Geliat Parasunda di Tanah Rencong

Geliat Parasunda di Tanah Rencong
Sekretarian Parasunda di Banda Aceh. | KBA.ONE: Teti Sundari.

Parasunda memiliki sekitar 2.000 an anggota yang tersebar di beberapa kabupaten/kota yang ada di Aceh.

KBA.ONE, Banda Aceh—Hujan dengan intensitas sedang mengguyur kota Banda Aceh di Jum'at sore, 26 April 2019. Namun, itu tidak menghambat aktivitas di sebuah ruko 3 lantai, di kawasan Gampong Lhong Raya, Kecamatan Banda Raya.

Bangunan yang digunakan sebagai kesekretariatan oleh Paguyuban Masyarakat Pasundan Aceh (Parasunda) itu, tetap bergeliat di sore menjelang malam.

Beberapa anggota terlihat sedang berlatih menyanyikan lagu Sunda, diiringi alat musik khas Sunda pula.

Cecep Rahmat, ketua Parasunda, kepada KBA.ONE, mengatakan sudah 9 tahun lamanya Parasunda berdiri secara resmi, yaitu sejak 5 Mei 2010 dan terdaftar di Kemendagri dengan bidang organisasi budaya dan sosial di tahun 2017.

“Sebenarnya, sejak 1966, perkumpulan ini sudah terbentuk, tapi namanya berubah ubah,” cerita Cecep.

Ketua baru yang terpilih pada Januari 2019 ini merinci bahwa Parasunda memiliki sekitar 2.000 an anggota yang tersebar di beberapa kabupaten/kota yang ada di Aceh.

"Untuk anggota yang terdata dan memiliki kartu anggota, ada sekitar 210 orang," tambahnya. 

Cecep, Ketua Parasunda. | KBA.ONE: Teti Sundari.

Mereka yang berkumpul di bawah payung parasunda berlatar belakang pekerjaan beragam. PNS, tukang, pedagang, istri TNI atau POLRI hingga Anggota TNI dan POLRI itu sendiri pun bergabung di dalam paguyuban yang didirikan bertujuan menjalin silahturahmi para perantau dari Tanah Sunda tersebut.

Walau begitu, Parasunda tak lantas menutup pintu untuk non sunda. Dari pengakuan Cecep diketahui bahwa anggota yang tergabung di dalam Parasunda dibagi ke dalam 3 kelompok.

"Anggota biasa, luar biasa dan kehormatan. Anggota biasa yang orang tuanya asli sunda. Anggota luar biasa yang salah satu orang tuanya asli sunda. Dan anggota kehormatan, orang non sunda namun respek dengan orang Sunda," terang pak Cecep.

Abdya, Simeulu, Lhokseumawe bergabung dengan Aceh Utara, serta Kutacane dengan Gayo Lues, adalah di antara Kabupaten yang telah terbentuk Parasunda di dalamnya.

"Untuk Sabang dan Aceh Besar, bergabung dengan Parasunda provinsi (Banda Aceh). Sedangkan Meulaboh yang gabung dengan Nagan Raya, namanya itu USA, Urang Sunda Aceh," jelas lelaki berkacamata ini.

Perekrutan anggota, khususnya orang Sunda yang ada di Aceh, kata Cecep, dilakukan melalui ajakan mulut ke mulut.

"Alhamdulilah untuk Banda Aceh, Aceh Besar, dan Sabang, sudah hampir semua terekrut," ujar Cecep.

Walau begitu, perekrutan anggota tidaklah selalu berjalan lancar. Diakui olehnya tak jarang ada yang bersikap kurang peduli akan ajakan bergabung tersebut.

"Kalau mereka ingin merasa ada persaudaraan di rantauan, akan bergabung. Tapi kan sifat manusia berbeda beda, ada yang ingin tau, ada yang tidak," ungkap Cecep sembari tersenyum kecil.

Hingga kini, Paguyuban Masyarakat Pasundan Aceh tersebut, diakui Cecep, belum memiliki kantor tetap. Sudah sejak 2017 mereka menyewa sebuah ruko 3 lantai setelah sebelumnya menyewa sebuah rumah di daerah Punge.

Ia juga menjelaskan, untuk biaya operasional paguyuban, adalah dari anggota sendiri.

"Biaya operasional diambil dari iuran anggota, yaitu Rp10.000,- per bulan, per anggota. Alhamdulilah kekompakan anggota untuk menyumbang tetap terjaga,” jelas Cecep yang baru menjabat ketua 4 bulan tersebut.

Untuk menambah kas paguyuban, pengurus juga menjual kaos Parasunda yang diperuntukkan bagi para anggota Parasunda sendiri.

Kegiatan Seni dan Olahraga

Parasunda juga memiliki beberapa kegiatan di bidang olahraga seperti futsal dan outbond. Untuk kesenian, parasunda memfasilitasi tari dan musik serta kegiatan keagaamaan.

"Saya bahagia dengan adanya peguyuban ini. Kalau ada apa apa serasa ada saudara. Kayak di kampung sendiri,” kata Teh Nina, salah anggota Parasunda yang juga istri seorang anggota TNI.

Melalui para anggota parasunda itu pula, makanan khas Sunda mulai banyak diminati di Tanah Rencong. Cilok, cireng, dan seblak adalah makanan khas Sunda yang mulai akrab dengan lidah masyarakat Aceh. 

Kegiatan seni Parasunda. | KBA.ONE: Teti Sundari.

Teh Nina mengakui dirinya yang kini sering membuka pesanan makanan khas Sunda dan berbagai jenis kue, mulai berani menjajal dunia bisnis kecil-kecilan sejak bergabung di Parasunda.

"Untuk anggota Parasunda, orang Sunda khususnya,harapan saya mereka bisa mandiri. Dan hidup di perantauan itu jadilah seperti air, selalu mengikuti bentuk wadahnya. Di mana bumi dipijak di situ langi dijunjung," kata Cecep sembari tersenyum. | TETI SUNDARI, Kontributor Banda Aceh.

Komentar

Loading...