2 Tahun Jejak Aceh Hebat

Energi Andal bukan Sekadar Mimpi

Oleh ,
Energi Andal bukan Sekadar Mimpi
Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah menyaksikan pengambilan sumpah dan janji sejumlah pegawai BPMA | Humas Pemerintah Aceh

Pemerintah Aceh sukses memperpanjang kontrak industri Blok North Sumatera B (NSB) Aceh Utara. Blok ini berada di bawah kewenangan BPMA.

KBA.ONE, Banda Aceh - Pada cluster pembangunan berkelanjutan, salah satu program unggulan Aceh Hebat adalah Aceh Energi. Tujuan program ini agar Aceh memiliki stok energi yang memenuhi kebutuhan berdasarkan perkembangan, baik untuk rumah tangga maupun sektor produksi.

Melalui Aceh Energi, pemerintah ingin menyediakan pembangkit energi listrik dari sumber yang bersih dan terbarukan. Selain itu, pengelolaannya dilakukan secara mandiri. Aceh Energi juga ingin memastikan tersedianya road map (peta jalan) energi Aceh untuk 20 tahun mendatang.

Beberapa agenda strategis pun dijalankan Irwandi-Nova sebagai upaya pemenuhan energi listrik bagi rakyat Aceh dan industri. Di antaranya, penyiapan master plan energi Aceh yang komprehensif dan terintegrasi, serta penerapan public private partnership untuk utilisasi sumber daya energi skala menengah dan besar, khususnya panas bumi dan tenaga air tanpa menggunakan hutang luar negeri.

Selain itu, memastikan komitmen PLN untuk memperbaiki sistem transmisi sehingga tidak sering terjadi pemadaman listrik di Aceh. Lalu, mempercepat realisasi pembangkit listrik geothermal Seulawah dan pembangkit listrik tenaga air (mini dan mikrohidro) dengan kapasitas menengah.

Agenda strategis lainnya, pemberian kemudahan perizinan bagi pihak swasta yang berminat berinvestasi dalam sektor energi bersih dan terbarukan. Terakhir, memperkuat eksistensi Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) sebagai perwujudan amanat yang telah ditetapkan dalam UUPA.

Dua tahun terakhir, program Aceh Energi yang diusung Irwandi-Nova mulai memperlihatkan perkembangan terbaik. Hal ini tak terlepas dari upaya-upaya yang dilakukan sebelumnya.

Pada 11 September 2017 Gubernur Irwandi Yusuf menyambangi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk bertemu Menteri Ignasius Jonan. Dalam pertemuan yang cukup santai tersebut, keduanya membahas cara memenuhi kebutuhan suplai listrik untuk Aceh.

Irwandi meminta Jonan agar persoalan kelistrikan yang terjadi di Aceh selama ini, diselesaikan secara cepat. Dia menilai listrik sangat penting. Tak hanya memenuhi kebutuhan masyarakat tapi juga untuk meyakinkan investor agar mau menanamkan modalnya di Aceh.

Menanggapi permintaan itu, Jonan berkomitmen mendukung segala upaya percepatan pemenuhan energi listrik. Termasuk energi terbarukan yang bersumber dari panas bumi seperti geothermal Seulawah, Gunong Geureudong dan Jaboi di Sabang. Jonan akan berupaya semaksimal mungkin membantu membebaskan Aceh dari krisis listrik.

Peta Wilayah Kerja Migas Aceh | BPMA

April lalu, janji tersebut ditunaikan ketika Jonan meresmikan tiga proyek listrik yang masing-masing berkapasitas 150 kilovolt (kv), di Desa Blang Gele Kecamatan Bebesan, Aceh Tengah. Ketiga proyek Gardu Induk (GI) dan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) yang diresmikan, pertama, GI 150 kv Takengon, GI Extension 150 kv Bireuen, dan SUTT 150 kv Takengon-Bireuen. Kedua, GI 150 kv Kutacane, GI Extension 150 kv Berastagi, dan SUTT 150 KV Berastagi-Kutacane. Dan ketiga, GI 150 kv Subulusalam, GI Extension 150 kv Sidikalang, dan SUTT Sidikalang-Subulusalam.

Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah menyambut baik hal itu. Dibangunnya GI dan SUTT di tiga wilayah akan menjadikan Aceh terhindar dari biarpet. "Insya Allah keandalan listrik di Aceh akan menjadi kenyataan dan biarpet akan menjadi kenangan," ujar Nova.

Sebagai partner pemerintah, dia menilai PLN dinilai sudah bekerja baik. Namun, Nova berharap pemerintah bisa mengoptimalkan potensi energi baru dan terbarukan di Aceh yang disebut mencapai 1.155 megawatt. "Kami berharap optimalkan potensi ini. Cepat hadirkan sehingga listrik yang andal bukan lagi sekadar mimpi."

Sementara itu, dalam rangka melakukan percepatan pengembangan energi terbarukan telah disusun Detail Engineering Design (DED) untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di tiga kabupaten dan kelayakan pembangunan PLTMH di Aceh Tengah.

PLTMH merupakan pembangkit berskala kecil menggunakan air sebagai tenaga penggerak. Di Aceh Tenggara, PLTMH direncanakan dibangun di Lawe Sikap, Kecamatan Darul Hasanah. Sedangkan di Redelong, Bener Meriah, ada belasan pembangkit yang dibangun dan sudah berfungsi mengalirkan listrik kepada masyarakat.

Masih terkait listrik, pada program Aceh Energi, Pemerintah Aceh terus memacu pengadaan listrik kepada masyarakat kurang mampu. Hingga kini, Pemerintah Aceh telah memasang instalasi listrik pada 8.825 rumah sederhana. Selain itu, pemerintah juga memasang 246 unit lampu Penerangan Jalan Umum (PJU) tenaga surya, 1.609 unit PJU LED hemat energi dan 1.091 unit PJU lampu ornamen.

***

Prestasi lainnya, Pemerintah Aceh sukses memperpanjang kontrak industri Blok North Sumatera B (NSB) Aceh Utara. Blok ini berada di bawah kewenangan Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA).

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 23 tahun 2015, BPMA berwenang sebagai pengatur tata kelola industri migas di darat Aceh hingga 12 mil laut di lepas pantai (off shore). Selain itu, BPMA juga mengontrol ekplorasi migas di lepas pantai Pidie Jaya yang dilakukan oleh perusahaan asal Spanyol, Repsol.

BPMA sendiri telah memiliki kantor di Banda Aceh yang diresmikan pada Januari lalu. Peresmian tersebut sebagai pertanda transfer tata kelola migas Aceh dialihkan secara bertahap dari SKK Migas kepada BPMA dalam tahun ini.

Melalui Aceh Energi, pemerintah juga telah membangun sebanyak 324 unit sumur sebagai bagian dari penyediaan sarana air bersih bagi masyarakat. Terkait tambang, Pemerintah Aceh juga gencar menertibkan pertambangan liar. Hingga dua tahun ini ada 8,45 persen penurusan luas pertambangan tanpa izin. Selain itu, terdapat 86 IUP mineral logam dan batubara yang izinnya berakhir.[ADV]

Komentar

Loading...