Hoax Menteri Tjahjo  

Hoax Menteri Tjahjo  
Ilustrasi penyebar hoax. | Foto: Andhyka Akbariansyah.

Ini akibat jempol bergerak lebih cepat ketimbang otak.

Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo akhirnya meminta maaf soal postingan foto 'Jalan Tol Cisumdawu di Jabar' yang sudah dilabeli 'disinformasi' oleh Kominfo. "Mohon maaf postingan jalan Tol di Jabar ternyata salah bukan di Jabar (saya dapat informasi salah) trims perhatiannya- tjahjokumolo," tulis Tjahjo melalui akun Twitter-nya, Ahad, 10 Oktober 2021.

Sebelumnya, dalam sebuah postingan foto, Tjahjo melampirkan kepsyen: "Jalan tol terkeren di Indonesia, CISUMDAWU (CILEUNYI - SUMEDANG - DAWUAN), yang membelah gunung dan masuk gunung, memungkinkan Bandung <> Tegal ditempuh hanya dalam 2 jam, Bandung <> Semarang hanya 3,5 jam".

Kominfo menyebut postingan itu disinformasi, atau dengan kata lain hoaks. Foto yang diklaim Tjahjo ada di Jawa Barat ternyata lokasinya di Turki.

Hoax Menteri Tjahjo semakin menyadarkan kita bahwa semua orang bisa terpapar hoax. Dari pejabat tinggi, polisi, jaksa,  media, hingga rakyat jelata yang alamat rumahnya "404 not found". Semua bisa terjerembab ke lembah nista bernama hoax.

Apa penyebabnya? jempol bergerak lebih cepat ketimbang otak. Mirisnya, pejabat negara yang selalu gembar-gembor menyuruh rakyatnya untuk menjaga jempol, justru jempolnya sendiri yang tak bisa dijaga; besar cakap daripada mulut.

Makanya, nasehat lama dengan narasi berbeda yang kerap diputar berulang-ulang, sepatutnya merasuk dalam diri kita dan mesti diamalkan betul-betul. Apa nasehat itu? Jangan pernah merasa paling benar. Ketika kebenaran seolah punya kita, justru saat itulah sebuah perangkap berbahaya sedang menunggu manis di sudut sana.

Kita tahu, para pejabat negara di mana pun akan berlomba-lomba memberikan yang terbaik. Sekali ada prestasi yang berhasil dilakukannya, pencapaian itu akan dipaparkan berulang-ulang dalam berbagai bentuk. Berhasil tangkap satu penjahat, misalnya, undang wartawan ramai-ramai untuk meliput. Berhasil membangun rumah-rumah warga miskin, ajak media mem-blowup sedahsyat mungkin. sampai orang yakin, itulah prestasi mereka. Padahal, prestasi yang ditonjol-tonjolkan lama-lama akan tampak bukan sebagai sebuah prestasi. Orang ramai akan tiba pada kesimpulan, ah, itu 'kan cuma pencitraan.

Menangkap penjahat dan membangun rumah masyarakat papa bukanlah prestasi karena itu memang sudah tugas aparatur negara. Penjahat perlu ditangkap karena mengganggu keamanan. Rumah perlu dibuat agar kebutuhan papan masyarakat terpenuhi. Ini kewajiban aparatur negara yang diberikan amanah sejak ia menjabat, bukan prestasi.

Contoh lain, seseorang yang rajin salat lima waktu, rajin ke masjid, tidak bisa dikatakan sudah alim. Orang ini sedang menjalankan kewajibannya sebagai hamba yang diperintahkan agama untuk menyembah Tuhannya. Bukan sebuah prestasi ketika ia mampu rajin salat dan puasa.

Lalu, mengapa banyak orang (baca: pemerintah) sibuk mencari prestasi? Karena tidak banyak orang yang mampu menjalankan kewajibannya. Pada tingkatan negara, tidak banyak prestasi yang dicapai para aparaturnya. Makanya, mereka haus prestasi, yang--sekali lagi, sebenarnya haus akan tuntutan memenuhi kewajiban sebagai aparatur penyelenggara negara.

Tapi, di sinilah letak masalahnya. Ketika prestasi susah dibuat, muncullah mimpi dan angan-angan menciptakan prestasi. Apa saja kemudian dilamunkan. Lihat bandara bagus di negara orang kepingin bikin di negara sendiri. Muncul masalah baru, duit tak ada. Rencana menguap.

Maka, ketika melihat ada jalan tol bagus di negara orang, dan selagi angan-angan bermain, si pejabat pun sudah masuk ke level tertinggi halusinasi.

Tanpa cek ricek dan tabayun, jempolnya kemudian maju tanpa gigi atret; mendaku itu sebagai jalan di negaranya. Hasilnya? Hoax. Memalukan, Pak Menteri!

Anara

Komentar

Loading...