Kedelai di Banda Aceh Semakin Langka

Harga Kedelai Impor Meroket, Pengusaha Tempe Terancam Gulung Tikar

Harga Kedelai Impor Meroket, Pengusaha Tempe Terancam Gulung Tikar
Proses produksi tempe di tempat usaha milik Jafar | Foto : KBA.ONE, Try Vanny

KBA.ONE, Lhokseumawe - Melonjak hingga 40%, harga kedelai impor berpengaruh terhadap pengusaha tempe, pelaku usaha  terpaksa memperkecil ukuran dan membatasi jumlah produksi untuk tetap bisa menjual tempe dengan harga yang sama.

Salah seorang pengusaha tempe Jafar Usman di Lhok Seumawe menjelaskan, kenaikan harga kedelai mulai terjadi sejak sepekan terakhir yang membuat para pengusaha tahu dan tempe kesulitan membei bahan baku. Saat ini, ia terpaksa memedan kedelai impor dari Medan dengan harga Rp10 ribu perkilogram.

"Harga awalnya Rp6 ribu perkilogram, kedelai lokal juga tidak ada. Kalau begini terus, usaha saya terancam tutup karena nilai jual tidak seimbang dengan nilai beli," keluhnya, Senin 4 Januari 2020.

Sambungnya, harga penjualan juga terus menurun akibat ukuran tempe yang kecil. Biasanya, Jafar bisa memproduksi satu ton kacang kedelai perhari, namun saat ini hanya 700 kilogram. Tenaga kerja juga terpaksa dikurangi, yang awalnya 20 orang saat ini hanya tersisa 12 orang saja.

"Kami berharap, pemerintah bisa mengsubsidi harga kedelai, ataupun kedelai lokal kembali tersedia untuk memenuhi bahan baku produksi tempe, jadi kami tidak perlu membeli yang impor yang harganya tidak stabil," harapnya. 

Pengusaha tempe merek Soya, di kawasan Aceh Besar, Basri Ubit juga mengungkapkan saat ini bahan baku tempe kacang kedelai semakin langka di Aceh.

Basri Ubit, kepada KBA.ONE mengatakan bahwa dirinya biasa memesan kedelai berkualitas tinggi dari negeri paman sam, Amerika melalui agennya di Medan Sumatra Utara.

Namun hampir sepekan ini kedelai yang dipesan tak kunjung datang, padahal permintaan tempe produksi Soya semakin tinggi, bahkan bisa mencapai 2 hingga 3 ton perhari," ungkap Basri.

Komentar

Loading...