Hakim Jamaluddin Sosok yang Ramah

Hakim Jamaluddin Sosok yang Ramah
Hakim Jamaluddin | Foto: Waspada.id

KBA.ONE, Nagan Raya - USAI menjalani autopsi dan disalatkan di masjid dekat RS Bhayangkara Medan, jenazah hakim PN Medan Jamaluddin diberangkatkan ke rumah duka di kampung halamannya, Nagan Raya, Aceh, Sabtu 30 November 2019 dini hari. Ketua PN Medan Sutio Jumagi akhirno bertindak sebagai imam salat.

Jenazah Jamaluddin kemudian dinaikkan ke mobil ambulance sekira pukul 01.45. Sejumlah hakim, panitera, pegawai turut mendampingi proses pemberangkatan almarhum. Pada kesempatan itu, Ketua PN Medan kembali berharap agar kepolisian mengusut tuntas penyebab kematian Jamaluddin.

Sosok ramah

Kabar meninggalnya hakim PN Medan yang juga Humas, Jamaluddin, tidak hanya mengejutkan para hakim. Tetapi sejumlah awak media yang sehari-hari bertugas di PN Medan, juga sangat merasa kehilangan. Hakim yang biasa dipanggil Jamal, merupakan Hakim Karier dengan jabatan Hakim Utama Muda dan pangkat Pembina Utama Madya golongan IV/d.

Ia lahir di Nigan, Nagan Raya Aceh dan tinggal di Perumahan Royal Monaco Blok B Kel. Gedung Johor Kec. Medan Johor. Dalam keseharian, Jamal dikenal sebagai hakim yang ramah senyum, bahkan awak media sangat mudah untuk berinteraksi dengan humas PN Medan ini di ruang kerjanya. Jamal selalu terbuka menerima awak media saat mengkonfirmasi segala yang terjadi di PN Medan.

"Pak Jamal itu orang baik. Saya sangat terkejut pas mendengar berita meninggalnya dia. Dia itu sangat ramah dan terbuka kepada kita wartawan," kata Rido salah satu wartawan yang biasa meliput di PN Medan. Tidak bisa dipungkiri, hakim yang juga merangkap humas ini, dalam sehari-hari Jamaluddin selalu berhubungan dengan para awak media.

Dia sangat bersabar mengahadapi setiap pertanyaan yang dilontarkan para awak media. "Dia selalu memberikan informasi dan konfirmasi kepada wartawan yang membutuhkan perimbangan berita. Selain itu, ia juga kerap bercanda dengan kami para wartawan yang meliput di PN Medan," kata Fuad Siregar, wartawan lain yang biasa meliput di PN Medan. Menurut Fuad, Jamal tak canggung bila ruang kerjanya ditongkrongi para wartawan yang hanya sekedar bersenda gurau bersama di ruang kerjanya.

Dia juga sangat terbuka terkait sistem informasi perkara yang terkadang sering bermasalah saat diakses. "Kadang sesekali, akses informasi penelusuran perkara yang diatur di Sistem Informasi secara online tidak lengkap. Ketika kita ceritakan keluhan itu, Pak Jamal langsung menelepon staf IT untuk memperbaiki. Pada hari itu juga langsung bisa. Selama menjadi mitra kerja, Pak Jamal saya kenal adalah sosok yang humanis dan baik," tambah Fuad.

Dalam satu kesempatan sebelum Jamaluddin meninggal, Waspada pernah berbincang dengan Jamaluddin terkait kehidupannya. Sejak kecil, Jamaluddin tidak pernah bercita-cita jadi hakim. Orang tuanya yang saat itu hanya seorang petani kecil, menyuruhnya agar masuk ke perguruan tinggi mengambil jurusan ilmu kedokteran. Namun sayang, dua kali tes, Jamaluddin gagal.

Setelah lama melanglang buana, tahun 2008 Jamaluddin ke Banda Aceh mengambil kuliah di Kampus Unsyiah. Ia mengambil jurusan hukum hingga memperoleh gelar S2 nya di kampus yang sama. Sebagai seorang anak petani Jamaluddin sangat bersyukur bisa menjadi seorang hakim. Itu semua berkat kegigihan dan doa orangtuanya yang bersikeras mendorong anak-anaknya untuk menjadi orang sukses.

Menurut Jamaluddin, salah satu kunci dalam menjalani kehidupan, harus bisa memisahkan antara urusan pekerjaan dengan urusan rumah tangga. Tanpa itu, hidup terasa sulit dinikmati. Dalam hidup ini, kata Jamaluddin, kalau kita bertekad dan berusaha dibarengi doa Insyaallah, keinginan kita akan diijabah Allah SWT. Selamat Jalan Pak Jamal.

Komentar

Loading...