Diduga Gelapkan DP Rumah Kredit Rp55 Juta Milik Wartawan, Polisi Tahan Pelaku

Diduga Gelapkan DP Rumah Kredit Rp55 Juta Milik Wartawan, Polisi Tahan Pelaku
Saksi korban penipuan, Reza Gunawan menunjukan surat keterangan lapor dan surat saksi yang akan diserahkan kepada pihak kepolisian Banda Aceh, Senin 15 November 2021 | Foto : ist

KBA.ONE, Banda Aceh - Satuan Reserse dan Kriminal (Satreskrim) Polresta Banda Aceh menahan tersangka berinisial NH, warga Gampong Keuramat, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh, yang diduga menggelapkan setor Down Payment (DP) rumah kredit dan uang akad kredit sebesar Rp55 juta, milik wartawan Media Aceh Online (Acehonline.co) Reza Gunawan dan istrinya Faradilla Safitri.

Wartawan Acehonline.co, Reza Gunawan, melalui keterangannya, Senin, 15 November 2021, mengatakan pelaku NH dilapor ke polisi karena dia merupakan pihak yang mengurus berkas rumah kredit yang berlokasi di kawasan Lamgapang, Krueng Barona Jaya, Aceh Besar. 

"Informasi yang saya dapat, pelaku sudah ditetapkan tersangka dan ditahan oleh kepolisian Polresta Banda Aceh," kata Reza.

Reza berharap pihak kepolisian selain menetapkan tersangka dan menahan pelaku NH, juga mengungkap dugaan keterlibatan pihak lainnya, yakni oknum petugas bank yang menerima berkas kepengurusan kredit rumah yang diajukan ke salah satu bank syariah nasional di Aceh.

"Semoga tim Satreskrim Polresta Banda Aceh dapat mengungkap dan menetapkan tersangka lainnya dalam kasus ini," ungkap Reza.

Karena, lanjutnya, saat menyerahkan uang DP posisinya berada di bank, setelah berkasnya diterima, ia diminta menyelesaikan uang panjar, sebagai syarat proses verifikasi berkas pengajuan kredit. 

"Petugas bank itu mengatakan jika saya tidak menyerahkan uang DP, maka proses berkas tidak bisa dilakukan. Ini bertolak belakang dengan penjelasan kepala bagian kredit bank itu, yang saya konfirmasi sewaktu saya tahu telah ditipu," tutur Reza

Kepala bagian kredit rumah di bank itu mengatakan proses penyerahan DP dilakukan setelah berkas disetujui pihak bank untuk pengajuan kredit. "Jadi secara tidak langsung oknum petugas bank itu terlibat karena meyakinkan saya untuk menyerahkan uang panjar rumah kredit itu kepada pelaku," tegasnya.

Kronologi Penipuan Rumah Kredit

Reza menceritakan kronologis, awalnya sekitar pertengahan April 2021, CZ yang merupakan marketing penjualan rumah kredit itu, menghubungi dirinya menawarkan rumah kredit yang beralamat di kawasan Lamgapang. 

"Karena melihat foto rumahnya bagus dan dia mengatakan DP-nya bisa dicicil dan iurannya juga tidak terlalu mahal, saya tertarik untuk melihat rumah itu," ungkap Reza menceritakan kronologi kejadian.

Selanjutnya, kata Reza, CZ melaporkan hal itu ke atasannya NH, yang kemudian NH mengirimkan nomor kontak rekannya yang merupakan pemegang kunci rumah untuk melihat langsung kondisi rumah itu ke lokasi.

"Hari itu saya langsung lihat rumahnya ke lokasi. Jadi tidak ada hal yang mencurigakan, karena diperkenankan untuk melihat masuk ke dalam rumah. Kemudian setelah saya cek kondisi rumah dan setuju untuk mengajukan permohonan kredit dan menyiapkan panjarnya Rp10 juta," jelasnya.

Kemudian, lanjut Reza, selang beberapa hari setelah menyiapkan berkas, dia menemui NH untuk menyerahkan berkas kepengurusan rumah kredit tersebut beserta panjar yang diminta NH.

"Di situ dia mengaku tidak memiliki kantor, karena dia mengurus ini secara pribadi, dan rumah yang akan dikreditkan itu juga katanya milik dari kerabatnya yang mendapat jatah rumah atas kepemilikan tanah yang dijual ke developer," ujarnya.

Meski tidak menunjukkan alamat kantor, Reza mengaku percaya kepada pelaku karena menunjukkan kediaman pribadinya di kawasan Kampung Keuramat. Kemudian, dia juga berprofesi sebagai dosen dan pernah mengajar di kampus istrinya mengajar, meski sekarang sudah pindah ke kampus lain.

"Dan yang menawarkan rumah itu juga alumni mahasiswa di kampus istri saya mengajar," tambahnya.

Setelah menerima berkas pengajuan kredit, lanjut Reza, kemudian NH melakukan kepengurusan ke salah satu bank syariah yang berada di kawasan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.

"Janjinya hari itu kami masukin berkas sama-sama ke bank, tapi dia akhirnya pergi sendiri lalu kirim foto berkasnya sudah diterima staf bank bagian kredit dan NH minta sisa DP yang harus saya lunaskan sekitar Rp40 juta lagi," imbuh Reza.

Karena tidak sesuai kesepakatan, Reza meminta di bawa untuk bertemu staf bank. Setelah bertemu staf bank, Reza langsung melunaskan sisa DP Rp40 yang diminta NH dan dibuatkan kwitansi baru dengan nominal Rp50 juta langsung saat itu juga.

"Tapi na'asnya, saya nggak ingat lagi nama oknum staf bagian kredit bank itu, karena kejadiannya bulan empat kemarin (April). Yang jelas hari itu dia mengenakan gantungan ID Card yang menunjukkan dia merupakan staf bank itu," ungkap Reza.

Selang beberapa bulan, lanjut Reza, kepengurusan rumah itu tidak kunjung ada jawaban dari bank maupun NH. Setelah terus diminta penjelasan, akhirnya pada akhir September kemarin NH mengaku berkas kepengurusan kredit rumah sudah disetujui bank.

"Dia menyodorkan surat SP3K (surat penegasan persetujuan pembiayaan kredit) berlogo bank. Di situ tertera iuran per bulan yang nantinya harus saya setor dan jumlah biaya akad yang harus saya bayar," tutur Reza.

Reza kembali menyerahkan Rp5 juta untuk biaya proses akad dan operasional untuk kepengurusan kredit. Seminggu kemudian, NH mengrimkan jadwal akad ke bank yang akan dilaksanakan pada 15 Oktober 2021

"Saat hari H tiba, saya bersama istrinya pergi ke bank untuk melaksanakan proses akad yang telah dijadwalkan. Namun, NH saat itu sudah tidak lagi bisa dihubungi, karena handphonenya telah dimatikan.

Dari penjelasan pihak bank, kata Reza, mereka tidak menerima berkas apapun atas namanya ataupun istri. Malah pihak bank mengatakan bisa jadi yang menerima berkas itu bukan pegawai bank. 

"Pihak bank memastikan saya sudah ditipu karena salinan surat SP3K yang saya tunjukkan tidak sesuai (dipalsukan) dengan model yang dikeluarkan pihak bank, serta tidak ada tertera petugas bank yang ikut menandatangani surat itu," jelas Reza.

Setelah mendapat penjelasan pihak bank, Reza kemudian bergerak menuju rumah NH yang beralamat di kawasan Kampung Keuramat Banda Aceh. Namun, NH yang tidak bisa lagi dihubungi itu juga tidak berada di rumah.

"Suami NH yang saya temui di rumahnya menjelaskan kepada saya persoalan yang dilakukan istrinya, dimana saya bukan korban pertama, ada beberapa orang juga pernah datang ke rumah dia dengan kasus yang sama," sebut Reza.

Karena tidak ada kejelasan pengembalian uang dari pihak keluarga NH, Reza bersama istrinya membuat laporan ke Polresta Banda Aceh atas kasus penipuan.

"Saya berharap meski pelaku sudah ditetapkan tersangka, uang saya itu bisa dikembalikan pelaku, karena uang itu juga merupakan pinjaman yang diberikan abang ipar saya," ujarnya.

Anara

Komentar

Loading...