Es Dawet yang Bikin Ngebet

Es Dawet yang Bikin Ngebet
Heri, penjaja es dawet ayu. | KBA.ONE: Tety Sundari.

Gula merah yang dicairkan itu khusus didatangkan dari Banjarnegara, tak boleh diganti dengan gula lain.

MINUMAN dingin dan cuaca panas "menggelegak" pastinya selalu mempertemukan sensasi yang tak biasa. Ini menjadi perpaduan yang pas mantap. Apalagi minuman dingin itu berupa es cendol (dawet), es campur, dan es teler. Mmm, hampir dipastikan semua kita menyukainya. 

Beberapa tahun belakangan, ada tren menarik di Banda Aceh. Para penyuka dan penggila minuman dingin dan segar tampak mulai keranjingan minum Es Dawet Ayu.

Kebiasaan ini bisa dilihat ketika  langit Banda Aceh panas terik dan menyengat. Anda bakal menyaksikan pemandangan  menarik sebagian warga yang tiba-tiba menyerbu gerobak dorong es dawet di pojok-pojok dan persimpangan strategis di Banda Aceh. Tak cuma motor, pengendara mobil mewah juga berburu es dawet.

Tak repot menemukan lapak minuman dingin dan segar khas Banjarnegara ini. Mereka menyebar di delapan penjuru mata angin. Gerobak dengan dominasi warna hijau itu berserak, jumlahnya berpuluh-puluh.

Apa, sih, kelebihan es dawet sehingga digemari penikmat minuman dingin di Banda Aceh? Sebenarnya, minuman ini tak  jauh berbeda dari jenis minuman es campur lain.

Es ini juga menggunakan kuah santan dan isi yang disebut dawet berwarna hijau, atau masyarakat Aceh biasa menyebutnya cendol. Lalu, ditambah gula merah cair sebagai pemanis dan pewangi es dawet.

Gula merah itu dapat disetarakan tingkat kemanisannya sesuai selera  pembeli. Tapi, yang bikin luar biasa, gula merah yang kemudian dicairkan itu khusus didatangkan dari Pulau Jawa. "Kami tinggal terima saja, dan tak boleh menggunakan gula merah lain," kata penjual es dawet asal Medan, kepada KBA.ONE, di kawasan Peunayong Banda Aceh, beberapa waktu lalu

Berbekal gerobak dorong  berisi bahan-bahan es dawat ayu dan kursi plastik, para pedagang tersebut mangkal di beberapa tempat strategis yang ramai lalu lalang kendaraan.

Minuman asal salah satu kota ternama di pulau Jawa tersebut, ternyata diolah oleh orang asli sana pula. Ini diketahui dari salah satu penjual es dawet ayu di sekitar Jalan Sultan Malikul Shaleh, di seberang Polsek Baiturahman.

Dari sekian banyak penjual es dawet ayu di Kota Banda Aceh, Heri, nama pedagang tersebut, bercerita bahwa mereka berjualan berada di bawah kontrol toke yang berbeda-beda.

"Ada sekitar 4 toke es dawet ayu ini yang asli orang Jawa," ungkapnya kepada KBA.ONE di sela kesibukannya berjualan dan melayani pembeli.

"Toke tempat saya bekerja ini, dia sudah 3 tahunan menjalankan usaha es dawet ayu," tambah pedagang berperawakan kecil tersebut.

Heri juga memberi isyarat khusus untuk membedakan antara es dawet asli olahan Banjarnegara dan produk lokal. Olahan asli orang Banjarnegara, kata dia, digerobaknya terdapat patung wayang kecil.

"Karena ada juga es dawet yang diolah oleh orang Aceh. Namanya es dawet ayu juga. Cuma bedanya mereka tidak ada wayang ini dan warna mereka bukan hijau," terang Heri sembari menunjuk wayang kecil di gerobak dagangannya.

Di dalam menjajakan bisnis minuman olahan ini, tambah Heri, dia tidak seorang diri. Ada 3 orang teman lain yang mangkal di sekitar daerah Lamteumen dan Simpang Dodik.

Uniknya, keempat penjaja es dawet ini berasal dari daerah yang berbeda. "Saya dari Sumatera Utara, yang 1 dari Aceh, dan 2 lagi dari Jawa," katanya.

Heri mengaku sudah 1,4 tahun berprofesi sebagai pedagang es dawet ayu. Setiap hari dia membawa 6 gayung es dawet di dalam gerobaknya.

Heri keluar dari tempat toke di kawasan Geuceu setiap pagi sekitar pukul 10.00 WIB. Dengan sabar dia mendorong gerobak es itu keliling hingga berhenti di tempat dia mangkal.

"Iya, kadang jenuh juga duduk nunggu pembeli. Tapi, ya, mau bagaimana, namanya kerja cari rezeki," ujar Heri sembari tersenyum kecil.

Jika dagangannya cepat habis, Heri pulang lebih awal. Tapi jika sepi pembeli, dia menunggu sampai pukul 18.00 WIB, sebelum tiba waktu salat magrib. "Cuaca sangat mempengaruhi omset penjualan kami. Kalau cuaca panas, lumayanlah. Apalagi pas jam anak pulang sekolah, jam 12 - jam 2 (14.00 WIB), itu ramai-ramainya," kata Heri.

Setiap harinya, pria bermarga Lubis ini mengaku mendapatkan penghasilan tak menentu. Tergantung dari ramai tidaknya pembeli. "Kadang Rp150 ribu sampai Rp200 ribu, atau lebih. Gak tentu kita dapatnya, apalagi kalau cuaca lagi hujan, kan?" ungkap Heri.

Es dawet ayu dibanderol Rp5.000,- per bungkusnya. Karena harganya terjangkau dan murah, minuman dingin, manis, lezat dan menyegarkan ini banyak diminati warga Banda Aceh dan sekitar.

Apalagi, es dawet ayu asal Jawa Tengah ini punya cita rasa khas di tenggorokan dan sudah melegenda ke antero Nusantara sejak sedia kala. Anda tak percaya, silahkan coba! | TETI SUNDARI, Kontributor Banda Aceh.


.

Komentar

Loading...