DPRA Gelar Sayembara Himne Aceh

DPRA Gelar Sayembara Himne Aceh
Ilustrasi

Abdullah Saleh mengatakan perlombaan itu digelar sebagai bentuk komitmen dari MoU Helsinki bahwa Aceh berhak memiliki himne sendiri.

KBA.ONE- Banda Aceh - Dewan Perwakilan Rakyat Aceh menggelar sayembara untuk menentukan himne Aceh yang resmi. Ketua dewan pengarah sayembara, Abdullah Saleh mengatakan perlombaan itu digelar sebagai bentuk komitmen dari MoU Helsinki bahwa Aceh berhak memiliki himne sendiri. "Juga tertuang dalam pasal 248 ayat 2 dan 3 UUPA, tentang bendera, lambang, dan himne," ujar Abdullah Saleh saat jumpa pers di ruang badan anggaran, Selasa, 17 Oktober 2017.

Sesuai pasal-pasal tersebut, kata dia, DPRA merasa perlu membuat qanun khusus untuk mengatur tentang himne Aceh. "Qanun ini sudah masuk qanun prioritas tahun 2017 dan termasuk qanun inisiatif dari DPRA," ujar Abdullah Saleh.

Setelah melalui rapat dan tukar pendapat dengan beberapa seniman Aceh, kata Abdullah, lahir beberapa kriteria himne yang diperlombakan. Misalnya, mencerminkan budaya Aceh, berlandaskan syariat Islam, dilantunkan dalam bahasa Aceh, tidak mengandung unsur SARA, pornografi, dan murni karya baru. "Kriteria lainnya, materi himne mencerminkan ungkapan rasa syukur dan harapan masyarakat Aceh atas limpahan rahmat Allah," ujar Abdullah. Sedangkan durasi himne yang dilombakan maksimal tujuh menit.

Sayembara terbuka untuk umum baik perorangan atau kelompok. Setiap peserta wajib mengirimkan karya dalam bentuk rekaman dan salinan lirik melalui VCD atau DVD atau dalam bentuk file elektronik lainnya.

Pengiriman karya dibuka sejak 20 Oktober hingga 20 November 2017. Selanjutkan presentasi kepada dewan juri. Pengumuman nominasi dilakukan pada 30 November 2017. Sedangkan pengumuman pemenang utama dilakukan pada 4 Desember dan penyerahan hadiah 7 Desember.

Total hadiah sayembara Rp220 juta. Pemenang utama mendapatkan hadiah uang tunai Rp100 juta. Sedangkan enam pemenang nominasi masing-masing diberikan hadiah Rp20 juta.

Komentar

Loading...