Evolusi Pasar Baru Jakarta

Dulu Tradisional Kini Modern

Dulu Tradisional Kini Modern
Suasana Pasar Baru di Jakarta | Foto: Khadafy

Pasar Baru Jakarta resmi dibuka tahun 1920, lokasi tersebut sebelumnya sudah difungsikan menjadi pasar tradisional. 

KBA.ONE, Jakarta - Jakarta, konon dahulu orang menyebutnya dengan nama Jayakarta atau Batavia pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Jakarta sekarang, tulisan itu menyemat sebagai pusat dari pemerintahan Republik Indonesia serta sebagai pusat ibu kota negara.

Di Kota Jakarta itu terdapat satu pusat perbelanjaan dimana lokasi itu dahulunya sebagai pusat transaksi bisnis masyarakat, saat ini dikenal bernama Pasar Baru.

Sumber dirangkum KBA.ONE, Rabu 31 Oktober 2019 yang lalu, sebelum Pasar Baru Jakarta resmi dibuka tahun1920, lokasi tersebut sudah difungsikan menjadi pasar tradisional.

Masa itu, disana menjadi tempat bertemunya para pedagang pribumi yang menjual hasil bumi dengan para pedagang kelontong yang berasal dari etnis Tionghoa.

Kota Jakarta tidak pernah padam lokasi belanjanya. Banyak pilihan ditawarkan, dari modern hingga tradisional.

Untuk diketahui, diantara pilihan-pilihan itu, ada sejumlah lokasi belanja bersejarah dan dekat dihati masyarakat Jakarta. "Salah satunya seperti Pasar Baru ini, ujar Ardi, usia 58 tahun."

Pria akrab disapa Mamang ini menuturkan Pasar Baru tepat berada dibilangan pusat Kota Jakarta, berdekatan dengan Masjid Istiqlal, Monas,dan Stasiun Gambir. "Mau "kemana-mana dekat, katanya.

Secara demografi, Pasar Baru berada di Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat, lokasinya terkenal banyaknya terdapat bangunan-bangunan dengan arsitek tempo dulu yang sangat kuat akan pengaruh sejarah di masa lalu diselingi toko-toko memiliki nuansa modern, cerita Mamang.

Ada Satu hal menarik di Pasar Baru adalah, disini bercampur baur para pedagang masyarakat beragam etnis, dari pribumi, keturunan etnis Tiongha dan India. Beragam dagangan turut di jual di Pasar Baru ini. Semua masyarakat pedagang hidup di sini, imbuh Mamang.

Konon menurut cerita, banyak bercampurnya kultur di Pasar Baru ini, itu tidak terlepas dari sejarah tentang berdirinya lokasi tersebut. Pada abad ke-19, masa itu Jendral Daendels (Gubernur), tengah melakukan pengembangan terhadap lokasi Batavia, diarea kota, arah selatan kawasan Weltevreden.

Hal itu dilakukan, guna perancangan dari pusat pemerintahan yang baru. Mengingat ini akan menjadi lokasi pemerintahan baru, kawasan tersebut rencananya diperuntukkan untuk orang-orang menengah atas yang tinggal di pemukiman Rijswik dan Norrdwijk.

Tujuan tersebut, karena dekatnya gedung-gedung pemerintahan seperti gedung kesenian, serta kantor pos yang berada di dekat area Pasar Baru Jakarta. Sebelum Pasar Baru Jakarta resmi dibuka pada 1920, tempat ini sudah difungsikan menjadi pasar tradisional, tambah Mamang.

Setahu Mamang, dahulunya pasar ini sebagai pusat transaksi dan bertemunya para pedagang pribumi menjual hasil bumi dengan para pedagang kelontong berasal dari etnis Tionghoa, itu menurut cerita orang-orang.

Tahun 1890, pembangunan Pasar Baru dimulai. Kalau tidak salah, sebut Mamang, saat masa Gubernur Jenderal Daendels, ia membeli lahan di kawasan tersebut dengan keinginan untuk mendirikan pusat perdagangan jual-beli yang baru.

Alasan itu dilakukan Daendels bukan tanpa sebab, dikarenakan, Yustinus Vinck, sebelumnya sudah membangun Pasar Senen, Pasar Tanah Abang, terlebih dahulu.

Dengan dibangun pusat perdagangan itu, Jendral Daendels menginginkan satu nama yang berbeda, yaitu Pasar Baroe, masih kata Mamang.

Pengamatan KBA.ONE, tepat di area pasar itu terdapat satu aliran sungai atau kali yang airnya terlihat berwarna hitam pekat. Pembatas sampah tampak terbentang ditengahnya.

Menurut cerita dari warga sekitar, ini Sungai Ciliwung namanya. Sungai ini tepat berada di area Pasar Baru Jakarta. Kata mereka, konon air sungai mengalir ini, dahulu sangat bersih dan kerap digunakan warga. Namun bukan hanya itu saja, festival air, seperti lomba perahu pun kerap digelar di sungai ini oleh warga dari etnis Tionghoa.

Dengan semakin ramainya tempat ini, akhirnya banyak juga warga keturunan India mencoba peruntungan dagang dengan membuka usaha garmen dan tekstil di Pasar Baru Jakarta. Tempat ini pun mulai ramai dikunjungi pembeli.

Dahulunya Pasar Baru ini sempat mengalami masa kejayaan, karena ditempat ini terkenal sebagai sentra industri pakaian yang menjadi pilihan masyarakat dari luar Ibu Kota Jakarta.

Mereka datang membeli, baik potongan, maupun secara grosiran. Namun lambat laun akibat banyaknya tumbuh tempat perdagangan baru lainnya, Pasar Baru tergerus waktu dengan persaingan usaha di lokasi lainnya, seperti WTC di Mangga Dua, ITC Cempaka Mas, Tanah Abang dan banyak tempat-tempat lainnya.

Memang dalam persaingan dagang selalu perlu inovasi yang cemerlang. Ditambah kecanggihan zaman semakin maju, efek pasar yang kurang inovasi akan tertinggal seiring waktu berjalan. Di mana-mana saat ini sudah mulai dikuasai oleh belanja online.

Konsumen terbuai oleh kecanggihan aplikasi online. Apakah masa pasar akan segera berakhir dengan kecanggihan dan kemajuan dari teknologi?

Akan tetapi apa yang terlihat di Pasar Baru ini agak berbeda. Hal kecanggihan teknologi berbanding sedikit berbalik. Ini bukan tanpa alsan, pasalnya, seperti kekinian terlihat di pasar ini masih banyak dikunjungi warga berasal dari JABODETABEK (Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang, Bekasi), termasuk dari luar Jakarta, datang berbelanja dengan harga terjangkau dijajakan para pedagang. Bermacam rupa dagangan terdapat di pasar ini.

Hingga kinipun masih banyak para turis mancanegara menikmati suasana berbelanja ditempat itu dan menginap di hotel-hotel sekitar lokasi Pasar Baru.

Semoga saja Pasar Baru, tetap menjadi satu pasar yang baru, seperti nama tersemat pada dua gapura di pintu gerbang masuk, ucap saya dalam hati.

Jangan mau kalah oleh kecanggihan zaman, pertahankan nilai sejarah yang terukir disana.

Komentar

Loading...