Dilema Pengemis di Kota Gemilang

Dilema Pengemis di Kota Gemilang
Salah satu pengemis sedang mengumpulkan pundi uang di salah satu lokasi wisata di Kota Banda Aceh. | Foto: KBA.ONE, Ulfah

Menjadi Profesi

Menanggapi fenomena pengemis ini, Kepala Dinas Sosial Kota Banda Aceh, M Hidayat, mengaku agak kerepotan menangani pengemis di Banda Aceh. “Kalau sudah menjadi profesi kan jadi sulit,” katanya saat dihubungi KBA.ONE.

Hidayat menjelaskan hampir sebagian besar pengemis yang berkeliaran di kota ini berasal dari luar Banda Aceh. Kebanyakan dari mereka lebih memilih mengemis di kafe-kafe dan rumah makan karena dianggap lebih ramai pengunjung.

Kata dia, mereka mengemis karena memang untuk memenuhi kebutuhan hidup, namun terkadang itu juga sudah menjadi profesi.

Di persimpangan lampu merah di Kota Banda Aceh juga terdapat orang-orang yang sedang meminta sumbangan sambil membawa kotak. | Foto: KBA.ONE, Ulfah

Dia mengaku sedikit kesal karena banyak dari para pengemis itu masih memiliki fisik yang semestinya bisa dimanfaatkan untuk bekerja seperti halnya orang normal. "Itu yang kadang kita sesalkan, dan itu pembinaannya agak ketat, agak keras. Itu sekarang banyak yang mungkin sudah beralih ke Aceh Besar," ungkap Hidayat.

Selain melakukan pembinaan, Dinas Sosial Kota Banda Aceh juga memberi bantuan biaya transportasi untuk kembali ke daerah asalnya bagi gepeng dari luar Banda Aceh dan Aceh Besar. Begitu juga, kata Hidayat, apabila pihaknya menemukan anak punk dan pengamen, mereka akan arahkan agar penampilannya lebih bersyariat.

"Kalau memang dia ada keluarganya di Banda Aceh, kita panggil keluarganya. Kita ingatkan juga orang tuanya," ujarnya.

Hidayat mengimbau kepada seluruh masyarakat, jika ingin memberi sumbangan sebaiknya melalui panitia yang ada di gampong saja. "Karena memang di gampong sudah ada Baitul Mal yang mengakomodir seluruh kebutuhan masyarakat miskin dan juga para gepeng ini," katanya.

Gepeng ini mengemis di Kota Banda Aceh mulai dari siang hingga malam hari. | Foto: KBA.ONE, Tasya

Hidayat berharap agar masyarakat dan para pelaku usaha untuk tidak memberikan bantuan dalam bentuk apapun kepada mereka sehingga mengemis tidak menjadi profesi berkelanjutan dan membiasakan mereka meminta-minta. “Para joki juga sebaiknya tidak lagi memanfaatkan kecacatan orang lain sebagai jasa untuk meminta-minta,” tegas Hidayat.

Kini, keberadaan pengemis di Banda Aceh sudah sangat dilematis. Kehadirannya telah menjatuhkan harkat dan martabat orang Aceh. Berkembang atau tidaknya penyakit sosial ini semua tergantung kepada kita dan kesigapan pemerintah mencari solusinya. Pertanyaannya, apakah hari ini Anda sudah mengemis?.  | TASYA, Kontributor Banda Aceh

Komentar

Loading...