Sejarah Hardikda Aceh

Embrio itu Dimulai dari Tugu Darussalam

Embrio itu Dimulai dari Tugu Darussalam
Tugu Darussalam | Foto: KBA Fatma

KBA.ONE, Banda Aceh - Adalah Gubernur Ali Hasjmy, Letnan Kolonel Syamaun Gaharu, Mayor Teuku Hamzah Bendahara, para ulama dan tokoh-tokoh Aceh lainnya yang bermufakat meletakkan dasar pembangunan pendidikan Aceh. Jejak itu dimulai dari lahirnya Yayasan Dana Kesejahteraan Aceh (YDKA) pada 21 April 1958.

Tugas YDKA ini adalah menyusun program menghadirkan sebuah perkampungan pelajar dan mahasiswa di ibukota provinsi dan mengusahakan berdirinya satu universitas untuk Aceh. Maka, pada 29 Juni 1958, dibentuklah Komisi Perencanaan dan Pencipta Kota Pelajar/Mahasiswa.

Komisi yang diketuai Gubernur Ali Hasjmy ini bertugas sebagai komisi pencipta, badan pemikir dan inspirasi bagi YDKA selain sebagai modal utama paling dasar pembangunan komplek perkampungan pelajar dan mahasiswa Aceh.

Kampus UIN Ar-Raniry, dari sini Hardikda Aceh dimulai. | Foto: Ist

Setahun kemudian, tanggal 17 Agustus 1959, peletakan batu pertama pembangunan perkampungan pelajar dan mahasiswa Aceh dimulai oleh Menteri Agama Republik Indonesia KH Mohd Ilyas. Sepekan kemudian, menyusul peletakan batu pertama pembangunan gedung di Darussalam oleh Menteri Pendidikan Republik Indonesia Prof Dr Priyono.

Pada 2 September 1959, usai peletakan batu pertama, Presiden Soekarno secara resmi membuka Kota Pelajar Darussalam diiringi pembukaan selubung Tugu Darussalam dan peresmian fakultas pertama di Unsyiah, yaitu Fakultas Ekonomi. Dan, tanggal 2 September inilah yang kemudian ditetapkan sebagai hari Pendidikan DaerahTabrani Yunis, Pemerhati Pendidikan Aceh (Hardikda).

Awalnya, Unsyiah dipimpin Kolonel M Jasin dengan sebutan Pj Presiden, kemudian dipimpin oleh Drs Marzuki Nyak Man dengan sebutan Ketua Presidium. Saat Unsyiah dipimpin Drs A Madjid Ibrahim, barulah sebutan itu berubah menjadi Rektor.

Sebagai salah satu institusi pendidikan tinggi, Unsyiah memiliki fungsi  strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, baik untuk kebutuhan lokal, nasional maupun regional. Sebagai universitas Jantung Hati Rakyat Aceh yang mengutamakan mutu, Unsyiah mengintegrasikan nilai-nilai universal, nasional, dan lokal untuk melahirkan sumberdaya manusia yang memiliki keselarasan  antara IPTEK dan IMTAQ.

Keseimbangan di antara keduanya menjadi komponen utama dalam menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas, berbudi pekerti, menjunjung tinggi etika, estetika serta berakhlak mulia. ***

Komentar

Loading...