Gowes Forkopimda di Pulo Aceh

Dyah Erty: Luar Biasa. Ini Sekeping Surga!

Dyah Erty: Luar Biasa. Ini Sekeping Surga!
Gowes Forkopimda di Pulo Aceh dari kiri Razuardi Ibrahim, Plt Ka BPKS Sabang, Dyiah Erti, Wakil Ketua TP PKK Aceh, Mayjend TNI Hassanudin, Pangdam IM, Brigjend Pol Raden Purwadi, Wakapolda Aceh. | Foto Ist.

Di Pulo Aceh, Anda dengan mudah bisa  menemukan sepasang rangkong (buceros), sejenis burung langka yang punya paruh tanduk sapi atau elang yang terbang tak terlalu tinggi.

KBA.ONE, Banda Aceh - Dyah Erti Idawati seketika mengekspresikan kekagumannya begitu bersepeda menelusuri jalanan di Pulo  Aceh. "Luar biasa indahnya. Ini layaknya sekeping surga di tanoh Aceh," kata istri Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah.

Dyah gowes tidak sendirian. Ia datang bersama unsur Forkopimda Aceh, acara gowes bareng yang difasilitasi Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS).

Bagi Dyah, pemandangan lebatnya hutan yang bersisian dengan birunya lautan adalah sesuatu yang istimewa. "Tidak pernah kita lihat di mana pun," komentar Dyah.

Ya, hutan di Pulo Aceh memang masih lestari, tertata dan terjaga. Bahkan Anda dengan mudah bisa  menemukan sepasang rangkong (buceros), sejenis burung langka yang punya paruh tanduk sapi atau elang yang terbang tak terlalu tinggi.

Gowes bareng unsur Forkopimda Aceh. | Foto: Ist

Dyah berkunjung ke Pulo Aceh pada Sabtu di penghujung Juli 2020. Bersama seratusan rombongan pesepeda, di antaranya ada Pangdam IM, Mayjend TNI Hassanudin, Wakapolda Aceh, Brigjen Pol Raden Purwadi , Kepala BPKS Sabang Razuardi Ibrahim, Dyah mengitari alam Pulo Aceh.

Mendayung dari Dermaga Perikanan BPKS di Gampong Ulee Paya pada pagi hari, peserta menempuh rute berliku. Mulai dari pegunungan, hutan hingga pinggiran pantai. Jalur yang amat terjal membuat banyak pesepeda  'tumbang' sebelum sempat menyentuh rute akhir di Mercusuar William's  Torrent. 

Pangdam IM Mayjen TNI Hassanudin (kiri) menerima piagam Mercusuar William's Torrent dari Plt Kepala BPKS Sabang, Razuardi Ibrahim. | Foto: Ist.

Dari Ulee Paya ke William's Torrent harus melewati 6 gampong (desa) sebelum sampai di Meulingge, desa tempat mercusuar berada. Jaraknya sekitar 20 kilometer. Memang rutenya agak sulit ditempuh jika fisik tidak prima. Tapi, begitu tiba di mercusuar, letih seketika terbang saat Anda menikmati panorama pantai dan gunung dari ketinggian.

Saat menanjak menapaki satu per satu anak tangga yang dipasang melingkar, Anda seperti diajak masuk ke lorong waktu. Bau pengap dan bagai terkurung dalam sebuah lorong. Tanjak lah perlahan, atur pernapasan. Rasakan angin yang masuk lewat jendela-jendela kecil yang dibuat pada beberapa bagian di sekeliling mercusuar.

Begitu menginjak anak tangga terakhir dan keluar di pucuk menara, Anda akan lupa rasa letih. Angin di ketinggian 85 meter di atas permukaan laut berhembus perlahan. Jika ada lantunan musik dan gelak tawa maka akan terdengar nyaring dibawa angin.

Dari pucuk menara, arahkan pandangan ke Samudera Hindia membentang luas, hingga berbatas pandangan mata. Dari sanalah, puluhan, bahkan ratusan kapal melintas setiap harinya. Laut di Meulingge, berbatas langsung dengan lintasan internasional.

 "Ini yang pertama sekali. Luar biasa keindahannya. Yang kita rasakan sesuai dengan apa yang diceritakan," kata Dyah. Sebelumnya ia hanya mendengar cerita-cerita keindahan pulau di ujung Sumatera ini. Namun kini ia berkesempatan datang menikmatinya langsung.

Menara William’s Torent

Mercusuar William's Torrent dibangun Kolonial Belanda di nusantara pada1875. Bangunan bergaya eropa ini, didirikan di atas cadas yang curam dan menjorok langsung ke laut. Masyarakat sekitar menyebut mercusuar dengan nama lampu. Tebal bangunannya mencapai satu meter, dengan ketinggian 85 meter.

Konon, mercusuar ini hanya ada tiga di dunia. Pasangannya, di Kepuluan Karibia, yang menjadi tempat penggarapan film Pirates of Caribian. Sementara yang satunya lagi, telah dijadikan museum di Belanda. Nama William’s Torren diambil dari nama Raja Luxemburg, Willem Alexander Paul Frederich Lodewijk. 

Pesona Pulo Aceh dari puncak Menara William's Torrent. | Foto: Dok. KBA.ONE

Pada masa itu, ia dikenal sebagai raja yang ikut membangun perekonomian dan infrastruktur daerah kekuasaan Hindia Belanda. Karena itu, nama dia disematkan di Mercusuar di Meulingge.

Dibangunnya mercusuar, sebagai persiapan pembangunan pelabuhan Sabang, yang menjadi lintas selat malaka. Saat itu, Pelabuhan di Sabang menjadi tempat persinggahan kapal-kapal kolonial.

Pangdam Iskandar Muda, Mayjen Hasanuddin, menyebutkan Pulo Aceh sangat punya potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata bahari.

"Setelah tiba di sini saya melihat potensi yang sangat bagus. Pantainya begitu bagus. Tentunya pemerintah daerah punya rencana bagus untuk pembangunan Pulo Aceh ini," kata Hassanudin. 

Pasie Demiet kawasan Gugop, Pulo Aceh.  | foto: acehraya.co.id

Hassanudin menambahkan usai sukses menggelar acara di Pulo Aceh, jajaran Forkopimda Aceh bakal menyasar daerah-daerah lain di Aceh. Gagasan pimpinan mengunjungi daerah dinilai sangat bagus. Di samping melihat kondisi daerah, tentu kunjungan tersebut dapat berdampak pada peningkatan ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Sementara Dyah memandang, kunjungan petinggi daerah ke wilayah pedalaman yang punya potensi wisata seperti Pulo Aceh sangatlah bagus. Mereka punya koneksi-koneksi di luar Aceh yang tentunya bakal mengampanyekan keindahan alam.

"Kita doakan covid segera berlalu, nanti Pak Pangdam, Pak Kapolda akan ajak koneksi beliau untuk wisata ke mari," kata Dyah. ***

Komentar

Loading...