asisten wasit atau VAR juga diterapkan di Piala Konfederasi. Yang menarik, FIFA mengujicobakan pergantian keempat saat laga memasuki tambahan waktu.

Sebelumnya, FIFA telah memberikan kewenangan kepada wasit untuk menghentikan dan menunda pertandingan jika para pengadil lapangan melihat adanya diskriminasi dari suporter saat perhelatan Piala Konfederasi 2017.

Tindakan itu merupakan bagian dari "prosedur tiga langkah" yang digagas FIFA. Prosedur tersebut memperbolehkan pejabat pertandingan untuk menghentikan, menunda, dan kemudian membatalkan pertandingan bila perilaku fans dianggap telah berlebihan.

Peserta Piala Konfederasi 2017

Grup A
Meksiko
Selandia Baru
Portugal
Rusia

Grup B
Jerman
Australia
Kamerun
Chile

Komentar

Loading...