Hormat, Guru Nurdin Abdul Rahman!

Hormat, Guru Nurdin Abdul Rahman!
Nurdin Abdul Rahman. | Foto: ist

Oleh: Bilal Faranov

"Kemanapun kalian pergi, yang dinilai orang bukanlah IQ atau kepintaran kalian, namun akhlak, budi pekerti dan cara kalian memperlakukan orang lain."

KETIKA SAYA masih duduk di bangku kelas 5 SD, Wali kelas saya, Buk Nurhanifah, bertanya, "Bilal, apa cita-cita kamu?"

Tak pikir panjang lebar, dengan semangat meletup-letup layaknya petasan malam lebaran, saya menjawab, "Ingin menjadi Bupati Bireuen, Bu!"

Mendengar jawaban itu, Buk Nurhanifah tercengang. Lantas, diselidikinya lagi, apa alasan seorang bocah berusia 10 tahun ingin menjadi pemimpin di Kabupaten Bireuen?

Cerita tentang mimpi menjadi Bupati dimulai ketika Ayah mengajak saya menonton perlombaan motorcross di sirkuit Cot Ghon Ban, Bireuen, tahun 2008. Saat itu, tampak sebelum perlombaan dimulai, muncul seorang pria berambut putih dari balik panggung pembukaan lomba. Dengan kacamata berwarna hitam, sangat padu dengan wajah gagahnya yang mirip Amitabh Bachchan, aktor Bollywood.

Sontak, tepuk tangan dan sorak-sorai masyarakat pecah dari segala penjuru. "Itu Bupati Bireuen, Pak Nurdin," kata Ayah. Saya mengangguk penasaran, mengapa beliau begitu dikagumi.

Kemudian, di bawah terik matahari, Bupati mengambil langkah berkeliling jalan kaki didampingi istrinya dan seorang ajudan, mengitari sirkuit sembari mengulurkan tangan menyalami masyarakat Bireuen yang berada di pinggir sirkuit. "Senyum merekah, ramah, rendah hati, sungguh merakyat!" tuturku dalam hati.

Sejak saat itu, saya mulai sering menjumpai wajah ramah Bupati Bireuen itu di baliho-baliho yang terpampang di pusat kota. Tidak lupa, saat melintasi baliho tersebut, saya selalu memberikan hormat, macam seorang pemimpin upacara yang memberi hormat kepada pembina upacara, meskipun Bupati saat itu tidak membalas hormat saya. Bagi saya, senyumnya adalah sebuah kehormatan.

Memasuki pertengahan 2012, saat saya duduk di bangku SMA, tak tampak lagi batang hidung dan senyum merakyat itu di baliho-baliho di Kota Bireuen. Saya penasaran, kemana perginya kini idola saya itu?

Tiga tahun kemudian, ketika si bocah yang ingin menjadi Bupati tadi masuk bangku ke perkuliahan di jurusan Hubungan Internasional Universitas Al-Muslim, Bireuen, rupanya  Bupati yang dikaguminya dulu itu telah menjadi orang yang tak terpisahkan dari kesehariannya.

Setelah tidak lagi menjabat sebagai Bupati Bireuen, Drs. H Nurdin Abdul Rahman, M.Si, memilih terjun ke dunia pendidikan, menjadi dosen, sekaligus Kepala Kantor Urusan Internasional (KUI) di Universitas Al Muslim.

Beliau membuka kelas bahasa Inggris secara gratis kepada seluruh mahasiswa dan dosen yang ingin mempelajari bahasa universal tersebut. Maka, tak saya sia-siakan kesempatan ini, bergegas saya menuju KUI untuk mengisi formulir pendaftaran.

Saat itu beruntung sekali saya dibantu langsung oleh Sekretaris KUI, Ratna Walis, S.Pd. Dari Ratna pula saya lebih kenal tentang sosok Bapak (panggilan) yang jarang diungkap ke publik. Rasa kagum saya semakin bertambah ketika bisa bercengkerama langsung dengan Bapak, tutur kata yang teratur, sopan dan penuh kebijaksanaan menggambarkan watak beliau yang sesungguhnya.

Ketika saya menceritakan, bahwa sejak saat SD saya sudah mengagumi beliau tepatnya saat pembukaan motorcross dan sering berjumpa beliau dalam bentuk poster baliho, Bapak tersenyum simpul.

Kemudian Bapak bertanya, apakah cita-cita saya sekarang masih sama? Dengan penuh rasa pertimbangan saya menjawab, "sekarang saya ingin menjadi diplomat, seperti Bapak!"

Tiga bulan berlalu sejak proses belajar mengajar bahasa Inggris bersama beliau, saya merasakan peningkatan yang begitu siginifikan, baik itu dari sisi speaking, writing dan listening. Tak tahu kenapa tiga tahun saya belajar bahasa inggris di SMA, tak pernah saya mengalami peningkatan seperti ini dalam belajar bahasa Inggris dengan seorang guru.

Saya rasa kuncinya adalah sifat mengayomi sepenuh hati tanpa pamrih yang diterapkan oleh Pak Nurdin. Beliau pun sering melibatkan saya dalam kegiatan resmi, salah satunya seperti seminar internasional di Banda Aceh.

Saat itu, Pak Nurdin menjadi pembicara ketika Myanmar belajar rekonsiliasi konflik dari Aceh. Saya dan kak Ratna berangkat bertiga dari Bireuen dengan tumpangan mobil yang dikendarai oleh Pak Nurdin.

Bapak menjelaskan alasan mengapa melibatkan kami saat itu; "Guru terbaik adalah kesempatan dan pengalaman," celetuk Pak Nurdin yang sedang menyetir saat itu.

Dari seminar itu, saya baru mengetahui bahwa orang yang selama ini saya kagumi adalah sosok penting bagi perdamaian Aceh. Bapak, yang pernah mendapat suaka politik dari Pemerintah Australia dan pernah belajar di Reading University, Inggris, tersebut adalah tokoh intelektual Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang telah berkeliling dunia untuk memperjuangkan keadilan.

Beliau adalah Diplomat Aceh yang telah jatuh bangun berkecimpung di dunia internasional. Tak heran, berkat keberanian, kecerdasan dan kemampuan Bahasa Inggris yang sangat baik, Bapak kerap menjadi pembicara mengenai rekonsiliasi konflik baik di dalam maupun di luar negeri.

Berkat dorongan dan dukungan dari Bapak pula, kami murid-muridnya berani bermimpi lebih tinggi, mengepakkan sayap-sayap lalu terbang bersama burung di angkasa ke tempat yang tak pernah kami kunjungi sebelumnya.

Tahun 2017, Bapak yang diundang untuk menjadi pembicara di Nepal tak bisa berangkat karena sedang dalam kondisi kurang fit. Sore itu, ketika saya sedang melakukan latihan debat bahasa Inggris bersama teman-teman Umuslim Debating Society (UDS), tiba-tiba telepon berdering dari dalam saku celana. Panggilan masuk dari Bapak, beliau menanyakan apakah saya bersedia untuk berangkat ke Nepal minggu depan?

Saya tersentak, dengan rasa masih tak percaya, saya siap. Namun, di sisi lain kapabilitas dan kemampuan seorang mahasiswa hubungan internasional semester empat tentunya jelas tak sebanding dengan beliau. Bapak lalu meyakinkan saya, bahwa mulailah bermimpi dan mewujudkannya mulai hari ini.

Kami sebagai mahasiswa Hubungan Internasional sering menghabiskan waktu di depan KUI. Saat azan berkumandang dari Masjid Raya Peusangan, Pak Nurdin selalu mengajak kami untuk salat berjamaah di masjid. Kami selalu mengangguk, segan!

Saat mengajar dalam kelas, beliau juga sering menyampaikan berulang-ulang kalimat ini. "Kemanapun kalian pergi, yang dinilai orang bukanlah IQ atau kepintaran kalian, namun akhlak, budi pekerti dan cara kalian memperlakukan orang lain."

Kalimat tersebut terus terngiang hingga saya menuliskan cerita ini. Sebuah keputusan terbaik ketika Bapak memilih menghabiskan masa tuanya mengabdi untuk pendidikan.

Terimakasih Bapak, saya mewakili murid-murid Bapak yang kini tersebar di seluruh penjuru dunia. Percayalah Pak, sampai kapanpun, meski senyum Bapak tak lagi terpampang di Baliho, saya akan selalu menghormati Bapak, Guruku!

*Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional Universitas Al-Muslim Aceh.

 

Komentar

Loading...