Hasrat Bang Carlos Menjadi Pemimpin Prorakyat

Oleh ,
Hasrat Bang Carlos Menjadi Pemimpin Prorakyat
Aminullah Usman (tengah) | Facebook

Aminullah menegaskan dirinya sosok yang tegas dalam menjalankan hasil musyawarah. Bukan tipe orang yang suka memaksakan kehendak.

KBA.ONE - Aminullah Usman resmi dilantik sebagai Wali Kota Banda Aceh yang baru, Jumat, 7 Juli 2017. Ia dilantik oleh gubernur yang juga baru, Irwandi Yusuf. Bersama wakilnya, Zainal Arifin, Aminullah akan bertugas hingga 2022, melayani masyarakat Banda Aceh.

Aminullah dan Zainal Arifin meraih 63.087 suara atau 66,8 persen dari 94.453 suara sah pada Pilkada lalu. Mereka mengalahkan pasangan calon petahana Illiza Saaduddin Djamal dan Farid Nyak Umar. Pasangan ini hanya meraih 31.366 suara. Pilkada kali ini, hanya dua pasangan calon itu yang bertarung memperebutkan kursi kepemimpinan.

Aminullah merupakan Wali Kota Banda Aceh ke-14. Sosoknya sangat familiar bagi warga kota. Dia tidak hanya dikenal sebagai seorang bankir--pernah menjadi Direktur Utama Bank Aceh, tapi juga kepeduliannya terhadap dunia olah raga dan kepemudaan. Aminullah menggemari sepak bola. Tendangan kaki kirinya, konon, sekuat Roberto Carlos, pemain Brazil yang juga menjadi idolanya. Mungkin karena itu, ia kerap pula disapa Bang Carlos.

Pilkada 2017 adalah kali kedua Aminullah ikut dalam pemilihan wali kota. Pilkada sebelumnya, ia yang berpasangan dengan T Muhibban, harus mengakui keunggulan pasangan Mawardy Nurdin (almarhum)-Illiza Sa’aduddin Djamal sebagai kandidat petahana.

Karir Aminullah sebagian besar dihabiskan di bidang keuangan. Sebelum mengampu Bank Aceh, ia tercatat sebagai tenaga senior pusat pelayanan koperasi dan auditor di sebuah kantor akuntan. Di Bank Aceh, Aminullah menjadi karyawan senior sejak 1984 hingga 1999.

Selama menjadi direktur utama bank plat merah tersebut, Aminullah meraih beberapa penghargaan seperti The Best Award SDM Tingkat Nasional. Ia juga disebut mampu meningkatkan total aset PT Bank BPD Aceh dari Rp660 miliar menjadi Rp13 triliun. Di tangannya pula, Bank Aceh berekspansi dengan mengembangkan ratusan kantor cabang.

Di bidang organisasi, pria kelahiran 1 Agustus 1958 ini pernah mengemban beberapa jabatan seperti pengurus klub sepak bola PSLS Lhokseumawe, Sekum/Manajer Persiraja, dan Ketua Umum Pelti Aceh.

Sebelum dilantik, dia berharap dapat menjadi pemimpin yang mengutamakan kepentingan rakyat. Aminullah menegaskan dirinya sosok yang tegas dalam menjalankan hasil musyawarah. Bukan tipe orang yang suka memaksakan kehendak. "Saya mengutamakan kepentingan rakyat. Tidak ada istilah 'ini maunya saya'. Kita tegas tapi tidak hantam kromo. Kadang kala ide kita bagus, tapi tidak untuk orang lain. Bagi saya, penting untuk membangun komunikasi sebelum memutuskan sesuatu hal," ujarnya.

Aminullah berharap dapat segera menuntaskan masalah air bersih yang kerap menjadi keluhan warga kota. “Saya berharap ini bisa teratasi segera. Walaupun masih butuh waktu, masih butuh anggaran, tapi ada sisi-sisi yang bisa kita percepat sehingga pelayanan air bersih bagi seluruh warga kota bisa teratasi,” ujarnya saat ditemui di rumahnya kawasan Lampaseh, Banda Aceh, April lalu.

Di awal menjabat, Aminullah ingin bersilaturahmi ke internal pemerintahan hingga ke geuchik di gampong untuk kembali mengingatkan tentang visi dan misinya bersama Zainal Arifin. "Mereka harus memahami visi dan misi pemimpin daerah karena merekalah yang akan melaksanakan visi dan misi tersebut. Setelah itu, baru kami akan berkomunikasi dengan sejumlah pemimpin instansi di Banda Aceh," ujarnya.

Masalah perkotaan lain yang dianggap Aminullah penting untuk segera dicarikan jalan keluar adalah kemacetan. Ia ingin kemacetan di jam-jam tertentu bisa teratasi. Caranya, dengan membangun sistem komunikasi atapun sistem informasi jalan raya. "Sehingga masyarakat dapat memilih rute alternatif perjalanan mereka sebelum terjebak dalam kemacetan. Untuk saat ini, informasi tentang kemacetan sudah cukup. Terkadang kita sering terjebak dalam kemacetan. Mau maju tak bisa, mundur pun tak bisa."

Aminullah juga ingin menggenjot angka wisatawan ke Banda Aceh. Menurutnya, Banda Aceh harus menjadi kota yang nyaman dan mudah. "Pemerintah kota akan memperbaiki kualitas pelayanan di sektor wisata. Mulai dari objek wisata yang dibuat bagus, kemudian juga tersedia toilet yang bersih," ujarnya.

Di sisi lain, Aminullah tak terlalu memusingkan soal penyebutan Banda Aceh sebagai kota apa. Baginya, menurunkan angka pengangguran lebih utama. "Pengangguran akan semakin meningkat apabila tidak kita atasi. Kemudian timbul persoalan sosial akibat dari pengangguran. Mereka (para pengangguran) akan terjebak dalam peredaran narkoba dan kejahatan lain. Ada juga anak-anak kita yang pergi ke Medan (Sumatera Utara) dan bekerja tidak jelas di sana. Ini yang seharusnya jadi fokus pemerintah untuk dituntaskan."

Bagi Aminullah seorang pemimpin harus prorakyat, bebas intervensi dan responsif. Ia ingin setiap anggaran pendapatan dan belanja kota bermakna bagi masyarakat. "Dan ini dilakukan dengan program prorakyat."

Komentar

Loading...