Hiruk-pikuk “Warung Aceh” di Jalan Tempuling Medan

Hiruk-pikuk “Warung Aceh” di Jalan Tempuling Medan
Warga biasa hingga anggota DPR RI, seperti Sofyan Tan, menyempatkan berdiskusi di Café Pondok Pisang Jalan Tempuling Medan.

Melihat situasi Jalan Tempuling yang kini begitu ramai, mengundang banyak pengusaha ingin membuka bisnisnya di kawasan ini.

Mengejutkan memang. Jalan Tempuling, yang terletak di Kelurahan Sidorejo Hilir, Kecamatan Medan Tembung, Medan, dulu hanyalah jalan biasa yang sepi. Tidak lebih hanya digunakan masyarakat untuk melintas. Saat itu, sekitar 10 tahun lalu, ada satu dua kendaraan yang lewat. Kondisi jalan pun masih cukup buruk, berlubang di sana sini.

Ketika itu hanya ada satu angkot (angkutan kota) yang mau melintas jalan ini, yaitu angkot jurusan Dodiklat (sekolah polisi). Angkot itu pun kemudian tak pernah terlihat melintas Jalan Tempuling, karena minim penumpang. Itu terjadi kira-kira 15 tahun lalu.

Tapi sekarang, sekitar 5 tahun terakhir, situasinya sangatlah berbeda. Apalagi sejak setahun terakhir, suasananya semakin hiruk-pikuk. Hampir di sisi kiri kanan sepanjang jalan ini, tumbuh bagai jamur di musim hujan, warung-warung kuliner dan warung kopi yang buka 24 jam. Suasana di jalan ini nyaris tidak pernah tidur. Selain warung kopi dan kuliner, sepanjang jalan ini juga banyak toko-toko kelontong yang buka hingga larut malam.

Banyak di antara konsumen yang berkunjung ke café di Jalan Tempuling, sebagai lokasi pertemuan antara pasangan masing-masing.

Untuk café atau warung, Pondok Pisang dan Warkop HAR termasuk café kuliner atau warung kopi yang turut menjadi pionir bagi warung-warung yang lain. Beberapa tahun kemudian muncul warung-warung kuliner dan warung kopi yang menawarkan berbagai produk minuman dan makanan, yang rata-rata harganya terjangkau. Kini pada jam-jam tertentu, apalagi pada hari libur, kawasan ini cukup ramai hingga jalanan menjadi sedikit macet dan “gaduh”.

Di kawasan ini konsumen bisa memilih banyak menu kuliner maupun minuman. Pada pagi hari ada beberapa warung yang menyediakan lontong, nasi gurih, gado-gado, aneka kue basah, mie balap dan jenis makanan untuk sarapan. Pada siang hari konsumen bisa pula memilih menu makan siang, karena ada banyak rumah makan padang yang membuka usahanya. Pada sore hingga malam, selain menu makan malam, ada pula warung yang menyediakan ayam penyet, lontong malam, mie aceh, mie balap dan jenis makanan lainnya.

Sementara itu pondok pisang sejak siang hingga malam menyediakan berbagai menu berat dan ringan, mulai dari sop ikan, tom yam, ikan stim dan berbagai menu makan berat. Sedangkan untuk makanan ringan café ini menyediakan pisang rujak, pisang goreng es krim dan jenis minuman panas dan minuman segar, mulai dari kopi arabika, kopi lanang, jus spesial pondok pisang, eskrim buah dan lain-lain.

Didominasi Warga asal Aceh
Entah sengaja atau tidak, uniknya beberapa warung kopi dan toko kelontong di daerah ini, didominasi warga asal Aceh. Masyarakat perantau ini lah yang terlihat berperan besar menghidupkan kawasan yang dahulunya sepi tersebut. Para pengusaha warung dan toko kelontong yang “berjuang” di daerah ini, pada umumnya berasal dari daerah Bireuen sekitarnya.

Abang beca, driver gojek atau taksi online lainnya, cukup akrab dengan kawasan Jalan Tempuling. Cukup dengan menyebut tujuan di sekitar warung kopi Aceh, maka para driver itu sudah dapat memetakan di mana harus menurunkan atau menjemput penumpangnya. Kata “warung kopi Aceh Tempuling,” begitu akrab di telinga warga kota Medan.

Hiruk-pikuk

Suasana kawasan Jalan Tempuling Medan, yang kini cukup ramai dan padat, sejak maraknya warung kopi dan cafe kuliner. 


Minggu malam (7/1/18) sekira pukul 22:00 WIB, ketika penulis menyusuri kawasan Jalan Tempuling, tampak suasananya cukup ramai. Para remaja hingga orang tua, kelihatan duduk memenuhi warung terbuka untuk menikmati minuman sambil internetan memakai handphone atau laptop dengan memanfaatkan jaringan Wi-Fi gratis. Ada juga pelanggan yang asyik bermain kartu domino (main batu) di warung yang terbuka itu. Tampak juga kaum wanitanya yang sedang menemani sang kekasih ngumpul bersama teman-temannya.

Terkadang, kita tiba-tiba bisa mendengar suara teriakan, “Goooollll”, dari warung kopi itu, disaat ada siaran bola dari tv kabel atau tv biasa. Tidak sedikit para pecinta sepakbola di Medan datang berkumpul ke warung kopi tersebut. Begitu pula yang terjadi di warung kopi sebelahnya, yang umumnya diramaikan para mahasiswa, karyawan, abang beca, agen mobil dan konsumen umum.

Melihat situasi Jalan Tempuling yang kini begitu ramai, mengundang banyak pengusaha ingin membuka bisnisnya di kawasan ini. Salah satu contohnya, Lie Ho Pheng, yang membuka usaha perabot rumah tangga. Toko bermerek LIPIN itu sudah mulai buka awal tahun lalu, bahkan pengusaha ini telah menggelar pameran spring bed bekerja sama dengan pabrik spring bed bermerek ORIGIN. Ada pula yang membuka toko handphone, dan lainnya.

“Di Jalan Tempuling ini sangat lengkap, tidak hanya ada jajanan kuliner, tapi juga ada jual pulsa, perabot, kedai kelontong dan lainnya. Dan yang pasti keunggulan kawasan tempuling ini adalah kulinernya yang cukup enak,” ujar Roni (25), salah satu warga Medan yang setiap malam mengunjungi warung di Jalan Tempuling. Anda tertarik menikmati kuliner atau kopi yang berkualitas? Ayo buruan ke kawasan Jalan Tempuling Medan.

Laporan: Muhammad Al-Farizi

Komentar

Loading...