Dua Pelanggar Syariat Islam Dicambuk 17 Kali di Banda Aceh  

Dua Pelanggar Syariat Islam Dicambuk 17 Kali di Banda Aceh  
Algojo sedang melakukan eksekusi cambuk terhadap Qanun Aceh nomor 6 tahun 2014 tentang hukum jinayat di Banda Aceh, Rabu 10 November 2021. | Foto: KBA.ONE, Ayu

KBA.ONE, Banda Aceh - Dua orang pelanggar Qanun Aceh nomor 6 tahun 2014 tentang hukum jinayat, dicambuk 17 kali setelah dikurangi masa tahanan tiga bulan oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Banda Aceh, Rabu 10 November 2021.

Kedua pelanggar hukum jinayat adalah MA, 23 tahun, warga Abdya dan pasangannya AM, 21 tahun, warga Pidie.

Wakil Wali Kota Banda Aceh, Zainal Arifin, menyebutkan dua orang tersebut dicambuk atas pelanggaran jarimah. "Kami atas nama pemerintah Kota Banda Aceh penegakan syariat di kota Banda Aceh tidak surut, akan terus istiqamah ditegakkan syariat Islam di Banda Aceh," kata Zainal.

Zainal menyampaikan seluruh masyarakat Aceh menjunjung tinggi pelaksanaan syariat Islam di Aceh, terutama di Banda Aceh. Sebab, kata dia, yang banyak ikut melanggar syariat Islam di kota Banda Aceh adalah pendatang, bukan hanya warga Banda Aceh saja.

"Jangan dianggap bahwa Banda Aceh bisa sebagai tempat pelanggar syariat Islam," ungkapnya sembari menekankan pemerintah dan masyarakat Kota Banda Aceh siap melaksanakan syariat Islam di kota ini.

Kepada penerima uqubat cambuk hari ini, Zainal berharap bisa menjadi obat dari perbuatan pelanggaran yang telah dilakukan, sehingga dapat meninggalkan perbuatan tercela tersebut.

"Kalau bisa, kami harapkan cambuk hari ini yang terakhir kita laksanakan di Kota Banda Aceh bukan yang terkahir kita tegakkan syariat Islam, tetapi hukumannya itu tidak ada lagi orang yang harus dicambuk," tutupnya

Sebelumnya kedua pelanggar jinayat tersebut ditangkap oleh tim gabungan TNI, Polri, Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah (Satpol PP dan WH) Banda Aceh, di sebuah hotel bintang tiga di kawasan Peunayong, Kecamatan Kuta Alam, kota setempat, pada Kamis 20 Agustus 2021 menjelang tengah malam.

Diketahui, MA merupakan perempuan yang terlibat dalam jaringan prostitusi online. Dalam perkara tersebut, ia memasang tarif Rp1,5 juta untuk sekali kencan bersama pria berinisial AM. | AYU, Kontributor Banda Aceh

Anara

Komentar

Loading...