Gempa Bumi Juga Mengancam Aceh dari Dasar Daratan

Gempa Bumi Juga Mengancam Aceh dari Dasar Daratan
Muksin Umar, peneliti TDRMC Unsyiah. Foto: KBA/Reza Gunawan.

Masyarakat dan pemerintah harus belajar dari gempa bumi di laut, seperti pada Desember 2004, dan gempa darat di Pidie Jaya, tahun lalu.

KBA.ONE, Banda Aceh – Selain rawan terjadinya gempa bumi di lautan yang dapat memicu gelombang tsunami, sebagian besar wilayah Aceh juga rawan terhadap gempa bumi di daratan karena memiliki beberapa sesar aktif yang dapat memicu terjadinya gempa, kapan saja. Sesar ini timbul karena pergerakan lempeng Indo Australia-Eurasia yang masuk ke bawah Sumatera. Sesar utama yang aktif itu adalah sesar Sumatera yang berada di sepanjang Aceh hingga ke Lampung.

“Namun ternyata, banyak sesar-sesar aktif di Aceh yang selama ini kita tidak tahu, terutama di bagian utara Aceh,” kata Koordinator Group Riset Geohazard dari Pusat Kajian Tsunami dan Mitigasi Bencana atau TDRMC Unsyiah, Muksin Umar, kepada KBA, Rabu, 27 Desember 2017.

Di daratan Aceh terdapat beberapa sesar aktif yang terdeteksi. Ini tidak tergolong dalam sesar utama atau sesar Sumatera. Sesar itu adalah sesar Seulimuem mengarah ke Sabang, Sesar Batee di wilayah barat Aceh, Sesar Samalanga; mulai dari Aceh Tengah sampai ke utara (Samalanga), serta sesar Pidie Jaya. Dari kajian TDRMC, kata Muksin, terdapat temuan baru yaitu sesar aktif di wilayah utara Aceh, yaitu sesar Lhokseumawe. Selain itu di Sesar Aceh Tengah juga terdapat banyak cabang, satu di antaranya mengarah ke utara Aceh.

“Meski tak menimbulkan tsunami, dampak gempa bumi di darat memiliki daya rusak lebih besar karena berada di wilayah penduduk. Gempa ini lebih menghancurkan bangunan. Kalau di laut dan tsunami ada waktu untuk menyelamatkan diri, sedangkan gempa darat sangat dekat dengan penduduk dan sangat merusak,” ujar Muksin.

Sementara di lautan, Muksin mengatakan wilayah Aceh rawan terjadinya gempa di lautan karena memiliki subduksi atau temuan dua lempeng; Indo Australia dan Eurasia.

“Selain di wilayah Subduksi Lempeng, gempa-gempa yang sering terjadi belakangan ini juga terjadi di daerah di luar subduksi, contohnya gempa kembar (8,6 dan 8,2 SR) pada 2012 dahulu, ini bukan di zona subduksi. Beruntung gempa waktu itu gempanya sesar datar, bukan naik dan turun, sehingga tidak menimbulkan tsunami,” ujarnya.

Penemuan-penemun ini, kata Muksin, tidak untuk menakuti masyarakat. Sebaliknya, masyarakat harus mengetahui dan mempersiapkan diri terhadap bencana. Menurut Muksin, gempa bumi dan tsunami itu adalah sesuatu yang harus terjadi, karena lempeng terus bergerak dan menyebabkan gempa.

“Kita bisa belajar dari gempa bumi di laut, seperti 2004 dan gempa darat di Pidie Jaya. Karena itu, masyarakat dan pemerintah harus mampu merancang bangunan yang berkualitas dengan konstruksi tahan gempa. Tidak bisa dibuat asal-asalan,” kata Muksin.

Komentar

Loading...