Gara-gara Covid-19, Enam Maskapai ini PHK Ratusan Karyawannya

Gara-gara Covid-19, Enam Maskapai ini PHK Ratusan Karyawannya
Ilustrasi parkir pesawat. | Dok. www.newshub.co.nz.

Garuda Indonesia baru-baru ini mengumumkan akan mengakhiri kontrak terhadap 700 pekerja mereka.

KBA.ONE, Jakarta - Pandemi Covid-19 yang berlangsung secara berkepanjangan dalam beberapa bulan terakhir membawa dampak luas dalam kehidupan manusia, termasuk dalam aspek industri. Berbagai industri, mulai dari pariwisata, properti, perbankan, dan sebagainya mengalami pukulan yang cukup telak. Selain terjadi penurunan pendapatan, ancaman bangkrut menanti di depan mata. Salah satu industri yang terdampak yakni penerbangan.

Kebijakan pembatasan penerbangan, menurunnya pendapatan masyarakat hingga kekhawatiran terjadinya penyebaran virus corona membuat penggunaan pesawat udara kian terpinggirkan. Sejumlah maskapai penerbangan pun berupaya memutar otak untuk menutup biaya operasional yang harus dikeluarkan.

Ada yang mencoba mendapatkan pemasukan tambahan dengan berbagai cara, mulai dari membuka simulasi pelatihan khusus pilot untuk  wisatawan, menjadikan pesawat menjadi restoran, dan sebagainya.

Namun ada juga yang terpaksa memberhentikan ribuan pekerjanya demi memangkas beban yang harus dikeluarkan perusahaan.

Merangkum sejumlah pemberitaan Kompas,com sebelumnya, opsi pemutusan hubungan kerja (PHK) ini sebagaimana diambil oleh keenam maskapai berikut ini:

Garuda Indonesia 

 Foto, Tangkapan layar pesawat maskapai penerbangan Garuda Indonesia menggunakan masker, Selasa (13/10/2020).| Dok. Instagram @garuda.indonesia.

Garuda Indonesia baru-baru ini mengumumkan akan mengakhiri kontrak terhadap 700 pekerja mereka akibat penurunan pendapatan perusahaan selama masa pandemi ini. Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan, ratusan karyawan tersebut diselsaikan lebih awal kontraknya. Mereka juga merupakan karyawan dengan status tenaga kerja kontrak.  

Diketahui, kontrak 700 pekerja tersebut sedianya masih berlangsung hingga beberapa waktu ke depan, namun terpaksa harus diakhiri lebih cepat, karena penurunan pendapatan dunia penerbangan beberapa waktu terakhir.

Meski diputus kontraknya lebih cepat, pihaknya berjanji akan memenuhi hak-hak yang seharusnya para pekerja itu dapatkan, termasuk pembayaran atas sisa kontrak masing-masingnya. 

Singapore Airlines 

Pesawat tipe Airbus A380 pada maskapai penerbangan Singapore Airlines, (8/10/2013). | SHUTTERSTOCK/RYAN FLETCHER.

Maskapai penerbangan asal Negeri Singa, Singapore Airlines berencana untuk memutuskan hubungan kerja kepada 4.300 karyawannya, atau 20 persen dari total SDM yang mereka miliki.

Rencana ini juga dikomunikasikan kepada serikat pekerja yang ada di bawah naungannya. Diberitakan Kompas.com (11/9/2020), PHK terjadi akibat dampak negatif yang ditimbulkan pandemi terhadap usaha penerbangan mereka.

Tidak hanya pegawai Singapore Airlines yang terimbas kebijakan ini, namun juga pegawai yang bekerja di dua maskapai naungannya, Silk Air dan Scoot.

3. American Airlines

Lihat Foto American Airlines.| Theverge.com.

Per 1 Oktober 2020, American Airlines telah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada 19.000 karyawannya akibat penurunan permintaan perjalanan udara yang disebabkan merebaknya Covid-19.

Mengutip Kompas.com (26/8/2020), setidaknya sudah ada 12.500 karyawan yang dengan sukarela meninggalkan perusahaan penerbangan terbesar di dunia ini. Ada juga 11.000 karyawan lain yang sepakat untuk dirumahkan per 1 Oktober lalu.

Meski sudah puluhan ribu yang mundur dan siap dikeluarkan dari perusahaan, American Airlines tetap butuh memangkas 19.000 lagi karyawannya. Tahun ini, tercatat ada 133.700 karyawan yang bekerja di American Airlines.

4. Cathay Pacific 

Foto Ilustrasi Cathay Pasific. | Cathay Pasific.

Sama halnya dengan maskapai asal Hong Kong yang satu ini, Cathay Pacific terpaksa memangkas ribuan karyawannya yang ada di Hong Kong dan China daratan. Tak tanggung-tanggung, jumlahnya mencapai 5.900 orang pekerja.

Mengutip Kompas.com (21/10/2020), jumlah ini mencapai 24 persen dari total karyawan yang mereka miliki. Langkah ini diambil guna mengurangi beban dan kebutuhan uang tunai perusahaan.

Dengan begitu, diharapkan perusahaan tetap dapat memberikan pelayanan yang terbaik bagi konsumen juga karyawan yang tersisa.

5. Emirates 

Foto Ilustrasi Maskapai Emirates.| Dok. Emirates.

Maskapai asal Uni Emirat Arab, Emirates, telah memastikan akan memangkas 9.000 pegawainya sejak Juli lalu. Disebutkan dalam Kompas.com (11/7/2020) total pegawai Emirates semula ada di angka 60.000 orang, akibat pandemi, mereka telah memangkas sepersepuluh di antaranya.

Dirasa masih berat, Emirates pun kembali melakukan PHK, kali ini kepada 9.000 karyawannya. PHK sebagian besar dikenakan pada pilot dan awak kabin pesawat Airbus, bukan Boeing.

Alasannya, pesawat Boeing milik maskapai ini bermuatan besar, bisa menampung 500 orang dalam sekali perjalanan, sementara Boeing memiliki kapasitas yang lebih sedikit. Sehingga di masa pandemi di mana jumlah penumpang sangat minim lebih mungkin dan mudh untuk dioperasikan.

6. Qantas 

Penerbangan Qantas akan menggunakan 787 Dreamliner mengitari Australia, pesawat yang biasa digunakan untuk penerbangan jarak jauh Perth-London.| Foto: QANTAS via ABC INDONESIA. 

Maskapai asal Australia, Qantas mem-PHK 6.000 karyawannya akibat dampak pandemi yang dirasakan perusahaan. Dengan langkah ini, perusahaan berharap makapai mereka dapat tetap bertahan dalam melalui wabah penyakit yang belum taHu kapan akan berakhir ini.

Mengutip Kompas.com (25/6/2020), jumlah karyawan yang mendapat PHK itu setara dengan 20 persen dari total pegawai sebelum terjadi krisis akibat pandemi. Sebelumnya, medio Maret 2020, Qantas telah merumahkan sementara sebanyak 80 persen pegawainya demi meminimalkan pengeluaran dari pendapatan yang jauh berkurang.

Terlebih setelah pemerintah Australia menutup perbatasan, sehingga maskapai ini harus meniadakan seluruh rute internasional, kecuali ke Selandia Baru. ***

Komentar

Loading...