Internasional Free Diving 2019 di Sabang Nyaris Makan Korban

Oleh ,
Internasional Free Diving 2019 di Sabang Nyaris Makan Korban
Salah seorang peserta Free Diving 2019 | Foto: Ist

KBA.ONE, Sabang - Event Internasional Free Diving 2019, di Kota Sabang nyaris memakan korban. Diketahui seorang atlet asal Francis, Andriy Khvetkevych, 26 tahun, nyaris menjadi korban di event Internasional Free Diving 2019 setelah mengalami dekompresi saat melakukan penyelaman dibawah laut Teluk Balohan, sekitar pukul 07.30 WIB, Sabtu 2 November 2019.

Menurut sejumlah sumber yang diterima Wartawan, Andriy Khvetkevych dilarikan ke General Hospital Singapura menggunakan pesawat khusus. Kejadian yang dialami korban saat itu sempat membuat panik pihak panitia pelaksana, dimana kejadian tersebut terjadi diluar dugaan.

Nyawa korban dapat diselamatkan dengan datangnya pesawat milik Unscheduled operator PT. TRI-MG Intra Asia Airlines, Type Hawker 800 XP No. Reg : PK-YGR yang membawa korban ke Singapura untuk diberi menyelamatan utama dimasukan ke chamber (chamber decompression).

Pesawat membawa dua orang penumpang yaitu, dr. Naufal Anasi dan salah seorang perawat Aisyah Basri Hamid. Sepanjang penerbangan, korban mendapat pendampingan dan perawatan khusus selama hampir dua jam lebih. Sebelumnya pesawat tersebut sempat mendarat di Bandara Kualanamu, Sumatera Utara untuk melakukan pengisian bahan bakar, selanjutnya kembali mengudara menuju Singapura.

Setibanya, korban di Bandara Internasional Changi Air Port, Singapura, korban langsung dilarikan ke General Hospital Singapura untuk mendapat perawatan khusus chamber.

Akibat dari kejadian tersebut, muncul beragam tudingan, event Internasional Free Diving 2019 terkesan dipaksakan tanpa memperhatikan keselamatan para atlet yang diikuti 40 atlet diving dari 19 negara.

Seperti diketahui, event Internasional Free Diving ini digelar mulai 2 sampai 7 November 2019 yang pelaksananya dari Kementerian Pariwisata bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Provinsi Aceh, dan event tersebut sudah menjadi kegiatan kelender tahunan di Sabang.

Berdasarkan informasi yang didapatkan, biasanya kondisi dekompresi ini terjadi akibat penyelam yang melanggar atau terlalu dekat pada batasan Diving table. Diving table adalah tabel yang digunakan untuk menghitung sisa nitrogen yang ada dalam tubuh anda pada saat dan setelah anda melakukan penyelaman.

Gelembung yang terbentuk didalam atau di dekat sendi merupakan penyebab terduga munculnya rasa nyeri otot. Saat gelembungnya terlalu banyak, reaksi kompleks dapat terjadi di tubuh, biasanya di tulang punggung atau otak. Mati rasa, lumpuh dan gangguan fungsi otak juga bisa terjadi.

Namun apabila sejumlah besar dekompresi terlewati dan gelembung masuk ke aliran darah pembuluh vena, gejala kongestif di paru-paru dan syok sirkulasi dapat terjadi. Pada kondisi ini, penyelam bisa jadi pingsan dan apabila tak segera ditangani dapat berujung kematian.

Dekompresi dapat terjadi tak diduga dan acak. Faktor utamanya adalah penurunan ambien tekanan. Namun ada faktor risiko lain yang diketahui seperti penyelaman dalam atau panjang, air dingin, latihan keras di kedalaman dan terlalu cepat naik ke permukaan.

"Faktor-faktor lainnya yang diduga dapat meningkatkan risiko dekompresi namun belum cukup banyak bukti adalah obesitas, dehidrasi, latihan keras usai naik ke permukaan, dan penyakit pernapasan. Ditambah adanya faktor risiko individual, yang menyebabkan beberapa penyelam bisa mengalaminya lebih sering ketimbang yang lain padahal mereka mengikuti pelatihan selam yang sama," tulis situs Divers Alert.

Komentar

Loading...