Ija Kroeng, Penjaga Khazanah Tradisi Para Raja

Ija Kroeng, Penjaga Khazanah Tradisi Para Raja
Handmade Ija Kroeng. | KBA.ONE: Teti Sundari.

Tradisi berkain sarung sudah dikenal luas sejak zaman baheula di Aceh. Bahkan menjadi pakaian lintas kasta, usia, dan gender, mulai dari para raja, bangsawan, ulama, hingga rakyat biasa.  

KBA.ONE, Banda Aceh - Pesona ija kroeng memang berbeda. Apalagi ija kroeng bisa menjadi identitas unik dan menarik di tengah gempuran mode pakaian serba modern. Di Banda Aceh, misalnya. Kini ija kroeng tengah mewabah dan menulari gaya berpakaian kawula muda milenial. Karena, kemunculan ija kroeng dianggap sebagai fenomena klasik yang aura etniknya sungguh waw...!

Adalah Khairul Fajri Yahya, entrepreneur 39 tahun yang mengenalkan dan menghidupkan kembali "nyawa" ija kroeng di khazanah modeling muda-mudi di Aceh, khususnya Banda Aceh, bahkan Sumatera, dan sebagian wilayah nusantara. Khairul memulai bisnis ini dengan langkah kecil dan sangat sederhana.

Apa itu Ija Kroeng? Ija kroeng berasal dari bahasa Aceh, artinya kain sarung, kain panjang yang pada kedua ujungnya dijahit berhubungan. Sedangkan kata "sarong" atau sarung sendiri berasal dari bahasa Melayu, artinya penutup.

Di Indonesia, dan Aceh khususnya, penggunaan kain sarung sudah menjadi budaya. Umumnya digunakan oleh pria muslim di saat menjalankan ibadah dan kini menjadi tren pakaian Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Khairul dan garasi yang diubah menjadi workshop Ija Kroeng. |  KBA.ONE: Teti Sundari.

Di era Kerajaan Aceh Darussalam, sekitar abad ke 17, tradisi berkain sarung sudah dikenal luas. Bahkan saat itu, kain sarung menjadi pakaian lintas kasta, usia, dan gender, mulai dari para raja, bangsawan, ulama, hingga rakyat biasa.

Munculnya keinginan untuk menggunakan kain sarung di luar ibadah, dengan model tampilan keren dan berbahan nyaman, inilah yang menjadi alasan Khairul Fajri Yahya membangun bisnis Ija Kroeng.

"Ija Kroeng lahir sekitar tahun 2011, di Jakarta. Saat itu sudah ada produk, tapi untuk konsumsi pribadi dan belum ada brand," cerita Khairul kepada KBA.ONE, Kamis, 23 Mei 2019, di workshop Ija Kroeng di Jalan Teuku Umar, Lorong Mahya, No 51, Seutui, Kota Banda Aceh.

Melihat pasar di Aceh cukup bagus, karena memang memiliki budaya penggunaan kain sarung, memaksa Khairul semakin mematangkan konsep usahanya. 

Ruang produksi Ija Kroeng. | KBA.ONE: Teti Sundari.

Baru pada Maret 2015, Ija Kroeng, handmade kain sarung made in Aceh-Indonesia, dirilis secara resmi di Aceh.

"Saat kita memilih konsep made in Aceh-Indonesia, membuat semua harus diproduksi di Aceh, kecuali bahan baku katun asli yang benang impornya dari India dan ditenun di Tangerang. Pokoknya kita mempersiapkan itu semua," kisah Khairul.

Prinsip Khairul, di dalam membangun sebuah usaha, modal menjadi hal penting dan memegang posisi kunci. Karena itu, tanpa sungkan Khairul memberanikan diri meminjam uang kepada kakak dan abang iparnya. Berbekal modal Rp11 juta, Khairul mulai merintis usaha Ija Kroeng.

"Dari modal itu saya beli kain, mesin, alat cetak brand, segala macam keperluanlah," ungkapnya.

Kain sarung dengan desain minimalis, membuat konsep Ija Kroeng cepat diterima di pasaran. Dan bisnis Khairul pun melesat hingga terus berkembang.

Prestasi itu bisa dilihat dari banyaknya penghargaan dan sertifikat yang terpajang di beberapa bagian dinding ruangan display barang produksi.

Padahal, Khairul sama sekali tidak memiliki latar belakang di dunia fashion. Ia memberanikan diri terjun di dalamnya sembari terus belajar.

"Saya tidak pernah sekolah fashion, gak punya ilmu fashion, tapi saya punya selera, dan saya happy menjalaninya," kata lulusan Teknik Mesin tersebut.

Kain sarung yang baru selesai dilukis motif Aceh. | KBA.ONE: Teti Sundari.

Hal lain yang menjadi alasan Khairul membangun bisnis di bidang fashion karena, menurutnya, jarang sekali designer yang mengakomodir keinginan pria muda, khususnya pakaian muslim.

"Banyak pria yang mau tampil keren tapi gak diakomodir. Dengan gaya sentuhan kita yang minimalis dan kontemporer, kita coba memenuhi kebutuhan itu," jelasnya.

Dia bilang, kebanyakan konsumen dan penikmat model Ija Kroeng adalah anak muda di kisaran usia 18-36 tahun. Walau tak sedikit pria berumur yang juga menjadi konsumen usahanya.

Anak muda memang menjadi target khusus bisnis Khairul. Karena, menurutnya, budaya penggunaan kain sarung mulai hilang di kalangan anak muda.

Bagaimana pangsa pasar Ija Kroeng? Kata Khairul, target besarnya adalah Aceh. "Saya tidak gila ekspor. Saya ingin memenuhi kebutuhan (kain sarung) di Aceh yang memang sangat besar sehingga sampai sekarang belum mampu kita penuhi," ungkapnya. 

Macam penghargaan untuk Ija Kroeng. | KBA.ONE: Teti Sundari.

Tapi, tambah Khairul, hasil produksi Ija Kroeng telah sampai ke banyak wilayah di Indonesia bahkan luar negeri. Seperti seluruh Sumatera, Jakarta, Sulawesi, Papua, Makassar, Malaysia, Jepang, Afrika, dan Norwegia.

"Itu semua efek gelombang, tapi bukan itu yang menjadi target saya. Target saya Aceh, supaya perputaran ekonomi di sini bagus," begitu obsesi Khairul soal Ija Kroeng.

Seperti namanya, hasil produksi utama dari usaha ini adalah kain sarung. Serta ada pula celana sarung, pilihan untuk yang tidak bisa menggunakan kain sarung. Selain itu, untuk edisi puasa dan lebaran, Ija Kroeng juga memproduksi baju koko.

Dalam sehari, untuk bagian produksi menjahit, usaha Ija Kroeng mampu menghasilkan 15 lembar kain sarung. "Tapi gak rutin. Kalau kain lagi kosong, kita break dulu. Atau jahit celana sarung," jelasnya.

Sedangkan soal pilihan warna, Ija Kroeng selalu memproduksi warna hitam dan putih. Namun, di setiap tahunnya mereka merilis satu warna berbeda seperti warna grey yang dipilih untuk tahun 2019 ini.

Omzet Perbulan

Hampir di ujung obrolannya kepada KBA.ONE, Khairul mulai menyingkap sedikit-demi sedikit rahasia bisnisnya. Dalam satu bulan, cerita Khairul, usaha Ija Kroeng bisa mendapatkan omzet berkisar Rp10 juta hingga Rp15 juta. Dan akan meningkat berkali lipat di saat bulan Ramadhan seperti sekarang. 

Khairul (tiga dari kiri) dan tren anak muda Aceh memakai kain sarung handmade Ija Kroeng. | Foto: hikayatbandaaceh.com

"Bisa Rp50 juta sampai Rp100 juta. Karena di Aceh ini ada tradisi minimal membeli 1 kain sarung di bulan puasa dan lebaran," ungkapnya.

Dengan konsep tempat usaha berupa workshop, ia menggunakan rumah pribadi sebagai lokasi, tepatnya di kawasan Seutui, tak jauh dari bagian belakang Rumah Sakit Harapan Bunda.

Lokasi rumahan itu justru menciptakan suasana tempat yang terasa nyaman bagi para konsumen yang datang untuk membeli atau sekadar melihat lihat.

Apalagi di workshop Ija Kroeng tersedia ruang edukasi, ruang produksi untuk proses menjahit dan sablon serta ruang display barang produksi.

"Jadi, konsep dari awal, saya sudah menerima orang datang. Untuk melihat, belajar, dan ini tahun ke 3 saya menerima anak magang," terang Khairul.

Kini, dimulai dari keinginan memenuhi kebutuhan diri sendiri, Khairul telah mampu menjadikan kain sarung sebagai pilihan alternatif di dalam berbusana bagi pria muda.

Konsep bisnis Ija Kroeng ala Khairul pun menghidupkan kembali tradisi memakai kain sarung di kalangan anak muda yang nyaris hilang ditelan masa. Bahkan, Khairul dan Ija Kroeng mampu bertransformasi menjadi sosok penjaga khazanah tradisi para raja di Aceh, mungkin kelak di antero Nusantara. | TETI SUNDARI, Kontributor Banda Aceh.

Komentar

Loading...