Gahwa; Kopi Setengah Cangkir dari Arab

Gahwa; Kopi Setengah Cangkir dari Arab
Kopi Arab atau Gahwa Arabi sebagai minuman selamat datang yang disajikan bagi para tamu yang berkunjung ke negara Arab |iStockphoto

Gahwa biasanya disajikan dalam ceret yang disebut dallah. Dallah akan dibawa berkeliling ke seluruh tamu dan dituang ke dalam finjan gahwa.

KBA.ONE - Pernah mendengar kata gahwa? Jika masih asing di telinga, gahwa adalah sebutan kopi khas Arab. Kopi ini juga dikenal dengan nama gahwa arabi. Dalam budaya dan tradisi Arab, gahwa biasanya disajikan sebagai welcome drink atau minuman selamat datang sebagai upaya memuliakan tamu.

Jangan membayangkan gahwa serupa seduhan kopi di tanah air yang hitam pekat dengan aroma khas biji kopi. Warna gahwa cenderung cokelat muda, atau cokelat kekuningan beraroma rempah. Perbedaan warna ini berkaitan dengan proses pemanggangan biji kopi yang tidak memakan waktu lama. Karena itu, kandungan kafein gahwa pun cukup tinggi.

Nah, untuk menetralisir kafein dalam gahwa, saat proses perebusan, biasanya akan ditambah rempah seperti safron, jahe, cengkeh, kunyit, dan kapulaga. Itulah kenapa kopi khas Arab ini lebih didominasi aroma rempah. Rasanya? Sangat pahit. Karena itu dalam penyajian biasanya akan didampingi butiran kurma atau coklat.

Sekadar catatan, budaya minum kopi di negara-negara Timur Tengah atau jazirah Arab sebetulnya sama tuanya dengan tradisi minum teh di negeri Tirai Bambu. Dan, seperti halnya menyesap teh, tradisi minum kopi ini pun sarat akan makna.

Gahwa biasanya disajikan dalam ceret yang disebut dallah. Dallah akan dibawa berkeliling ke seluruh tamu dan dituang ke dalam finjan gahwa, cangkir khusus tanpa pegangan berukuran kecil.

Gahwa hanya dituang setengah cangkir saja. Kenapa? Alasannya simpel. Cangkir yang memuat gahwa berukuran kecil dan tidak memiliki pegangan. Jika diisi penuh dengan gahwa yang sangat panas, tentu akan merepotkan tamu. "Anda kan tidak ingin jari tamu Anda kepanasan," ujar Abdullah, seorang utusan Uni Emirat Arab.

Makna lainnya, Abdullah melanjutkan, jika tuan rumah menuang penuh gahwa pada cangkir, itu merupakan cara halus memberitahukan tamu bahwa mereka sudah kelamaan berkunjung.

Yang harus diketahui lagi, jika tuan rumah ingin membicarakan penting dan rahasia, biasanya yang dilakukan ia akan meminum sedikit gahwa dan menaruh cangkir di bawah. "Itu artinya ada sesuatu yang akan dibicarakan," ujar Abdullah.

Dalam tradisi minum teh, tuan rumah biasanya akan menuangkan sampai tiga kali gahwa. Namun jika satu cangkir dirasa sudah cukup, Anda tinggal menggoyang-goyangkan cangkir. Itu tandanya Anda tidak ingin cangkir diisi lagi alias sudah cukup.

Komentar

Loading...