Inspektur Lilis, Si Jelita Penjaga Tanah Bayu

Inspektur Lilis, Si Jelita Penjaga Tanah Bayu
Inspektur Satu Lilisma Suryani. | Foto: IG

Lilis tipikal pekerja keras dan memiliki kepedulian yang bagus terhadap kesatuan. | AKP Indra, mantan Kasat Reskrim Polres Lhokseumawe

KBA.ONE, Lhokseumawe – Dia perempuan ramah dan gemar berbagi senyum. Penyuka canda meski sesungguhnya pemalu. Naluri keibuan dan jiwa penolong memonopoli karakter polisi wanita satu ini. Juga hatinya; tak “segarang” seragam cokelat yang dikenakan.

Awalnya, polisi bukan impian hidup pemilik tubuh semampai ini. Cita-citanya sejak kecil cuma ingin menjadi bidan. Apa mau dibilang, takdir mengubah jalan pikiran perempuan berdarah Gayo ini. “Saya hampir kabur ketika mengikuti pendidikan polisi,” cerita Inspektur Satu (Iptu) Lilisma Suryani.

Lilisma Suryani adalah Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Syamtalira Bayu. Jabatannya itu baru diemban seumur jagung. Dia perempuan pertama yang menjadi kepala polisi sektor di jajaran Mapolres Kota  Lhokseumawe, Aceh. Tapi, jabatan itu tak lantas bikin ia pongah. “Saya ingin mengabdi untuk masyarakat dan negara,” tekad Lilis, sapaan akrab Lilisma Suryani.

Ketika baru menjabat Kapolsek Syamtalira Bayu, bersama unsur Muspika, Lilis ikut turun ke sawah memotong padi bareng warga saat musim panen tiba. Lilis dan jajarannya ingin memotivasi ekonomi warga di tengah pandemi Covid-19. “Kita mendukung sepenuhnya ketahanan pangan warga,” kata Lilis kepada pers. 

Lilis ketika serah terima jabatan Kapolsek Syamtalira Bayu, Lhokseumawe. | Foto: Ist.

Bagi media pers, Lilis bukanlah wajah baru. Dia acap muncul ke publik lewat media cetak, televisi, radio, dan media situs berita (siber) selama empat tahun menjabat Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (Kanit PPA) Sat Reskrim Polres Lhokseumawe.

Memori Masuk Polisi

Di Markas Polsek Syamtalira Bayu, di pinggiran Kota Petrodolar Lhokseumawe, Kamis 1 Oktober 2020, Lilis menerima wartawan KBA.ONE. Dia bercerita panjang tentang perjalanan hidupnya hingga bergabung di kepolisian setelah kandas jadi bidan. “Dulu juga lulusan Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) di Kutacane, tapi setelah ikut tes bidan di Banda Aceh ternyata gak lulus,” kenang pemilik bintang Pisces kelahiran 6 Maret 1979 ini.

Lilis mengaku sempat putus asa. Lalu ia pulang ke kampung halaman di Kutacane, Aceh Tenggara. Tidak butuh waktu lama, rupanya ada penerimaan menjadi anggota Polri pada 1999. Tanpa pikir panjang, meski tak memiliki garis keturunan keluarga Polri, Lilis tetap ingin mengikuti seleksi bintara polisi.

“Waktu itu udah frustasi karena gak lulus bidan, jadi iseng-iseng tes aja. Awalnya sempat diremehkan karena saat itu belum ada orang Kutacane yang lulus jadi polwan,” cerita Lilis.

Cemoohan itu tak menyurutkan semangat Lilis. Semua dijadikan pembakar semangat hidupnya. Bermodalkan uang Rp1 juta dari ayahnya, Ahmad, seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS), Lilis berangkat seorang diri ke Banda Aceh untuk mengikuti tes polisi.

Kamijah, ibu Lilis, ikut memberi dukungan kepada anak gadis satu-satunya ini. Ketika itu, kuota polwan yang diterima di Aceh hanya tujuh orang dari jumlah pendaftar 30 orang. Namun, dia tetap optimis mengikuti seleksi tersebut.

Uniknya saat mengikuti tes bintara, Lilis sempat nekat membobol rumah keponakannya. Ceritanya, saat hadir ke Polda Aceh, seluruh calon siswa wanita diharuskan memakai rok pendek berwarna hitam, sementara gadis tomboy satu ini malah menggunakan celana panjang.

“Waktu itu dimarahin sama polwan di Polda Aceh, sampai disuruh pulang untuk ganti. Mana handphone gak  punya, nomor telepon ponakan gak tau, dan gak punya uang juga. Sempat mau naik labi-labi (angkot), tapi gak jadi karena gak bawa uang,” ujarnya.

Untung ada seorang teman berbaik hati mengantarkan Lilis ke rumah ponakannya untuk ganti pakaian. Namun, setiba di rumah, keponakannya tidak berada di rumah dan pintu dalam keadaan terkunci. Akhirnya Lilis dan teman prianya itu nekat membobol pintu rumah  menggunakan batu.

“Saya tulis permintaan maaf di kertas karena udah bobol rumahnya, terus ditempel di pintu, soalnya sudah panik,” cerita Lilis mengenang kisah lalunya.

Setelah lulus menjadi polisi, Lilis mulai menjalani kehidupan sulit dan keras saat pendidikan. Dia sempat ingin pulang karena tidak sanggup mengikuti basis yang akan dijalani selama delapan bulan itu. Untung seniornya terus memberi dukungan bahwa warga Aceh pasti bisa.

“Saat perdana itu sudah disuruh jungkir balik, merayap dan merayap punggung. Kita, ya, terkejut, sampai pengen berhenti dan mau pulang aja. Tapi sudah dikasih support, orang lain bisa kenapa kita tidak,” katanya.

Setelah selesai pendidikan dan pelantikan, Lilis kembali ke Kutacane dan berdinas di kota kemiri itu selama satu tahun. Lalu, pada 2002, ia pindah ke Bid Dokkes Polda Aceh. Pada 2009, Lilis dimutasi ke Polres Lhokseumawe ditempatkan sebagai staf narkoba.

Saat berada di Polda Aceh, perempuan pemilik tahi lalat di hidung ini sempat menggemari olahraga menembak. Dia dan seorang letting-nya bergabung ke Perbakin Aceh dan belajar menembak menggunakan senjata laras panjang. Walaupun berasal dari kepolisian, Lilis mengaku kesulitan menembak dengan senapan karena terbiasa dilatih menggunakan pistol revolver.

Namun, berkat bimbingan Mohsa El Ramadan, waktu itu Wakil Ketua Umum Perbakin Aceh, Lilis mampu mengikuti kegiatan tersebut. Bahkan, ia sempat mengikuti turnamen ke berbagai daerah walau belum pernah mendapat peringkat tertinggi.

“Nilai saya menembak saat itu sering rendah, gak pernah menang. Tapi karena Bang Ramadan ini bisa merangkul kami semua dan terus memberi motivasi, kami tetap semangat,” kenang Lilis sembari tersenyum.

Saat dimutasi ke Polres Lhokseumawe, Lilis pun harus menggantung senjata laras panjangnya. Selain harus meninggalkan rekan-rekannya di Banda Aceh, dia juga nyaris tidak memiliki waktu luang untuk berlatih.

“Di bagian narkoba itu kami mulai sering turun ke lapangan, apalagi saat ada penangkapan atau razia. Ketika ada terduga wanita maka yang periksa, ya, polwan,” jelas Lilis.

Pada 2015, Lilis mencoba naik jenjang mengikuti seleksi Sekolah Pembentukan Perwira (Setukpa).  Motivasinya kala itu ia ingin menjadi pemimpin dan bisa membanggakan kampung halaman. Saat itu belum ada polwan asal Kutacane yang menjadi perwira, bahkan angkatan Sepolwan Dua Tiga (SPDT) asal Aceh yang hanya berjumlah tujuh orang, belum ada yang menjadi perwira saat itu.

Iptu Lilisma Suryani, Kapolsek Syamtalira Bayu. | Foto: Try Vanny.

Setelah mengikuti seleksi yang lebih selektif dibandingkan masa bintara, akhirnya Lilis lulus dan menjalani pendidikan pada 2015 sebagai seorang perwira. Karakternya dibentuk untuk menjadi seorang pemimpin dan terus dibekali ilmu selama masa pendidikan.

“Dari letting SPDT Aceh, yang lulus jadi perwira cuma dua orang. Kalau yang lain sekarang pangkatnya aiptu, ini juga menjadi kebanggaan tersendiri apa lagi saat pulang dan memakai seragam,” katanya.

Awal 2016, anak sulung dari empat bersaudara ini dipercaya menjadi Kanit PPA Polres Lhokseumawe untuk menangani berbagai macam kasus. Batin Lilis seolah menjerit saat menduduki jabatan ini. Dia menangani kasus-kasus berat yang dihadapi oleh perempuan dan anak.

Selama empat tahun di Unit PPA, kasus terbesar yang pernah ditangani lulusan sarjana hukum Universitas Abdulyatama Aceh ini adalah perkara pencabulan oleh pimpinan dayah kepada santrinya. Saat itu dia mengaku terkejut ketika rumah pendidikan agama dinodai oleh perbuatan keji oknum tersebut.

“Saat itu masa Kasat Reskrim AKP Indra Trinugraha Herlambang, kami sampai mendapatkan penghargaan karena berhasil mengungkapkan kasus itu. Memang untuk menguak kejahatan itu, tim kami butuh tenaga ekstra karena memang berat,” pungkasnya.

Memiliki Dedikasi Tinggi

Di mata AKP Indra Trinugraha Herlambang , mantan Kasat Reskrim Polres Lhokseumawe, kini Komandan Kompi Taruna Akademi Kepolisian,  Lilis merupakan sosok perwira yang baik dan memiliki dedikasi tinggi. “Dia tipikal pekerja keras dan memiliki kepedulian yang bagus terhadap kesatuan,” tegas Indra kepada KBA.ONE.

Selama dipimpin Lilis, sambung Indra, Unit PPA mengalami kemajuan pesat dari segi prestasi maupun pelayanan. Banyak kasus-kasus besar yang bisa diungkapkan seperti eksploitasi anak serta pelecehan seksual di pesantren. Efek sosialnya dapat dilakukan secara kondusif.

”Pesan saya kepada Bu Lilis agar tidak bosan untuk belajar, meningkatkan kemampuan dan bekerja keras meningkatkan prestasi. Jadilah bermanfaat bagi masyarakat di Syamtalira Bayu, khususnya dan secara umum di Kota Lhokseumawe yang saya cintai,” kata  Indra.

Hal senada diungkapkan Syifa, Ketua Pusat Perlayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Cabang Lhokseumawe. Menurut Syifa, Lilis merupakan sosok yang koperatif dan responsif. “Bu Lilis sangat mudah diajak untuk kerjasama. Tidak segan menghubungi kami langsung, tidak mesti kami yang hubungi dia atau penyidiknya. Saat ada pertemuan, beliau juga aktif hadir serta memberikan masukan,” kata Syifa.

Jabatan Kapolsek Syamtalira Bayu ini juga membawa angin segar dan kebanggaan bagi Syifa. Sebab, apabila ke depannya ada kasus di wilayah Bayu maka kapolsek akan lebih memahami langkah apa yang harus diambil.

“Semoga dengan adanya kapolsek wanita bisa menekan angka kekerasan terhadap perempuan dan pelecehan seksual kepada anak. Pengalaman Bu Lilis di bagian ini sudah tidak perlu kita ragukan lagi,” tegas Syifa.

Bagi Lilis, wilayah Syamtalira Bayu memiliki masalah tersendiri yang harus diselesaikannya. Permasalahan tapal batas antardesa, misalnya, atau banyaknya jalur tikus yang kerap dijadikan lokasi transaksi narkoba. Ini menjadi tugas besar yang harus diselesaikan oleh Lilis. Ia optimis program dan inovasinya nanti tidak kalah menarik dengan wilayah lain yang dipimpin oleh polisi. 

Lilis. | Foto: IG.

Meski, kata Lilis, awal dia bertugas, pertengahan Agustus 2020,  para aparatur desa di Syamtalira Bayu tampak bingung. Bagaimana berkoordinasi dengan kapolsek karena seorang perempuan. Warga segan untuk menghubungi atau mengundang kapolsek ke acara tertentu, terlebih di malam hari.

“Tapi sudah saya tekankan, kalau soal tugas, wanita dan pria itu tidak ada perbedaan. Jadi, untuk kordinasi tugas, silahkan menghubungi saya kapanpun. Saya siap demi kepentingan masyarakat dan penegakan hukum,” tegas Lilis.

Ya. Kini, Kecamatan Syamtalira Bayu menorehkan sejarah baru di Kota Lhokseumawe karena memiliki kapolsek perempuan pertama di wilayah itu. Semoga Tanah Bayu selalu aman dan kondusif selama Si Jelita memegang tampuk tertinggi sebagai kepala polisi sektor yang humanis dan dinamis! ***

Komentar

Loading...