Inkubator Bisnis Unsyiah Bina 39 Pengusaha Aceh

Inkubator Bisnis Unsyiah Bina 39 Pengusaha Aceh
Suasana saat bimbingan teknis para pengusaha bimbingan Inkubator Bisnis Unsyiah di Banda Aceh, Rabu 30 Oktober 2019 | Foto: Ulfah

KBA.ONE, Banda Aceh - Berdiri sejak 2013, program pembinaan dan pengembangan tenant (pengusaha) terus dilakukan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh. Sehingga menghasilkan pengusaha yang berkualitas dan dapat bersaing di tingkat regional, nasional, dan internasional.

Manager Inkubator Bisnis Unsyiah, Fitrah Afandi saat diwawancarai KBA.ONE setelah pembukaan secara resmi kegiatan Bimbingan Teknis dengan tema Tenant Start Up Binaan Inkubator Bisnis Unsyiah, di Kyriad Muraya Hotel Aceh, Banda Aceh, Rabu 30 Oktober 2019, mengaku telah membina 39 tenant yang bergerak dalam bidang Agro, "ada manufaktur, Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), dan beberapa macam produk lainnya," katanya.

Fitrah menjelaskan, kegiatan ini bertujuan agar tenant mempersiapkan proposal sebagai acuan untuk menilai layak atau tidaknya tenant  yang dibantu melalui skim-skim yang ada dalam pemerintah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun swasta. Selama ini, pembuatan proposal menjadi salah satu kesulitan yang dialami para pengusaha. Karena pada dasarnya, proposal adalah ujung tombak sebagai penerima pendanaan dari program-program yang ditawarkan oleh funding.

Tim penggerak Inkubator Bisnis Unsyiah bersama para pengusaha binaan Inkubator | Foto: Ulfah

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Inkubator Bisnis Unsyiah, Dr. Alfiansyah Yulianur mengatakan program ini dibuat untuk membina tenant agar bisa berkembang dengan baik, mulai dari perizinan usaha, halal, dan perizinan teknis lainnya. Ia berharap, kedepannya banyak pengusaha muda yang muncul sehingga bisa terjun ke dunia usaha untuk memperbaiki perekonomian masyarakat Aceh.

Ia melihat, di Aceh masih banyak produk-produk yang bersifat tradisional dan memiliki daya tarik yang bagus didunia usaha, seperti sirup Jemblang yang belum terekspos dan pil Binari pernah jaya pada masanya. Menurutnya hal ini terjadi karena mereka tidak didampingi oleh inkubator bisnis, sehingga tetap bersifat tradisional hingga saat ini.

Program ini dibuka tidak dikhususkan untuk mahasiswa saja, tetapi juga untuk masyarakat umum. Selama ini mungkin masyarakat di Aceh, khususnya pengusaha masih belum mengerti dan mengetahui dengan program tersebut, tetapi tim inkubator ini terus melakukan sosialisasi dan pendekatan kepada masyarakat. Sehingga menghasilkan pengusaha-pengusaha Aceh yang berkualitas.

Komentar

Loading...