Tingkatkan Produksi Kakao

Distanbun Aceh Adakan Germas Pemangkasan Kebun Kakao di Pidie

Distanbun Aceh Adakan Germas Pemangkasan Kebun Kakao di Pidie
Germas pemangkasan kebun kakao di Padang Tijie, Kabupaten Pidie, Kamis 1 April 2021. | Foto: KBA.ONE, Ulfah

KBA.ONE, Pidie - Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh menggelar acara Gerakan Massal (Germas) Pemangkasan Kebun Kakao di Gampong (Desa) Siron Paloh, Kecamatan Padang Tijie, Kabupaten Pidie, Kamis 1 April 2021.

Kepala Distanbun Aceh, Cut Huzaimah, menyampaikan tujuan Germas pemangkasan kebun kakao ini agar tanaman tetap rendah sehingga mempermudah perawatannya, membentuk cabang-cabang produksi yang baru secara bersinambungan (continue) dalam jarak yang cukup. Selain itu, mempermudah masuknya cahaya dan memperlancar sirkulasi udara dalam tajuk, mempermudah pengendalian hama penyakit.

Kemudian, mengurangi terjadinya fluktuasi produksi yang tajam, dan risiko terjadinya kematian tanaman disebabkan pembuahan yang berlebihan, serta mengurangi dampak kekeringan.

Menurut Huzaimah, jika tanaman kakao tidak dipangkas hingga tumbuh dengan begitu tinggi, ini dapat merugikan para petani karena nutrisi yang diserap oleh akar dari tanah disebarkan ke seluruh ranting pohon.

Kepala Distanbun Aceh, Cut Huzaimah. | Foto: KBA.ONE, Ulfah

“Pohon kakao yang terlanjur tinggi dan dirawat dengan baik, buah kakao tidak lagi tumbuh. Dan jika tumbuh tanaman ini di sekitar pohon kakao maka hal ini mengganggu penyerapan nutrisi dari tanah,” jelasnya.

Selain itu, dalam sambutannya, Huzaimah juga menyebutkan berdasarkan data statistikperkebunan Aceh tahun 2019, luas areal perkebunan di Aceh 1,075,665 hektare (ha) dengan produksi 1,134,061 ton.  Terdiri dari perkebunan rakyat 839,960 ha dengan produksi 765,091 ton, produktivitas 1,370 kg/ha dengan menyerap tenaga kerja 831,537 Kepala Keluarga (KK). Selanjutnya, perkebunan besar seluas 235,655 dengan produksi 368,970 ton, “luas perkebunan tersebut dan mampu 682,534 orang/ha/tahun,” sebutnya.

Ketua Forum Kakao Aceh, T. Iskandar, mengatakan persoalan kakao di Pidie saat ini yaitu produktivitas yang masih rendah, sekitar 500 kg/ha/ tahun.

Atas dasar itu, Iskandar berkeinginan supaya pelaksanaan Standar Operasional Prosedur (SOP) GAP (Good Agricultutal Practices) yang bagus, “artinya dapat mengajarkan para petani terutama bagaimana pemupukan dan pemanenan di masa yang tepat,” imbuhnya.

Menurutnya dengan cara itu, kakao di Pidie ini sangat berpotensi jika dikembangkan menjadi 1 ton atau 1.000 kg/ha, “paling tidak meningkat bisa 700,” katanya.

Forum kakao yang tersebar di 10 kabupaten di Aceh, kata Iskandar, supaya kembali ke peningkatan pembinaan petani, artinya membangun petani untuk bisa melakukan kegiatan-kegiatan produktif terhadap kakao dan sesuai dengan moto “ayo rawat kebun”, sehingga dapat meningkatkan hasil per luas kebun.

Petani di Pidie sedang melakukan pemangkasan di kebun kakao berlokasi di Padang Tijie. | Foto: KBA.ONE, Ulfah

Iskandar berharap, dalam pascapanen kakao ada proses fermentasi, yaitu setelah buah dipetik dan dibelah maka ada fermentasi. Sehingga ini akan membuat mutu kakao akan bertambah dan nilainya ikut bertambah. Kemudian saat menjemur, kata dia, jangan menjemur tanpa alas di jalan, “itu enggak boleh, nanti ada batu karena ini makanan. Sehingga rusak nanti citra kampung kita di Pidie,” ungkapya.

Menurutnya, kakao masih memiliki nilai produktif tinggi, karena orang di Eropa, Australia, dan Jepang tidak bisa menanam kakao. Indonesia yang merupakan negara tropis, khususnya di Pidie ini memiliki peluang besar untuk mengekspor kakao. 

“Oleh karena itu saya yakin sebagai Ketua Forum Kakao Aceh suatu saat nanti kakao ini akan naik harganya,” harapnya.

Sementara dalam kesempatan itu, Wakil Bupati Pidie, Fadhlullah TM Daud, meminta kepada Distanbun Aceh untuk mendukung pengembangan kakao di Kabupaten Pidie. Juga tidak lupa untuk membina petani dan keilmuan penyuluh kakao agar dibahani, agar kapasitas memadai. Sehingga ketika datang ke lapangan bisa menjadi motivator bagi para petani.

“Hati kami memang sudah di kakao, kami sangat serius kalau untuk urusan kakao. Karena kami sangat sadar betul, di Pidie itu ada kebun kakao lebih kurang sekita 10 ribu hektare. Kalau kami memang, kami bangga-banggakan kebun kakao walaupun di Pidie baru sebatas kebun kakao,” kata Fadhlullah.

Padahal, kata dia, jika dilihat kakao ini tidak hanya kebunnya saja. Tetapi hingga saat ini, masyarakat Pidie belum bisa menikmati langsung bagaimana nikmatnya cokelat di Kabupaten Pidie. “Kalau kita mau menikmati bagaimana nikmatnya cokelat, harus ke kabupaten tentangga,” ungkapnya.

Germas pemangkasan kebun kakao dilakukan di Padang Tijie, Kabupaten Pidie, Kamis 1 April 2021. | Foto: KBA.ONE, Ulfah

Secara pribadi, Fadhlullah mengaku sangat tertarik dengan kakao, karena memiliki potensi yang sangat luar biasa. Selain itu, ia juga mengungkapkan di balik kenikmatan secangkir kakao, ada keringat petani yang siang malam mengandalkan kehidupan keluarganya di sebatang pohon kakao.

M. Nasir, salah seorang petani kakao di Pidie, mengatakan untuk perawatan atau pemangkasan harus serentak dilakukan, karena tanaman ini intensif. “Kalau enggak lengkap kita rawat, memang enggak seperti yang kita harapkan hasilnya,” katanya.

Kata Nasir, dalam perawatan tumbuhan kakao, setelah pemangkasan maka harus dilakukan pemupukan. Setelah itu, maka akan keluar daun baru dan pembuahan.

Terkait kondisi saat ini, Nasir mengungkapkan sebagian besar di Pidie adalah hutan kakao, sebagian ditelantarkan oleh masyarakat karena produksinya berkurang. Ibaratnya pergi ke kebun kosong, pulang juga kosong.

Untuk mengatasi permasalahan ini, menurut Nasir pihak pemerintah dan lembaga lainnya harus berkesinambungan untuk mendampingi petani. “Intinya masyarakat di Pidie masih semangat untuk membudidayakan kakao. Karena kamipun di Padang Tijie khususnya di Kabupaten Pidie, hutan yang sangat luas masih terbuka lebar untuk usaha perkebunan masyarakat,” tutup Nasir.***

Komentar

Loading...