Di Gubuk Tua, Cinta Yusni Berkalang Duka

Di Gubuk Tua, Cinta Yusni Berkalang Duka
Yusni di depan rumahnya. | KBA.ONE: Try Vanny

Cinta Yusni tertambat di hati seorang pria yang kelak mengalami depresi.

KBA.ONE, Aceh Utara – Yusni bukan perempuan biasa. Di usia paruh baya, ibu empat anak ini masih gesit bertarung melawan  dinginnya malam. 

Bau amis menyengat tak menjadi soal bagi dia untuk menuntaskan pekerjaan membersihkan sampah bekas kotoran ikan. 

Inilah pergulatan hidup perempuan 50 tahun asal Gampong Samakurok, Kecamatan Jambo Aye. Baginya, menjadi petugas kebersihan di lokasi penjualan ikan Pasar Inpres Panton Labu, Aceh Utara, adalah kebanggaan dan amanah. Meski, dia bermandi peluh di kala orang lelap dalam tidurnya bersama keluarga.

Yusni tampak begitu menikmati pekerjaan caweu-caweu ini. Karena sejak belia, dia sudah terbiasa bekerja serabutan. "Usia tiga tahun, kedua orang tua saya meninggal. Saya diadopsi seorang pengusaha pabrik padi. Dari sini, saya belajar hidup mandiri," cerita Yusni mengenang kisah lalunya.

Di pabrik itu juga, romantika terbangun. Cinta Yusni tertambat di hati seorang pria yang kelak mengalami depresi. "Kami dijodohkan," katanya.

Muhammad Ben Hasan adalah pria itu, bapak dari empat anak-anak mereka. Usia keduanya terpaut tiga tahun. Muhamnad lebih tua dari Yusni.

Pasangan ini memulai kehidupan di sebuah gubuk reyot berukuran 4x5 meter.  Dinding dan atap rumahnya terbuat dari daun rumbia. Sebagian dari seng yang sudah lapuk.

Rumah itu merupakan belas kasih kerabatnya yang meminta keduanya untuk menempati. Ketika itu mereka masih pengantin baru.

Keseharian Muhammad bekerja menjadi buruh angkut di pasar. Sedangkan Yusni buruh cuci di beberapa rumah tetangganya.

“Setelah anak pertama lahir dan berusia tiga bulan, ayahnya mulai sakit. Syarafnya terganggu,” cerita Yusni kepada KBA.ONE, Senin 11 Mei 2020, di  kediamannya. 

Akibat penyakit itu, Muhammad sering kehilangan kendali. Bawaannya marah-marah bahkan menyerang orang-orang yang berada di sekitarnya.

Dia sempat dirantai dan ditempatkan di belakang rumah selama tiga bulan, kata Yusni. "Saat itu anak kami masih kecil, saya harus menjaga anak sembari bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, juga pengobatan suami,” keluh pemilik suara lembut ini.

Beruntung, setelah dibawa ke RSU Cut Meutia di Kota Lhokseumawe, kondisi Muhammad membaik. Dia waras kembali dan beraktifitas seperti biasa; bekerja menghidupi keluarga kecilnya.

Tapi, ketika usia anak mereka yaitu Siti Nuryana, 26 tahun, Maulidan, 22 tahun, Aklima, 18 tahun, dan sibungsu Yusnaliza, 8 tahun, kondisi Muhammad  kembali memburuk. Saat obat dari rumah sakit habis, dia emosional dan bertindak kasar kepada keluarga dan warga sekitar. 

Muhammad terbaring lemah di rumah. | KBA.ONE: Try Vanny.

“Tapi kalau minum obat dia cuma tidur dan jalan-jalan di sini, tidak mengganggu orang,” ujarnya. Kini, Muhammad terbaring lemah, di bawah kendali obat.

Kerja Serabutan

Keseharian Yusni bekerja sebagai buruh cuci dan setrika di beberapa rumah dengan upah Rp50 ribu per kepala. Ia mengendarai sepeda tua.   Selepas itu, Yusni kembali menjadi buruh upah di sawah milik warga dengan upah Rp40 ribu untuk setengah hari.

Menjelang azan magrib berkumandang, Yusni kembali ke istana kecilnya, menyiapkan makan malam untuk anak dan suami tercinta.

Setelah shalat Isya, Yusni langsung berangkat membersihkan pasar ikan. "Setiap bulan saya terima gaji Rp2,1 juta. Kerjanya terikat, karena setahun hanya libur dua hari saat lebaran,” tutur Yusni.

Dari perjuangan itu, putri sulung Yusni, yaitu Siti Nuryana, meraih gelar Diploma III, di kampus Politeknik Negeri Lhokseumawe, melalui program Bidikmisi di jurusan administasi perkantoran. "Saat ini dia merantau ke Batam, bekerja di sebuah perusahaan ponsel," katanya. 

Sepeda tua kendaraan setia Yusni. | KBA.ONE: Try Vanny.

Sementara Maulidan, putra semata wayangnya, mengikuti jejak sang ayah bekerja sebagai buruh angkut di pasar. Dia  cuma mengenyam pendidikan SD. "Dia berangkat kerja pagi dan pulang siang hari dengan upah Rp50 ribu. Kondisi fisiknya lemah, dia tidak mampu bekerja setiap hari di pasar," cerita Yusni.

Sedangkan Aklima, anak ketiganya, bekerja di pabrik padi setelah lulus SMA. "Lepaslah untuk mereka, sesekali untuk jajan si bungsu," kata Yusni.

Anak-anak Yusni sangat memahami kondisi ibunya yang menjadi tulang punggung keluarga selama tiga tahun terakhir. Bahkan, keempat anak-anaknya tidak rewel. 

“Mertua saya dulu buruh cuci juga, mungkin anak-anak sudah ngerti kondisi kami. Jadi tidak minta macam-macam,” katanya sembari tersenyum.

Yusni mengaku tidak pernah meminta bantuan apapun pada pemerintah. Dia hanya rutin menerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) dari desanya.

Ada keinginan Yusni untuk memperbaiki rumahnya yang hanya memiliki dua kamar berukuran 2x1 meter persegi itu. Mereka juga tidak memiliki dapur dan kamar mandi khusus. Jika hendak buang hajat, biasanya menumpang di sumur milik tetangga. 

Dapur memasak di belakang rumah Yusni. | KBA.ONE: Try Vanny.

Dapurnya juga hanya sebuah halaman di bagian belakang rumah. Dia memasak dengan tungku berbahan kayu bakar. 

“Rumahnya milik kami, tapi tanah ini milik salah seorang warga yang mengizinkan untuk dipakai. Sebenarnya ingin tinggal di tempat yang layak, tapi mau bagaimana untuk berobat dan makan sehari-hari saja kami masih kesulitan,” ucapnya pilu.

Yusni dan keluarga kecilnya hidup sangat sederhana. Makan seadanya, bahkan ia sering mencari sayur-sayuran gratis di seputaran rumahnya. Lauk ikan dan telur dari bantuan desa. "Sangat jarang anak-anak makan  ayam dan daging di hari biasa. Paling kalau meugang, atau Maulid Nabi," ungkap Yusni sembari tersenyum malu.

Yusnaliza, putri bungsunya, sempat bercerita saat sekolah hanya jajan Rp1.000,- dari sang kakak atau ibunya. Dia tidak pernah menuntut meski teman sekelasnya bisa jajan Rp5.000,- setiap harinya.

“Mamak gak ada uang, jadi jajan adek cuma seribu,” curahan hati Yusnaliza, sembari senyum ramah di gubuk tua itu. ***



Komentar

Loading...