Doa dan Dosa di Halaman Masjid Raya

Doa dan Dosa di Halaman Masjid Raya
Masjid Raya Baiturrahman | Dok KBA

KBA.ONE - Pernah dibakar Belanda lalu dibangun lagi. Pernah dijadikan benteng oleh para pejuang Aceh saat menahan gempuran Belanda. Lalu, di situ pula Kohler, lagi-lagi jenderal Belanda, ditembak mati sniper Aceh di jamannya: Teungku Imum Luengbata.

Bertahun-tahun setelah itu, Masjid Raya berubah-ubah bentuknya. Di tangan penguasa, tubuhnya direnovasi dengan tujuan agar lebih indah. Kubah-kubah ditambah hingga sebanyak sekarang. Area masjid diperluas. Toilet diperbanyak.

Ketika tsunami tiba, Masjid Raya menjadi pemirsa yang setia. Ketika orang-orang bertubrukan di jalan untuk menggapai lantai masjid agar tak diseret arus tsunami.

Saat referendum menentukan nasib Aceh di tengah bara konflik, jutaan orang berkumpul di masjid raya. Saat perjanjian damai diteken di Helsinki, orang-orang kembali berkumpul di Masjid Raya, menyaksikan momentum perubahan Aceh menuju perdamaian lewat televisi.

Dari masa ke masa lanskap Masjid Raya berubah-ubah. Ia tak pernah protes apa yang penguasa lakukan maupun apa yang jamaah peributkan. Bahkan ketika ada yang berseteru soal tongkat khutbah.

Masjid Raya menjadi gerbang untuk menerawang ke masa lalu. Walau tak melulu persoalan agama yang dituntaskan di sana, semuanya direkam oleh masjid raya. Ia bisa menjadi benteng pada suatu zaman, lalu berpuluh tahun kemudian menjadi ikon politik.

Dari Masjid Raya pula orang-orang Aceh membaca berlembar-lembar cerita sejarah. Darinya pula kita paham, Aceh akan selalu berubah.

Kini, Masjid Raya kembali diubah; direnovasi menjadi lebih modern oleh penguasa. Pemerintah Aceh menganggarkan dana Rp1,4 triliun untuk pemugaran. Selain ruang parkir bawah tanah, yang paling fenomenal tentu saja payung-payung jembar yang bertengger di halaman masjid. Katanya, payung elektrik itu mengadopsi lanskap serupa di Masjid Nabawi, Madinah.

Namun, belum lagi selesai semua renovasi itu, beragam isu menerpa proyek setelah diresmikan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Mulai dari kerusakan payung, pecahnya marmer hingga aroma korupsi. Semoga saja yang terakhir tak bakal menjadi kenyataan. Jika itu terjadi, Aceh akan malu. Dana memperindah rumah Tuhan saja bisa ditilep. Mau ditaruh di mana muka?

Anehnya, dari kerusakan-kerusakan di pengujung renovasi yang katanya ditargetkan selesai Desembar tahun ini, ada satu hal yang membuat terperangah. Seorang petugas proyek berkomentar soal penyebab ubin yang retak. Harusnya, kata dia, area masjid belum boleh dimasuki ramai-ramai karena belum selesai.

Pernyataan ini dilontarkan pelaksana proyek seolah-olah untuk menggiring pemahaman kepada publik, bahwa mereka tak bersalah. Mereka telah bekerja keras setengah mampus. Yang salah tentulah rakyat karena mereka memasuki area marmer itu sebelum waktunya. Rakyat yang begitu menggebu-gebu ingin melihat wajah baru masjidnya, ingin berdoa di sana, merekalah yang jadi biang kesalahan.

Seharusnya, pelaksana proyek belajar dari sejarah. Berhentilah menyalahkan rakyat Aceh. Mereka sudah terlalu sering disalahkan sejak dulu. Ketika orang-orang Aceh ingin menentukan nasib sendiri, mereka disalahkan; dicap separatis dan diburu kemana-mana. Ketika darurat militer mereka juga disalahkan jika tak memiliki KTP merah putih.

Setelah tsunami, seorang doktor di luar Aceh yang mendaku diri ustad, mengatakan bencana itu datang karena dosa orang Aceh. Salah satu dosanya, mengunyah daun ganja. Gara-gara celoteh hoax tersebut, lagi-lagi orang Aceh yang salah.

Rupanya, kesalahan itu begitu melekat pada diri orang Aceh. Jika tak mendengar apa kata Jakarta, seberkas kesalahan akan ditimpukkan ke muka mereka hingga benjol. Lalu, sekarang, kita mendengar lagi hal serupa.

Baiklah, anggap saja--sambil mengelus dada--orang Aceh memang salah karena memasuki area masjid sebelum proyek itu kelar. Mungkin, orang Aceh tak paham bahwa ketika proyek diresmikan wakil presiden sekalipun, artinya, pekerjaan itu belum siap.

Tapi, urusan boleh tidaknya memijak lantai perkara teknis belaka. Si empunya proyek, salah satu Badan Usaha Milik Negara yang dulunya di-nasionalisasi dari perusahaan Belanda Volker Aannemings Maatschappij N.V. pada 1961, juga tak mengultimatum hal ini kepada rakyat agar mereka paham. Mereka tak pernah bilang, Hey! Jangan kalian pijak dulu lantainya, nanti bisa retak dia. Soal ini, hanya pelaksana proyek yang mengerti. Rakyat? Apa perlu berurusan dengan hal itu?

Ditambah lagi, wahai pelaksana proyek, setelah peresmian itu Ramadan di depan mata. Anda pikir, tidak ada orang Aceh yang begitu mendambakan salat Tarawih di Masjid Raya? Tak enak hati rasanya, jika tak semalam saja bertarawih di sana. Berdesak-desakan pun jadilah, yang penting salat.

Atau, anak-anak muda Aceh yang hobi ber-Instagram, akan memburu foto penampakan wajah baru Masjid Raya dengan angle sebagus-bagusnya. Mereka akan mengabarkan kepada dunia, inilah wajah masjid kami yang baru. Mereka begitu bangga dengan itu. Saat merekam foto, tentulah mereka akan memijak setiap sudut Masjid Raya yang direnovasi itu.

Orang Aceh begitu bangga dengan masjid ini. Coba, di masjid mana ada jenderal Belanda berkubang darah kena tembak pejuang. Atau, yang menjadi tempat berteduh saat tsunami?

Orang Aceh mungkin pelupa, tapi mereka merinding jika mendengar cerita-cerita tentang sejarah masjid ini dihidupkan kembali. Itulah salah satu kebanggaan untuk anak cucu. Cerita itu yang membuat entitas Aceh terus hidup di alam pikiran hingga sekarang. Kisah itu pula yang diwariskan untuk dikenang selagi ada pihak-pihak yang dengan senang hati menyalahkan orang Aceh.

Menyalahkan orang lain tanpa bukti secara agama itu fitnah. Nah, fitnah itu kata teungku-teungku di Aceh sebuah dosa yang tak terampuni. Jadi, jangan tambahkan lagi dosa dengan mengatakan orang Aceh yang salah karena menginjak marmer mulus itu.

Jika tak ingin diinjak sebenarnya gampang saja, kan. Selesaikan pekerjaan tepat waktu lalu resmikan. Kalau nanti masih ada marmer yang retak, boleh dong giliran orang Aceh yang menyalahkan si pembuat proyek. Soalnya, gading saja tak ada yang tak retak.

Sesekali, cobalah pelaksana proyek merenung di halaman masjid malam-malam. Tengoklah kubah-kubah masjid itu. Rasakan embusan angin yang berhembus dari Krueng Aceh, lalu tanyakan dalam hati. Apa iya jika masjid ini bisa berbicara ia mau bentuknya diubah-ubah? Mungkin ia bakal menjawab tidak. Baginya, orang datang ke rumah Allah itu untuk memakmurkan masjid saja lebih dari cukup. Ia tak minta harus selalu dipercantik. Yang perlu baginya, jamaah tetap salat dengan sah tanpa was-was sarungnya terpercik kencing ketika wudu tadi.

Kalau pelaksana proyek masih belum juga menemukan jawaban, mungkin bisa menimbang-nimbang apa yang sering diucapkan teungku-teungku di Aceh. Kata teungku kami, Pak, di akhirat sana marmer Italia itu nggak akan ditanya. Tahu apa yang ditanya oleh Malaikat nanti pertama kali? Man Rabbuka...!

Komentar

Loading...