Harga Ayam Potong di Banda Aceh Masih Mahal, Sementara Daging Stabil

Harga Ayam Potong di Banda Aceh Masih Mahal, Sementara Daging Stabil
Penjual daging di Pasar Al Mahira Lamdingin, Banda Aceh. | Foto: KBA.ONE, Tasya

KBA.ONE, Banda Aceh - Dua pekan setelah lebaran Idul Fitri 1442 Hijriah, harga ayam potong di Banda Aceh masih melonjak. Hal ini disampaikan salah seorang pedagang ayam potong di Pasar Al Mahirah Lamdingin, Agus, Jum’at 28 Mei 2021.

Agus mengatakan saat ini ayam potong berukuran besar seharga Rp55-60 ribu, padahal sebelumnya Rp50 ribu per ekor. Sedangkan yang ukuran kecil Rp45-50 ribu, sebelumnya Rp40 ribu per ekor.

"Harganya segini dari meugang lebaran, sama kayak pas masih di Pasar Peunayong, masih naik harganya," ungkapnya kepada KBA.ONE.

Menurut pria berumur 43 tahun ini, faktor penyebab mahalnya harga ayam lazimnya karena banyak permintaan pasar. "Kalau hari itu permintaan banyak. Kalau sekarang enggak tau kenapa? padahal permintaan kurang, tapi masih dipertahankan harga segini," tuturnya.

Berbeda dengan salah satu pedagang daging kambing, Anju Mahendra, 30 tahun. Ia mengatakan kini harganya sudah stabil menjadi Rp130 ribu per kilogram (kg).

"Kalau mahal nanti Rp150 ribu pas meugang. Tapi, masyarakat biasanya lebih minat daging sapi dari pada kambing," bebernya.

Penjual ayam potong di Pasar Al Mahira Lamdingin, Banda Aceh. | Foto: KBA.ONE, Tasya

Kemudian, salah satu pedagang daging sapi, Usan Jaya, menyebutkan sekarang harga daging sapi berada di angka Rp140 ribu. “Khusus di hari meugang aja Rp180 ribu," lanjutnya.

Namun, kata Usan, di hari ketiga usai relokasi pasar, pembelinya belum begitu ramai. "Di sini masih biasa aja, belum ramai. Mungkin karena beradaptasi dulu lah, karena masih baru ya di hari ketiga. Tapi lebih rame di sana," ungkapnya.

"Mungkin kalau pedagang daging yang di Beurawe dipindahkan ke mari, orang semua ke sini. Nih karena tertahan yang di Beurawe," lanjut Usan.

Sementara itu, salah seorang pembeli ayam potong, Teuku Ridwan, 62 tahun, menanggapi upaya pemindahan pasar dari lokasi sebelumnya sangatlah positif. "Karena setau saya ini sudah dua kali pemindahan," katanya.

Ia berharap setelah pemindahan pasar ini, Kota Banda Aceh tidak semakin semrawut. "Harapannya ini bisa menjadi pasar induknya Kota Banda Aceh. Jadi semuanya belanja di sini," ujarnya.

Namun, sayangnya, jarak antar pasar ikan, unggas, dan daging terlalu berjauhan, karena terpisah oleh pasar lainnya. Sehingga, pembeli merasa sedikit kesulitan, karena harus berjalan dari ujung ke ujung.

"Tapi yang penting orang sudah mau kemari. Kita jaga kebersihannya sama-sama. Kita harapkan untuk tahun ini dan tahun berikutnya menjadi lebih baik, dan apa yang perlu kita benahi, kita benahi," harapnya.*** | TASYA, Kontributor Banda Aceh

Komentar

Loading...