Imlek dan Tradisi Berbagi kepada yang Terkurung

Imlek dan Tradisi Berbagi kepada yang Terkurung
Ilustrasi melepaskan burung saat Imlek. | Foto: Ist

Pembebasan hewan ke alam liar ini dipercaya untuk melatih diri agar lebih peduli kepada sesama makhluk hidup, tidak hanya kepada manusia.

KBA.ONE, Banda Aceh – Sejak pagi, Sabtu 25 Januari 2020, sosok Roni Kurniawan mencuri perhatian warga yang melintas di Jalan T Panglima Polem, Peunayong, Banda Aceh. Pasalnya, pria 42 tahun ini tampak sibuk menjajakan aneka burung di depan vihara ketika umat Budha tengah merayakan ritual puncak hari raya Imlek.

Ada apa dengan burung-burung itu? Dari mana mendapat ide harus menjual burung di depan vihara? Rupanya, "Peluang itu muncul dari ide teman saya yang dulu juga berjualan di depan vihara ini," cerita Roni yang pagi itu mengenakan sandal jepit, kaos oblong, dan topi pet, kepada KBA.ONE, Sabtu 25 Januari 2020.

Memang, setiap tahunnya, Vihara Dharma Bakti (klenteng) di Jalan Panglima Polem, ini menjadi pusat perayaan tahun baru Imlek di Kota Banda Aceh bagi penganut Budha. Sebab, vihara ini statusnya sebagai vihara tertua, berusia ratusan tahun, dan berdiri kokoh di jantung perekonomian ibu kota Provinsi Aceh, Banda Aceh.

Pada hari suci umat Budha inilah, tak cuma Roni Kurniawan, beberapa penjual burung pipit dan manyar menawarkan bisnisnya kepada pengunjung vihara di Peunayong itu.

Bagi Roni dan teman-temannya, momen ini adalah peluang bisnis musiman yang tak boleh dilewatkan. Tapi, pengakuan Roni Kurniawan, dia berjualan burung tidak hanya pada saat perayaan Imlek saja. “Dalam satu bulan saya ada dua kali berjualan ketika umat Budha melaksanakan ibadah,” jelas Roni. 

Roni (kiri) di depan vihara Japan TP Polem Banda Aceh. | Foto: KBA.ONE, Komar.

Hanya saja, tambah pria yang pagi itu suka menebar senyum kepada warga yang melintas, penjualan saat perayaan Imlek bisa meningkat drastis dibandingkan berjualan pada hari dan bulan-bulan biasa. “Bulan biasa hanya bisa menjual satu keranjang berisi seratus ekor burung pipit dan manyar, tapi saat Imlek penjualannya bisa mencapai dua keranjang,” aku Roni Kurniawan.

Burung-burung itu, seperti jenis pipit dan manyar, didapatkan Roni langsung dari penangkap burung alami, menggunakan jaring, di kawasan Lhoknga, Aceh besar. "Burung-burung ini ditangkap di alam liar, di kawasan persawahan daerah Lhoknga," ungkap Roni.

Dia menambahkan sesekali juga menjajakan burung-burungnya kepada warga yang melintas di depan vihara Panglima Polem.

Soal harga, kata Roni, masih tetap Rp5 ribu per ekornya meski saat suasana hari raya Imlek. Harga itu bertahan dari tahun ke tahun, "paling kalau ada yang minta tiga ribu kita kasih terus, yang penting barangnya habis," imbuh Roni.

Kendati begitu, Roni bisa juga bertahan berjualan hingga tiga tahun meski dia mengeluhkan kondisi sepinya perayaan tahun baru Imlek kali ini di Vihara Dharma Bakti. “Karena sepi, tidak ada yang memborong habis dagangan saya,” keluh Roni.

Menurut dia, ini diakibatkan banyak petinggi keagamaan umat Budha memilih merayakan tahun baru Imlek di luar Aceh,"biasanya para petinggi itulah yang memborong dagangan kami."

Padahal, jika pengunjung vihara membludak di hari Imlek, omset penjualan Roni bisa mencapai Rp1 juta, di atas rata-rata omset pada hari-hari biasa yang hanya berkisar Rp500 ribu.

Bagi Roni, menjual burung di kawasan rumah ibadah umat Budha hanya sebagai pekerjaan selingan karena dia juga merupakan buruh bangunan di kota Banda Aceh.

Berbagi kepada yang terkurung

Mengapa Roni harus berbisnis menjual burung ketika hari raya Imlek dan hari-hari saat umat Budha beribadah? Yanto, Ketua Wihara Buddha Sukyamuni Banda Aceh, kepada KBA.ONE menjelaskan soal filosofi dari pelepasan burung-burung yang dijual Roni dan teman-temannya tersebut.

Katanya, tidak hanya pelepasan burung saja yang dilakukan sebagai tradisi perayaan Imlek, namun pelepasan hewan-hewan lain seperti kura-kura dan ikan pun bisa dijadikan sebagai alternatif lain.

“Pembebasan hewan ke alam liar ini dipercaya untuk melatih diri agar lebih peduli kepada sesama makhluk hidup, tidak hanya kepada manusia. Tradisi ini juga sebagai upaya menjaga keseimbangan alam bebas," jelas Yanto.

Perayaan tahun baru Imlek sendiri, kata Yanto, sama dengan perayaan hari kebebasan untuk makhluk hidup lainnya, "kita juga memberi kebahagian kepada hewan-hewan yang selama ini terkurung," tutur Yanto. | KOMAR, MIRA, Kontributor Banda Aceh.

Komentar

Loading...