Ie Bu Peudah: Penghangat Tubuh Warisan Indatu

Ie Bu Peudah: Penghangat Tubuh Warisan Indatu
Proses pemasakan dan antrean anak-anak menunggu Ie Bu Peudah. | Foto: Nurnisa.

Zir mulai menukil sejarah bagaimana pembuatan Ie Bu Peudah itu bermula. Katanya, bubur kaya khasiat ini merupakan tradisi yang terus dijaga sejak zaman kerajaan Aceh di masa lampau hingga generasi milenia kini.

KBA.ONE, Banda Aceh –  Seorang pria berkaos oblong putih tampak sedang mengarau bubur berwarna kecoklatan dengan aroma rempah yang khas dan tajam. Sesekali pria ini mengernyitkan keningnya karena menahan uap panas yang menyembul dari seisi permukaan belanga raksasa.

Mata pria ini juga suka mencuri pandang ke arah api di balik tungku 2 x 2 meter penopang belanga yang di rancang khusus itu. Letaknya pas di samping meunasah (musala) Gampong Cucum, Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar. Inilah dapur khusus untuk menanak bubur Ie Bu Peudah warisan Sang Indatu masyarakat Aceh.

Zir Mubarak, 35 tahun, nama pria itu. Pemuda asal  Gampong Cucum ini menyambut ramah kedatangan KBA. ONE. Sikapnya jauh dari kesan kaku dan seakan sudah lama saling mengenal. “Tradisi membuat bubur Ie Bu Peudah ini sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat Aceh. Tapi, tidak sedikit juga yang masih menjaga tradisi ini di bulan Ramadan,” sapa Zir Mubarak, sembari melempar senyuman ramah kepada KBA. ONE, Senin Pekan lalu, 21 Mei 2018. 

Beras yang sudah digongseng untuk bahan Ie Bu Peudah. | Foto: Nurnisa.

Zir mulai menukil sejarah bagaimana pembuatan Ie Bu Peudah itu bermula. Katanya, bubur kaya khasiat ini merupakan tradisi yang terus dijaga sejak zaman kerajaan Aceh di masa lampau hingga generasi milenia kini. Meski tradisi ini mulai meredup.

Barangkali, penyebabnya,  karena proses penyediaan bahan dan pembuatan Ie Bu Peudah membutuhkan tingkat keseriusan dan kesulitan yang amat tinggi. Pemuda desa butuh waktu hingga dua bulan sebelum memasuki bulan Ramadan hanya untuk mengumpulkan dan menyiapkan aneka rempah-rempah yang dibutuhkan.

Saat itu, kaum pria dan pemuda desa berkumpul dan membuat pemufakatan untuk menentukan hari dan tanggal yang tepat. Setelah urung rembuk selesai, mulailah pemuda-pemuda desa itu meluangkan waktunya untuk berburu 44 jenis daun tumbuhan ke hutan dan gunung terdekat.

“Kami khususkan hari itu dari pagi sampai sore untuk mencari 44 daun itu di gunung Liem atau gunung Blang Bintang,” cerita Zir Mubarak sembari terus mengaduk-aduk Ie Bu Peudah yang mulai mengeluarkan aroma khas rempah-rempah.

Setelah semua rempah dan daun yang diambil dari gunung terkumpul, Zir melanjutkan ceritanya, giliran para ibu-ibu atau orang-orang tua desa yang meracik dan mengolah  bumbu kering Ie Bu Peudah ini.  Mereka dianggap lebih paham mencampur resep turun temurun dari indatu yang sudah menjadi tradisi tahunan setiap bulan Ramadan ini. 

Anak-anak Desa Cucum, gembira menenteng Ie Bu Peudah. | Foto: Nurnisa.

Proses peracikannya pun cukup panjang, kata Zir.  Dimulai dari semua rempah seperti  kunyit, jahe, ketumbar, daun peugaga, daun capa, daun manek manong, daun  sinekut, dan lainnya hingga menjadi 44 jenis daun di jemur hingga kering dengan kisaran waktu dua minggu bahkan bisa mencapai satu bulan, tergantung cuaca. Setelah kering, barulah bahan rempah dan daun itu di tumbuk hingga halus menggunakan jeungki (alat tumbuk khasa Aceh) sambil mencampurkan beras yang sudah digongseng untuk memudahkan yang memasak.

“Kami tinggal ambil aja, bu peudahnya sudah diracik dan disimpan di meunasah, semua sudah siap. Jadi,  kami tinggal masak saja, sehari 4 bambu sekali kami masak, kami tinggal masukkan kelapa yang sudah diparut. Kami mulai masak dari habis Zuhur hingga siap Ashar. Sekitar tiga jam lah kami memasaknya,” ujar  Zir.

Uniknya dari cerita Bu Ie Pudah ini adalah mulai dari proses pengumpulan bumbu yang dilakukan kaum laki-laki di desa, kemudian proses meracik  dilakukan oleh kaun wanitanya, giliran Ie Bu peudah masak, maka yang mengambil jatah bubur itu adalah kelompok anak-anak desa.  

Dengan penuh riang gembira, para anak-anak itu mengantri untuk mengambil masakan khas yang hanya akan dijumpai di bulan ramadan saja. Setelah azan Ashar berkumandang, dan salat Ashar usai ditunaikan,  barulah bocah-bocah kecil ini berbondong datang membawa ember-ember kecil berwarna warni. Agar tak tertukar, anak-anak ini menuliskan namanya di masing-masing ember kecil milik mereka. 

Infografik | KBA.ONE: Decky Risakota

Bagaimana perasaan kalian? “Senang, suka,” jawab salah satu anak yang ikut berdiri berderet-deret menunggu giliran Ie Bu Peudah, sambil tersipu malu.

Tradisi Ramadan ini merupakan sedekah dari swadaya masyarakat untuk dibagikan ke masyarakat itu  sendiri. Tapi, terkadang, ada juga masyarakat dari luar Desa Cucum yang mengambil Ie Bu Peudah ke Desa Cucum, Kecamatan Kuta Baroe, Aceh Besar. Selain rasanya yang gurih,  ternyata ke 44 daun yang di masukkan ke dalam Ie Bu Peudah tersebut berkhasiat untuk mencegah masuk angin dan menghangatkan badan.

“Kalau untuk enak memang enggak, tapi khasiat dari bu peudah ini yang penting, apalagi buat orang yang menderita sakit lambung, cocok sekali, menghangatkan lambung,” kata Zir Mubarak menutup ceritanya.

Anda tergoda ingin mencicipi? Silahkan mampir ke Gampong Cucum. Pasti Zir Mubarak menyapa ramah bersama tawa anak-anak yang menjinjing Ie Bu Peudah penuh rempah sejarah itu. ***

Komentar

Loading...