Di Kelenteng Berusia Ratusan Tahun, Inilah Kisah Pengabdian Aling di Masa Senjanya

Di Kelenteng Berusia Ratusan Tahun, Inilah Kisah Pengabdian Aling di Masa Senjanya
Aling. | Foto: KBA.ONE, Ghandi.

KBA.ONE, Medan - Kawasan Jalan Sunggal Medan sudah menjadi pemukiman warga Tionghoa sejak lama. Dari mulai pedagang pasar, hingga perumahan yang ada di Jalan Sunggal, mayoritas dihuni oleh etnis Tionghoa. Di sana terdapat pula sebuah sekolah yang didirikan oleh salah satu tokoh Tionghoa Medan, yaitu Sofyan Tan, pada 1987. Sekolah itu diberi nama Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda.

Jauh sebelum itu, keberadaan etnis Tionghoa juga ditandai dengan adanya beberapa kelenteng di daerah tersebut. Salah satu yang tertua adalah Kelenteng Pak TIe Hut Cou, di Jalan Sunggal, persis di sebelah SD Brigjend Katamso Medan. Seperti kelenteng dan wihara pada umumnya, dinding rumah ibadah ini didominasi warna merah. Berbagai rupa Dewa pun digambar di sana. 

Tradisi bakaran di Klenteng Pak TIe Hut Cou. | Foto: KBA.ONE, Ghandi.

Dari pintu samping kelenteng, tampak seorang wanita Tionghoa sedang membersihkan jendela kelenteng. Mengetahui kedatangan KBA.ONE, wanita paruh baya itupun mempersilahkan masuk dengan sambutan yang cukup hangat. 

"Maaf ya berantakan, ya maklumlah mau Imlek," kata wanita itu sambil tertawa. Dia adalah Aling, warga asli Jalan Sunggal, sehari-hari dirinya menghabiskan waktu di Kelenteng Pak Tie Hut Cou. 

"Kelenteng ini setau saya paling tua ya di Sunggal, gak tau pasti berapa usianya, umur saya 60 tahun, Kelenteng ini udah ada jauh sebelum saya lahir," kata Aling.

"Dulu ada di sini acek yang ngerti sejarahnya, waktu itu saya diceritakan udah 130-an tahun lebih usia Kelenteng ini, berarti sekarang ya sudah berusia lebih dari 140-an tahun," sambungnya lagi. 

Pengumuman perayaan Imlek di tengah pandemi Covid-19 pada 2021. | Foto: KBA.ONE, Ghandi.

Aling sepertinya sudah terbiasa menghadapi wartawan dan ia terlihat antusias untuk bercerita. Menurut pengakuannya, dia sudah sejak kecil suka bermain di kelenteng, bersama adik dan teman-teman nya.

"Saya sejak dulu tinggal di seberang, jadi dari kecil memang suka main di sini sama adik. Rasanya dari dulu pengen gitu bantu-bantu bersih-bersih di sini. Sekarang udah tua, anak udah nikah semua, barulah merdeka bisa bantu-bantu di sini," ucapnya sambil menunjuk bagian depan kelenteng. 

"Ini nyebutnya kelenteng ya, bukan wihara. Kalau wihara itu ajaran Buddha, mereka itu lebih rapi tempat sembahyangnya, gak banyak bakar kertas, paling cuma dupa aja. Kalau di sini lebih ke tradisi-tradisi," kata Aling.

"Kalau yang tradisi ini mereka masih suka bakar kertas sampe yang besar, semakin besar makin happy mereka. Kita juga gak bisa tekan kan harus meninggalkan tradisi itu, tapi pelan-pelan kita bimbing, kalau yang seperti itu tu pemborosan," sambungnya lagi.

Menurut Aling, di daerah Sunggal kebanyakan masyarakat Tionghoa memang masih mengikuti tradisi di kelenteng. Selain ada ritual bakar kertas, orang-orang yang datang di kelenteng itupun masih mengikuti tradisi meminta keberuntungan kepada Dewa.  "Coba kamu lihat di wihara yang besar itu, yang ada dipimpin biksu, mereka gak kayak di kelenteng, tempat bakaran dupa nya pun harus rapi, harus bersih, kalau di sini terkesan asal-asalan," ungkapnya sambil tertawa.

Aling juga bercerita tentang tradisi imlek di kelenteng itu. Tentunya, kata dia, imlek tahun ini terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Karena Indonesia sedang dilanda pandemi Covid 19. "Biasanya di malam imlek itu rame yang sembahyang, kumpul-kumpul, bakar kembang api, kalau tahun ini gak dibolehin lagi. Ya kita maklum ya, karena lagi covid, jadi dari pihak yayasan kelenteng ini pun udah mengimbau, boleh datang berdoa, tapi gak boleh kumpul-kumpul, siap berdoa langsung pulang," ucap Aling sambil menunjukkan kalender china di mejanya. 

Karena sudah lama tinggal di Sunggal, Aling sangat mengerti tentang seluk beluk Jalan Sunggal, bahkan dirinya mengaku mengenali hampir seluruh warga lama yang ada di sana. Namun saat ini banyak pendatang yang menetap di Sunggal. 

"Dulu ya, hampir semua warga Sunggal ini pun kita kenal, bahkan sampai ke ternak buaya sana kita tau, oh ini anak si ini, tapi kalau sekarang enggak, banyak orang baru di sini." kata Aling. 

Patung kuda dalam tradisi mengantarkan dewa pulang. | Foto: KBA.ONE, Ghandi.

Kepada KBA.ONE, 11 Februari 2021, Aling juga bercerita tentang neneknya yang berasal dari suku Jawa, "Orang tua saya memang asli sini ya, tapi nenek saya orang Jawa. Nama bapak saya itu Tukimin, makanya orang kalau tau nama bapak saya ya gak percaya, tapi ya itu, memang aslinya karena nenek saya Jawa, kakek yang Tionghoa," ucap Aling.

Aling mengurus kelenteng secara sukarela, tanpa dibayar sedikitpun. Ia mengaku senang dapat membantu di klenteng itu. Sesekali dia mengunjungi anak-anaknya di Jakarta, namun jika ada waktu luang, Aling kembali ke Sunggal untuk mengurusi kelenteng.

"Kalau orang yang kerja di sini dibayar yayasan ya, kalau saya enggak, memang sukarela di sini. Ya karena memang senang aja ya mengurusi ini semua. Selain karena dari kecil kayak yang saya ceritakan tadi, dalam ajaran Buddha juga diajarkan apa yang kamu tanam itulah yang akan kamu tuai ," tutup Aling. ***

Komentar

Loading...