Dilema Pengemis di Kota Gemilang

Dilema Pengemis di Kota Gemilang
Salah satu pengemis sedang mengumpulkan pundi uang di salah satu lokasi wisata di Kota Banda Aceh. | Foto: KBA.ONE, Ulfah

KBA.ONE, Banda Aceh – Cerita pengemis selalu saja menyisakan problematika sosial menarik di Banda Aceh. Fenomenanya seperti gunung es. Dari kota ini bernama Kuta Raja dipimpin Ali Basyah pada 1957 – 1959 hingga berganti menjadi Banda Aceh dipimpin Wali Kota Aminullah Usman periode 2017 (sekarang), gerombolan pengemis kian “menghinakan” negeri Syariat Islam. “Saya malu menjadi orang Aceh,” kata salah seorang pengunjung kafe di kawasan Simpang Surabaya, Banda Aceh.

Kota Banda Aceh memang dikenal dengan julukan kota seribu warung kopi. Masyarakatnya yang heterogen dan ramah membuat kota ini hidup dan enak ditongkrongi.  Apalagi hampir di setiap pojok kota ada warung kopi tumbuh menjamur. Anda tinggal memilih sesuai selera. Ada kelas warkop yang ramah di saku, ada juga kelas kafe berpendingin ruangan dan wah. Pastinya harganya lumayan sesuai fasilitas dan layanan.

Tanpa disadari, warkop dan kafe yang jumlahnya menumpuk itu, menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan lokal, nusantara, hingga mancanegara. Mereka sering mampir dan betah ngobrol berjam-jam di warkop atau kafe-kafe yang menyuguhkan aneka kopi seduh hingga espresso, ditambah kuliner khas Aceh yang bercitarasa berbeda.

Gepeng ini juga mengemis di salah satu persimpangan lampu merah yang berada di Kota Banda Aceh. | Foto: KBA.ONE, Ulfah

Semaraknya pergerakan bisnis warung kopi itu ternyata dipandang lain oleh kaum gepeng (gelandangan dan pengemis). Bagi mereka, ini adalah “magnet bisnis” yang sangat menguntungkan. Kelompok ini rela bergerombol berdatangan dari luar Kota Banda Aceh. Setiap pagi hingga tengah malam, para gepeng “bergentayangan” menyisir hampir setiap warung kopi hingga kafe-kafe berkelas.

Padahal, kebanyakan dari mereka sudah berkali-kali ditangkap dan dibina oleh dinas sosial, tetapi tetap saja tak jera. Habis dibina mereka beraksi kembali mendatangi pusat-pusat jajanan hingga mengganggu pengunjung di warkop, kafe-kafe, rumah makan, bahkan di persimpangan lampu merah.

Modusnya Bervariasi

Kemunculan pengemis di setiap sudut Kota Banda Aceh ini, modusnya bervariasi dan unik. Ada anak-anak remaja membawa kotak amal bertuliskan bantuan untuk anak yatim, yayasan atau dayah, hingga kakek-kakek yang sudah renta. Bahkan untuk mencari lokasi mengemis pun mereka tak lagi kebingungan, terkadang pengemis dari luar daerah itu lebih faham di mana lokasi keramaian di kota ini.

Salah satunya ialah Bentaransyah. Lelaki renta ini rasanya tak pantas lagi merendahkan diri menjadi pengemis. Mengenakan baju batik, kakek ini berjalan menghampiri satu per satu pengunjung di salah satu lokasi wisata di Kota Banda Aceh, hanya untuk meminta belas kasihan pengunjung. Ia tak malu meski diberi sebatas koin recehan.

Sambil membawa kantong kresek berwarna merah muda, setiap hari ia berjalan dari satu tempat ke tempat lain untuk mengumpulkan pundi-pundi uang. Dalam sehari, pria paruh baya asal Kota Lhokseumawe ini mengaku mampu mengumpulkan uang Rp100-200 ribu.

Komentar

Loading...