Harta, Tahta, dan Neraka

Harta, Tahta, dan Neraka
Ilustrasi | pixabay

Harta bagi kita bagaikan pisau yang tajamnya dua sisi, kadang bisa melukai orang lain dan tidak jarang melukai diri sendiri.

HARTA dalam bahasa Arab disebut al-maal, berasal dari kata مَالَ – يَمِيْلُ – مَيْلاَ yang berarti condong, cenderung, dan miring. Harta menurut syariat: segala sesuatu yang bernilai, bisa dimiliki, dikuasai, dimanfaatkan menurut syariat yang berupa (benda dan manfaatnya).

Eksistensi al-māl (harta) merupakan suatu keniscayaan dalam kehidupan manusia. Tanpa harta, manusia takkan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya baik yang tergolong primer (dharūriyyat), sekunder (hājjiyat),dan tertier (taḥsiniyyat).

Harta yang kita punya dan kita dapatkan sungguh sangatlah nikmat tetapi harta yang kita punya ternyata dapat membawa kita ke jalan menuju neraka. Loh, kok, bisa?!

Sebaliknya, harta yang kita dapatkan akan menjadi harta berkah jika kita memakainya dengan cara yang berkah pula. Berikut ini cara agar harta menjadi halal dan berkah.

  • Mendapatkannya dengan cara yang halal (contoh: bukan hasil mencuri);
  • Membagikan sebagian harta yang kita dapatkan kepada anak yatim.

Dan, harta yang kita dapatkan akan membawa kita ke jalan menuju neraka jika:

  • Mendapatkannya dari hasil yang kotor; 
  • Menggunakannya untuk hal yang sangat dibenci oleh Allah SWT;
  • Menduakan Allah SWT (contoh: ke dukun).

Terdapat juga sifat manusia yang dibenci Allah SWT dengan harta yang ia punya, apakah itu?

Tamak 

Pengertian tamak adalah cinta kepada dunia (hubbud dunya) berupa harta benda terlalu berlebihan tanpa memedulikan hukum haram yang menyebabkan adanya dosa besar. Pelakunya tidak pernah merasa puas, segala cara dianggap halal.

Pada dasarnya tamak dan bermegah-megahan dengan harta bisa mencelakakan manusia. Sebagaimana firman Allah SWT.

“Bermegah-megahan dengan harta telah mencelakakan kalian.”(QS.At Takatsur: 1)

Maka dari itu kita sebagai manusia yang mudah tergiur dengan manisnya harta, jangan sampai kita itu dibutakan oleh harta tersebut. Kelolalah harta kalian sesuai dengan apa yang telah di syariatkan baik berupa firman Allah maupun perkataan Nabi Muhammad Saw. 

Kenapa demikian? Ya, karena harta bagi kita itu bagaikan pisau yang tajamnya ada dua sisi, kadang kala bisa melukai orang lain dan tidak jarang juga melukai diri kita sendiri.

Bagaimana cara agar menghindari harta yang menuju neraka?

Adapun cara menghindarinya, yaitu:• Membiasakan hidup sederhana;• Tidak berlebihan atau bermegahan;• Bersedekah;• Berdoa;• Meyakinkan diri rezeki hanya berasal dari Allah SWT.

Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa semua kekayaan dan harta benda merupakan milik Allah, manusia memilikinya hanya sementara, semata-mata sebagai suatu amanah atau pemberian dari Allah. Manusia menggunakan harta berdasarkan kedudukannya sebagai pemegang amanah dan bukan sebagai pemilik yang kekal.

Karena manusia mengemban amanah mengelola hasil kekayaan di dunia, maka manusia harus bisa menjamin kesejahteraan bersama dan dapat mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah SWT. 

Penulis: Badrul Aini Lubis. Mahasiswi UMSU Medan, Jurusan Komunikasi.

Komentar

Loading...