Hikayat, Literasi Budaya Aceh yang Kian Memudar

Hikayat, Literasi Budaya Aceh yang Kian Memudar
Ilustrasi: Salah satu manuskrip tulisan tangan ulama Aceh tempo dulu. | Foto: Ist.

Oleh: Muazzah

“Tajak prang musoh beuruntoh dum sitrei Nabi 

Nyang meu eungki keu Rabbi keu Po nyang Esa 

Musoe hantem prang syit malang ceulaka tuboh rugoe roh 

Syuruga tan roh reugoe roh balah neuraka”

Syair di atas adalah penggalan dari hikayat Prang Sabi yang sangat legendaris di bumi  Aceh. Sebab dari syair itulah Aceh tak pernah benar-benar taklut di tangan penjajah. Hikayat Aceh merupakan sastra tutur yang mengisahkan banyak aspek kehidupan, mulai agama, sosial, hingga politik (perang). Hikayat dilantunkan dengan nada yang indah oleh berbagai kalangan, baik tua maupun muda, bahkan sebagai pengantar tidur yang dilantunkan ibu pada anaknya (Handoko Tedjo, 2017).

Jika mengkaji lebih dalam pada pembiasaan ibu yang melantunkan hikayat saat menidurkan anaknya, inilah hal yang paling mendasar dalam penanaman karakter pada generasi berikutnya. Sehingga darah pejuang terus tertanam dalam diri anak-anak Aceh. Hal ini terjadi karena
pemberian stimulus melalui alam bawah sadar jelas berdampak positif. Dalam ilmu Neurosains, hal ini dikenal sebagai hypnotherapy, artinya pengaktifan otak melalui motivasi yang dilakukan secara berulang-ulang di saat otak dalam keadaan paling rileks.

Menyenandungkan hikayat dilakukan oleh para ibu dengan keyakinan penuh bahwa setiap kata dalam syair tersebut akan terpatri dalam diri anaknya. Bukankah hal ini bagian dari literasi keluarga? Dulu, tanpa pengetahuan akan literasi, para ibu membiasakan melantunkan hikayat
dan syair penuh makna untuk pengantar tidur anaknya. Mereka tak tahu teori, tetapi yakin adanya manfaat besar dari pembiasaan tersebut, sehingga dilakukan sebagai rutinitas.

Literasi keluarga

Gambaran keluarga Aceh tempo dulu, kini bagai menjadi pemandangan asing. Para ibu masa kini tak lagi menyenandungkan berbagai hikayat sebagai pengantar tidur anak-anaknya. Dengan perubahan zaman, mestinya literasi keluarga Aceh kian maju. Hikayat mestinya tetap  dilantunkan oleh para ibu, bahkan bisa dimodifikasi dengan tema yang lebih luas. Seperti nilai-nilai luhur dalam kehidupan, hingga motivasi masa depan bagi anak-anaknya.

Atau jika tidak, para ibu bisa menggunakan alternatif lain dengan membacakan cerita-cerita yang bersifat membangkitkan imajinasi anak saat menjelang tidur. Lingkungan rumah yang kaya akan ragam bentuk pendekatan literasi, diyakini tak hanya bermanfaat saat anak pada usia dini, namun juga bermanfaat bagi masa depan si anak. Menurut Tarelli dan Stubbe (2010), rumah yang memiliki atmosfer literasi yang kaya sangatlah penting, tidak hanya pada usia awal anak, tetapi juga untuk mendukung kesiapan proses belajar membaca secara formal di sekolah.

Dan peran orangtua dalam memotivasi dan mempengaruhi kebiasaan membaca dan belajar anak merupakan kunci utama yang paling penting. Mengapa peran orangtua menjadi kunci berhasilnya literasi di lingkungan keluarga? Jelas hal ini dikarenakan anak merupakan peniru ulung. Anak akan menciplak perilaku orangtuanya sebagai kegiatan dirinya.

Artinya, jika anak sering melihat orangtuanya meluangkan waktu untuk membaca buku, maka ia juga akan memiliki ketertarikan pada buku. Namun, sebaliknya jika setiap hari, anak melihat orangtuanya menghabiskan waktu di depan televisi dan gawai, maka ia pun akan meniru kebiasaan tersebut.

Maka tidak salah yang dipaparkan oleh Abah Ihsan (2018), bahwa anak saleh hanya lahir dari orangtua yang saleh. Jangan berharap anak akan melakukan perilaku terpuji jika orangtua justru mencontohkan perilaku tercela dalam keseharian hidup dalam keluarga. Sehingga, kunci utama menjadikan anak-anak memiliki kecintaan akan ilmu hanya dapat dilakukan dengan memberikan stimulus yang tepat, dan mencontohkan langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Upaya pelestarian budaya

Melantunkan hikayat dan membacakan buku sebelum tidur pada anak, kedua rutinitas ini sama besar manfaatnya, namun nilai budayalah yang membedakannya. Membacakan buku ceritabersifat general, karena buku-buku yang dibacakan ditulis dalam bahasa Indonesia, dengan
ragam cerita yang umum atau bernuansa nasional.

Sedangkan melantunkan hikayat menggunakan bahasa Aceh, dan sifatnya juga khas kedaerahan. Keduanya penting untuk tetap dilakukan oleh orangtua, agar generasi selanjutnya tetap mencintai budaya lokalnya, dan mengenal keragaman bangsanya melalui cerita nusantara dan hikayat Aceh.

Melalui hikayat, orangtua juga dapat mengenalkan bahasa lokal atau bahasa daerah. Mengajarkan bahasa daerah menjadi sesuatu yang penting. Apalagi dewasa ini, khususnya di daerah perkotaan, semakin sedikit remaja yang mampu menuturkan bahasa daerah. Semakin
berkurangnya penutur bahasa daerah akan menyebabkan kelestarian bahasa semakin memprihatinkan. Padahal, keragaman bahasa daerah merupakan kekayaan budaya Indonesia yang tak dimiliki oleh negara lain.

Indonesia merupakan negara kedua setelah Papua New Guinea, dengan kekayaan ragam bahasanya. Menurut UNESCO, Indonesia memiliki sekitar 760 bahasa. Beberapa bahasa telah punah, dan beberapa lainnya mulai terancam punah. Seperti bahasa Marori, bahasa orang-orang
pedalaman Papua yang dalam status hampir punah karena penuturnya yang sangat sedikit, yaitu sekitar 119 orang.

Hal ini terjadi akibat pemuda di daerah tersebut mulai tidak menggunakan bahasa lokalnya, dan lebih aktif menggunakan bahasa Indonesia (Arkan, 2013). Kondisi ini juga mulai terjadi di Aceh. Menurut Alamsyah (2011), generasi muda Aceh yang tinggal di daerah perkotaan, seperti Banda Aceh, jauh lebih memilih berbahasa Indonesia ketimbang berbahasa Aceh.

Hal ini karena bahasa Indonesia merupakan bahasa formal, sementara bahasa Aceh tidak digunakan secara luas dalam keadaan formal, seperti di sekolah, administrasi perkantoran, dan rapat. Jika hal ini tidak diluruskan, menanamkan kecintaan remaja pada bahasa Aceh, sehingga mereka mau bertutur bahasa Aceh, bukan tak mungkin bahasa Aceh akan bernasib sama dengan bahasa Marori.

Sehingga cara paling efektif untuk melestarikan bahasa ialah dengan tetap menggunakannya sebagai bahasa penutur dengan sesama suku. Sejak kecil, anak-anak harus diakrabkan dengan bahasa lokalnya, agar mereka tetap paham dan mampu bertutur dengan baik, sehingga mampu berkomunikasi dengan bahasa lokalnya, dengan tidak mengurangi pemahaman akan bahasa pemersatu (Bahasa Indonesia).

Dan salah satu cara paling efektif ialah dengan menyenandungkan syair-syair Aceh sebagai pengantar tidur, dan menjadikan bahasa Aceh sebagai Bahasa Ibu dalam setiap keluarga. Mari jadikan hikayat sebagai bagian literasi keluarga Aceh tempo dulu hingga masa kini! Tanamkan rasa cinta akan budaya lokal pada generasi muda sejak dini dengan terus melestarikan hikayat sebagai bagian dari literasi keluarga. ***

(Penulis adalah Guru SMA dan Team Training Sekolah Sukma Bangsa Pidie, Master of Teacher Education, Tampere University, Finland.)

 

Komentar

Loading...