Giliran Robot Ancam Wartawan

Giliran Robot Ancam Wartawan
Foto: nieman lab

Sejumlah media massa besar mulai beralih menggunakan robot dengan memadukannya dengan kecerdasan buatan.

KBA.ONE, Banda Aceh - Tren penggunaan robot kini menyentuh hampir semua aspek kehidupan. Robot dinilai memiliki kecepatan dibandingkan manusia. Biaya yang digunakan perusahaan ketika memanfaatkan robot lebih murah dibandingkan ketika menggunakan tenaga manusia.

Robot tidak memerlukan biaya sekitar 400 ribu dolar Amerika Serikat untuk dana pensiun atau biaya asuransi kesehatan. Berbagai sektor industri mulai memanfaatkan tenaga robot untuk melakukan kegiatan perusahaan, tak terkecuali dalam industri media massa.

Jurnalis robot 'si pembuat berita' tengah menjadi tren bagi media masa dunia. Laman The Wrap melaporkan, Google memberikan investasi senilai 800 ribu dolar AS kepada United Kingdom Press Association untuk menciptakan jurnalis robot. Penggunaan robot berbasis kecerdasan buatan tersebut mampu menolong Press Association di seluruh dunia untuk menyumbang sekitar 30 ribu artikel berita setiap bulannya. Hal tersebut diumumkan Press Association pada awal Juli lalu.

Dekan Sekolah Jurnalistik Universitas Maryland, Amerika Serikat, Profesor Lucy A Dalglish, mengatakan robot sudah menyebar di dalam newsroom media masa di seluruh dunia. Robot secara khusus bisa diandalkan untuk menulis berita seputar olahraga. "Upaya ini sudah ada dalam dunia media masa selama satu dekade," ujar Dalglish.

Robot sudah digunakan oleh beberapa perusahaan media masa besar. Pendiri Amazon, Jeff Bezos, berhasil membeli The Washington Post pada 2013. Sejak saat itu, koran tersebut mengembangkan kecerdasan buatan dengan program Heliograf. Program tersebut bertujuan untuk mengawasi ajang Olympic Games di Brasil.

Tidak hanya itu, Heliograf juga mengawasi Congressional Races 2016 dan secara otomatis melakukan pembaruan berita terkait pemilihan. Meski demikian, Heliograf masih bergantung pada seorang penyunting  dalam membuat template naratif untuk tulisan. Heliograf dipakai untuk mengakses data, seperti data pada pembersihan rumah, ViteSmart.org pada pemilihan.

Perangkat lunak Heliograf akan mencocokkan data yang relevan, sementara editor melakukan penulisan ulang pada template. Kemudian secara otomatis robot akan melakukan pembaruan versi berita terkait pemilihan umum. Namun tetap membutuhkan bantuan jurnalis manusia, khususnya dalam melakukan analisa atau narasi yang jauh lebih spesifik.

Alasan The Washington Post menggunakan Heliograf pada dasarnya cukup sederhana, yaitu untuk meningkatkan jumlah pembaca. The Washington Post memiliki target pembaca yang lebih spesifik dan khusus. Selain The Washington Post, beberapa media lain juga menggunakan jurnalis robot, di antaranya, USA Today menggunakan Wibbitz, Reuters dengan News Tracer, dan Buzzfeed yang memiliki Buzz Bot.

Meski demikian, jurnalis robot tak bisa mengelak dari kesalahan, seperti misalnya yang dialami The Los Angeles Times dengan Quakebot yang mampu memprediksi gempa bumi secara otomatis. Kesalahan prediksi terjadi pada Juni lalu di Santa Barbara dengan gempa 6,8 Skala Richter (SR). Koran The Los Angeles Times memuat pemberitaan tersebut. Gempa besar di Santa Barbara memang benar terjadi, namun kejadian tersebut sudah lampau, yaitu pada 1925 silam. The Los Angeles Times kemudian mengoreksi pemberitaan tersebut.

"Seberapa besar teknologi bisa menggantikan dunia jurnalistik, pada kenyataan teknologi belum mampu melakukannya," kata Dalglish. Menurut dia, newsroom tetap membutuhkan manusia untuk menulis dalam bentuk berita berimbang.

Komentar

Loading...