Efek Selfi dan Tren Kafe di Pinggir Pantai

Efek Selfi dan Tren Kafe di Pinggir Pantai
Para penikmat sunset sambil ngopi di pinggir jalan Gampong Jawa, Banda Aceh. | Foto: KBA.ONE, Tasya

Omzet warung kopi di ruang terbuka pinggir pantai lumayan moncer. Ini gara-gara selebgram kemaruk suka pamer foto di medsos.

KBA.ONE, Banda Aceh - Menikmati sunset sembari ngopi sore hari di pinggir jalan adalah sesuatu yang spesial banget. Apalagi itu dilakukan bareng keluarga, teman, kerabat dekat, kolega, atau pacar, pasti akan lebih enjoy lagi.

Ngopi di pinggir jalan atau di ruang terbuka, kini memang sedang ngetren di Banda Aceh. Spot wisata kuliner ini bisa ditemukan di sepanjang jalan menuju pelabuhan Ulee Lheue. Atau warung kopi (warkop) pinggir jalan di Gampong Jawa, Kecamatan Kuta Raja, Kota Banda Aceh.

Di beberapa titik, misalnya di Gampong Jawa, warkop-warkop di pinggir jalan tampaknya semakin diminati warga. Setiap akhir pekan, juga setiap sore, warga berbondong memadati warkop atau kafe-kafe itu. Bahkan sering bikin macet.

“Suasana di kafe-kafe pinggir jalan gini, kan, lebih terbuka. Kita bisa lihat pemandangan secara langsung, sambil menikmati kopi,” ungkap Yeni, 24 tahun, kepada KBA.ONE, Minggu 22 November 2020.

Mewakili kawula muda, Yeni mengaku lebih memilih ngopi di outdoor ketimbang indoor seperti di kafe-kafe  pada umumnya. Jika ngopi di dalam ruangan (indoor), kata Yeni, "kita hanya bisa memandangi orang dan pojok-pojok ruangan."

Sedangkan di ruangan terbuka, pendapat Yeni, dia lebih bisa bebas menikmati suasana dari segala sisi keindahan alam, yaitu laut biru yang terhampar di depan mata. "Pikiran pun jadi terbuka, lepas semua," cerita Yeni bersemangat.

Menikmati kopi di pinggir jalan dan laut semakin lengkap saat ditemani deburan suara ombak. | Foto: KBA.ONE, Tasya

Karakteristik setiap pecinta kopi memang beragam. Termasuk komentar-komentar mereka soal lokasi kafe di pinggir jalan.

Hendri, 20 tahun, misalnya. Dia berseberangan pendapat dengan Yeni. Jika Yeni suka nongkrong di kafe outdoor, Hendri justru lebih memilih "menyepi" di kafe indoor. "Saya tidak suka ngopi di lokasi ramai begitu," katanya.

Tapi, Hendri tidak juga mengunci pendapat dan pilihannya. Sesekali, jika hatinya lagi mood, dia juga doyan nongkrong di kafe pinggir pantai. Apalagi di media sosial komunitas selebgram sedang kemaruk kemaruknya pamer foto ngopi di kafe pinggir jalan. Hendri jadi berminat juga untuk sekadar selfi.

“Untuk di post di media sosial juga, biar kelihatan pernah ngopi di sana. Setelah didatangi ternyata asyik juga tempatnya,” cerita Hendri.

Lelaki yang mengaku jomblo ini bahkan berjanji akan kembali datang menikmati kafe outdoor di pinggir jalan. "Tapi nanti kalau saya sudah memiliki pasangan," canda Hendri sambil melempar senyum.

Dargo, 50 tahun, pemilik usaha kopi pinggir jalan, bercerita bahwa dia memilih buka usaha warung kopi di tempat terbuka karena hobi. “Kalau di sini, kan, istilahnya di pinggir pantai, sambil menikmati pemandangan suasana senja. Tua muda bergabung di sini,” ungkap Dargo.

Warung Dargo buka dari pukul 16:00 hingga 18:30 Wib. Usahanya itu sudah dia rintis sejak 1,5 tahun lalu. Dia membuka warung hanya 2,5 jam di waktu sore setiap hari karena mengikuti aturan gampong (desa) dan menegakkan Syariat Islam. "Untuk menghindari muda-mudi berkumpul di malam hari," kata Dargo.

Dargo pernah mencoba buka kafe di ruangan (indoor) tapi tidak jalan. “Pengunjungnya sepi. Tapi alhamdulillah kita banting stir kemari, setiap hari ramai pelanggan,” ucap Dargo penuh syukur.

Para pengunjung menikmati kopi juga sambil berbagi cerita bersama teman. | Foto: KBA.ONE, Tasya

Cuma, hambatan kafe di pinggir jalan adalah ketika hujan turun. Pelanggan langsung memilih pulang karena takut kehujanan. Kafe Dargo tidak dilengkapi atap pelindung panas dan hujan.

Menu minuman apa saja yang disukai pengunjung di kafe Dargo? Kata Adisty, barista di tempat Dargo, menu minuman yang paling laku adalah sanger (kopi dicampur susu). Harganya juga cukup kompromis, mulai dari Rp10 ribu-Rp15 ribu pergelas.

Dari jualan di pinggir jalan itu Dargo mengaku bisa beromzet rata-rata jika di hari biasa sekira Rp1 juta sampai dengan Rp2 juta. Sedangkan di hari libur bisa mencapai Rp3 juta hingga Rp3,5 juta.

Pada awal buka usaha, di warkop Dargo hanya tersedia enam meja. Kini, karena pengunjung sudah lumayan ramai, warkop Dargo sudak memiliki 40 meja.

Dia berharap ke depan usahanya semakin berjaya, lancar, dan selalu murah rezeki. “Moga-moga sampai selanjutnya pelanggan akan langgeng seperti ini,” kata Dargo penuh harap.

Ya, moga-moga saja para penggila selfi masih doyan upload foto diri di spot kuliner milik Dargo dan usaha-usaha mikro kecil lainnya. Biar ekonomi Aceh hidup dan mengkilap sepanjang masa. | TASYA, Kontributor Banda Aceh.

Komentar

Loading...