Ditemukan, Gua Jejak Tsunami Aceh 7400 Tahun Lalu

Ditemukan, Gua Jejak Tsunami Aceh 7400 Tahun Lalu
ilustrasi gua | go.huanqiu.com

Di gua tersebut ditemukan endapan-endapan tanah yang berasal dari gelombang tsunami dan kotoran kelelawar yang hidup di gua. | Nazli Ismail, Peneliti Tsunami Aceh.

KBA.ONE, Banda Aceh – Peneliti Tsunami Aceh Nazli Ismail dari lembaga Tsunami dan Disaster Mitigation Research Centre (TDMRC) membeberkan hasil penelitiannya bahwa ditemukan sebuah gua di Aceh Besar sebagai bukti kalau Aceh pernah dilanda tsunami sekitar 7400 tahun yang lalu.

Jejak tsunami ini dibeberkan Nazli Ismail dalam rapat koordinasi pelestarian situs tsunami Gua Ek Lentie di Kantor Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA).

Gua tersebut dikenal dengan nama Ek Lentie  yang artinya kotoran kelelawar, berada di Desa Meunasah Lhok, Kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceh Besar.

Disebutkan Nazli, pihaknya telah melakukan penggalian untuk melihat sejarah tsunami mulai dari 7400 tahun lalu hingga kejadian tahun 2004. “Di gua tersebut ditemukan endapan-endapan tanah yang berasal dari gelombang tsunami dan kotoran kelelawar yang hidup di gua. Karena ada kotoran kelelawar ini, makanya gua tersebut dinamakan Ek Lantie alias kotoran kelelawar,” jelas Nazli, Senin 28 Mei 2018.

Senada dengan itu, Kepala Pelaksana BPBA Teuku Ahmad Dadek mengatakan penemuan gua endapan tsunami di Meunasah Lhok, Kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceh Besar, ini merupakan penemuan penting untuk memperkaya kajian tsunami di Aceh.

Menurutnya, Aceh menjadi tempat paling bagus untuk pembelajaran tsunami dan menjadi laboratorium untuk memperkuat pencegahan dan kesiapsiagaan bencana di masyarakat. "Penemuan ini perlu didorong dalam pelestariannya," kata Ahmad Dadek.

BPBA juga telah menginisiasi agar gua purba tsunami ini bisa menjadi situs sejarah tsunami. Ia berharap gua tsunami purba ini bisa dijadikan tempat pendidikan dan menjadi lokasi kunjungan wisata tsunami.

“Kita juga akan menjadikan lokasi ini sebagai  Geopark untuk pelestarian gua tersebut. Ini juga menjadi landasan bagi warga untuk terus meningkatkan pemahaman kesiap-siagaan terhadap bencana,” kata Dadek.

Ahmad Dadek berpesan kepada Camat dan Geuchik (Kepala Desa) setempat agar gua tersebut dijaga dan diberikan papan nama segera dengan tulisan bahwa itu situs tsunami. *** | BIYAN NYAK JEUMPA, Kontributor Banda Aceh.

Komentar

Loading...