Geger Hoax Ratna Sarumpaet

Geger Hoax Ratna Sarumpaet
Ilustrasi | Pixabay.com

Ratna sebetulnya tak dipukul. Foto muka lebam dirinya yang beredar di dunia maya tak lebih karena imbas operasi plastik di sebuah klinik.

Emak-emak se-Nusantara, inilah pencipta hoax terbaik di negeri ini. Namanya Ratna Sarumpaet. Dua hari ini ia telah bikin geger seisi negeri gara-gara cerita dirinya dianiaya beberapa pria hingga lebam-lebam. Banyak orang kemudian bertengkar gara-gara informasi palsu yang diciptakan nenek 70 tahun ini.

Ratna yang berada di barisan koalisi capres-cawapres 02 bahkan ikut menyeret calon presiden Prabowo Subianto ke dalam kebohongannya. Prabowo bahkan sampai menggelar jumpa pers yang isinya mengutuk kekejaman terhadap Ratna. "Ini sangatlah ironi, saya diberitahu hari ini 2 Oktober 2018 adalah Hari Anti Kekerasan Internasional," ujar Prabowo.

Ratna sebetulnya tak dipukul. Foto muka lebam dirinya yang beredar di dunia maya tak lebih karena imbas operasi plastik di sebuah klinik. Menurut Ratna, ketika ia pulang ke rumah, anaknya bertanya kenapa. Ia pun menjawab: dipukul orang. "Selama seminggu lebih sebenarnya cerita itu hanya berputar-putar di keluarga saya saja," ungkap Ratna dalam jumpa pers, Rabu 3 Oktober 2018.

Ia pun menambahkan, "Saya nggak pernah membayangkan terjebak ke dalam kebodohan seperti ini. Saya terus mengembangkan ide pemukulan itu dengan beberapa cerita. Cerita khayalan yang diberikan oleh setan mana kepada saya."

Lebih lanjut, Ratna meminta maaf kepada rekan-rekannya di koalisi yang ikut menggoreng cerita itu hingga menjadi hoax berjamaah. Terutama kepada Prabowo disebutnya ikut membela kebohongan itu. "Kali ini saya pencipta hoax terbaik."

Ratna sudah minta maaf tapi isu itu kadung tersebar di dunia maya bahkan dikutip secara terang-benderang oleh media-media mainstream. Jejak-jejak digital itulah yang kini ditelusuri lebih lanjut oleh polisi supaya ada efek jera pada pelaku. Instrumen hukumnya, pasal 28 ayat 1 Undang-undang Informasi dan Tranksaksi Elektronik. Di situ disebutkan, "Setiap orang yang dengan sengaja dan atau tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan, ancamannya bisa terkena pidana maksimal enam tahun dan denda maksimal Rp1 miliar."

Jangan main-main sama hoax. Efek negatifnya sungguh luar biasa. Kita boleh tidak sepakat dengan satu hal tapi tidak menjadi pembenaran untuk ikut mengibarkan kabar bohong. Karena di situlah hoax berbiak. Hoax akan dipercaya oleh orang yang sepaham dengan kabar tersebut.

Dari kasus Ratna Sarumpaet kita harus bercermin, jangan telan mentah-mentah informasi yang beredar sebelum mengeceknya sendiri. Jika hari ini kita menjadi "penikmat" dari hoax tersebut, bayangkan esok hari yang terjadi sebaliknya; kita justru jadi korbannya. Amati lekat-lekat perintah dan tombol share di gawai Anda. Ketika ikut menyebarkan, Anda berarti telah bertanggung jawab atas kebenaran informasi tersebut.

Komentar

Loading...