Distributor Benih Hutan Aceh

Distributor Benih Hutan Aceh
Rangkong Gading. Foto: 1001indonesia.net

Lebih dari 2.000 mahkota burung rangkong disita oleh petugas bea cukai dan penegak hukum di Indonesia dalam 30 bulan dari bulan Maret 2012 sampai Agustus 2017. Semua dikirim ke Cina.

Oleh: Azhar*

Hutan Aceh terdiri dari ribuan jenis tanaman, tanaman tersebut terdiri dari berbagai tingkatan dari tingkatan benih, tiang, pancang hingga pohon. Proses terjadinya hutan memang secara alami; akibat dari peran angin, hujan, iklim dan cahaya matahari sepanjang tahun hingga membentuk kesatuan hutan yang bersambung.

Keajaiban hutan heterogen di Aceh ini terjadi karena hasil kerja keras spesies yang berperan secara sistematis menanam ribuan jenis tanaman di hutan tersebut. Banyak makhluk bekerja siang dan malam menanam ribuan jenis tanaman. Memang tidak secara langsung, sebagaimana manusia berbuat.

Sebagian besar tanaman hutan disesuaikan dengan benih tersebar oleh burung, mamalia dan serangga, dan terkadang reptil dan amfibi mengonsumsi buah hutan, tapi berbeda dalam perilaku mencari makanan, kemampuan untuk menebar benih dan kotoran yang mampu membangunkan benih berkecambah menjadi tanaman dan karenanya ini adalah efektivitas distribusi untuk penyebaran benih ke semua lantai hutan (Wang & Smith, 2002).

Yang paling berperan dalam mendistribusikan dan menyebarkan biji jarak jauh adalah burung rangkong (Bucerotidae). Burung ini merupakan salah satu genus burung yang berperan dalam membantu memperbanyak tanaman melalui penyebaran biji (Poerwati, 1994). Burung rangkong adalah kelompok burung yang berukuran besar, bersifat arboreal (menggunakan bagian tajuk atas pepohonan). Rangkong mengonsumsi setidaknya 93 buah spesies dari 33 famili (15 jenis moraceae spp, 12 jenisLauraceae spp, jenis 11 spp Myristicaceae dan 8 jenis Annonaceae dan Meliaceae).

Ancaman perburuan
Kondisi rangkong terancam akibat perburuan dan perdagangan. Terdapat 10 jenis rangkong di hutan Aceh. Tiga di antaranya adalah rangkong badak (Buceros rhinoceros), rangkong papan (Buceros bicornis), dan rangkong gading (Buceros vigil). Jenis paling diburu adalah rangkong gading. Seperti gajah, burung ini diburu karena mahkotanya untuk penggunaan obat-obat tradisional Cina dan bermacam aksesori, seperti gesper, segel, patung-patung dan cincin.

Aceh yang merupakan lumbung rangkong di Sumatera (EIA 2015). Perdagangan rangkong gading menuju negara Cina dilakukan dala volume luar biasa besar. Diperkirakan ratusan burung dipasok ke Cina dari Kawasan Ekosistem Leuser dan Taman Nasional Gunung Leuser (Bosco Chan in litt. 2015).

Lebih dari 2.000 mahkota burung rangkong disita oleh petugas bea cukai dan penegak hukum di Indonesia dalam 30 bulan dari bulan Maret 2012 sampai Agustus 2014. Efek lainnya dari permintaan mahkota burung rangkong gading adalah berimbas pada pembunuhan jenis-jenis burung rangkong lainnya, ini akibat dari ketidaktahuan pemburu terhadap jenis rangkong.

Jaminan mutu hutan
Sejalan dengan laju pertambahan penduduk, perambahan kawasan hutan untuk dijadikan ladang sangat berdampak pada perubahan keanekaragaman dan kepadatan flora dan fauna, terutama burung. Dan juga perburuan rangkong yang terus terjadi maka perlu dikhawatirkan kualitas hutan di Aceh. Perlu upaya penegakan hukum yang berani dan tegas menindak para penjahat pelaku kejahatan satwa liar ini.

Rangkong sangat tergantung pada hutan yang asli di dataran rendah dan kaki bukit. Burung ini sangat butuh pohon besar di mana rongga bagasi terbentuk proyeksi kayu yang berdekatan tempat bertengger (Thiensongrusamee et al 2005.). Dengan demikian, rangkong dapat menyelesaikan tugasnya sebagai pendistribusi dan penyebar benih.
Penghormatan terhadap peran ini adalah dengan tidak merusak hutan.

Negara harus menegakkan hukum dan menindak tegas pelaku perburuan dan perdagangannya. Rangkong merupakan indikator yang sangat sensitif untuk hutan Aceh. jika burung ini semakin berkurang dan langka maka dapat dipastikan terjadi kerusakan hutan yang luar biasa di hutan Aceh.

*)Penulis adalah pengamat satwa liar menetap di Banda Aceh. Dapat dihubungi di azhar_ou@yahoo.com

Komentar

Loading...